Ads Top

Reportase Bangjoku

LP/Jan18/#35/Keposan/Bangjoku
Tiga ratus meter ke arah selatan dari tugu kebanggaan Kebumen Beriman Likuran Paseduluran episode ke 35 membaur bersama teman-teman dan warga Kelurahan Kebumen. Balai Kelurahan Kebumen tempat yang luas dan nyaman, Sabtu 24 Februari 2018 berpuluh-puluh lembar tikar terhampar hampir menutup seluruh lantai. 2 jam setelah matahari tenggelam awan masih mengirimkan titik-titik air ke bumi menjadikan basah dan dingin, namun menentramkan.
Lalu lalang kendaraan di jalan Pemuda Kebumen tak henti hilir mudik bergantian, salah satu jalan terpadat di Kebumen. Gelas-gelas plastik mengepulkan uap air dari kopi dan teh panas yang telah disediakan teman-teman Keposan. Menghangatkan dan menyegarkan malam yang cukup membuat jaket direkatkan lebih dekat. Berduyun-duyun ibu-ibu datang mendekat, sembari mengambil gelas plastik di pintu masuk balai kelurahan. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di Likuran-likuran sebelumnya.
Puluhan anak kecil dengan kaos yang berbagai macam warna turut serta menceriakan Likuran Paseduluran yang mengambil tema Bangjoku (Abang Ijo Kuning). Beranjak 3 menit dari pukul 20. 00 Likuran Paseduluran dibuka dengan bacaan al Quran, sekitar 10 menit berlalu Indonesia Raya berkumandang lalu disusul suara genderang dan simbal mengawali barongsai yang muncul. Kerlap-kerlip mata barongsai berwarna merah beriringan dengan gerakan sepasang pemain yang meloncat kanan kiri dan melompat tinggi mengikuti tabuhan genderang yang cukup membuat suasana bergairah. Tepuk tangan riuh rendah mengiringi gerakan gemulai barongsai, sebuah suasana yang pas dan cukup dekat dengan tahun baru China.
Sang Kyai sebuah grup band dengan aliran ethnic progresive rock turut memberi andil dalam membuka acara. Menggebrak dengan lagu-lagu rock yang dipadu dengan iringan gamelan membuat tepuk tangan tak bisa diam terlalu lama. Teman-teman Banser yang menjaga lingkungan sesekali ikut mengentakkan kaki dan kepala mengikuti alunan suara musik yang terasa baru. Hujan dan mendung yang masih bergayut tak meluruhkan semangat yang hadir menikmati 3 buah lagu dari sang Kyai.
Berturut-turut terparkir mobil dari Polsek Kota Kebumen, PAC Gerakan Pemuda Anshor, dan mobil-mobil yang membawa tamu undangan untuk berkumpul melingkar di Likuran Paseduluran. Saling berjabat dengan lekat, kemudian tersenyum dan sedikit bercanda adalah pemandangan yang lazim ditemui malam itu. Segera setelah sang kyai menyelesaikan lagu ketiga, kang Icang memulai likuran paseduluran malam itu dengan mukadimah pengenalan apa itu likuran paseduluran, bagaimana awalnya, dan apa saja yang telah dijalani selama ini.
Pengenalan yang cukup singkat mungkin sebagian masih belum paham apa dan seperti apa Likuran Paseduluran itu. Namun ada pancaran semangat baru yang merasuki dada penggiat Likuran Paseduluran karena malam itu begitu banyak yang hadir, meskipun hujan masih terlihat meneteskan semangatnya. Gending Bodo yang setia mendampingi Likuran Paseduluran dimanapun membuat paduan suara menggema dengan lagu dolanan mulai gundhul-gundhul pacul hingga padhang wulan. Lagu yang membawa semua yang hadir kembali ke memori masa kecil, sedangkan bagi yang generasi milenial adalah lagu yang mereka berusaha membayangkan bagaimana isi lagu-lagu tersebut.
Sambutan dari Camat Kebumen sangat mengapresiasi kegiatan Likuran Paseduluran yang menunjukkan bagaimana Bangjoku menjadi simbol bahwa pepatah jawa yang berbunyi Rukun Agawe Santosa benar-benar terlihat, bagaimana yang berkumpul malam itu adalah berbagai macam agama, umur, dan unsur. Semuanya berusaha mengais kebaikan dari acara yang berlangsung. Hal tersebut diamini oleh Kapolsek Kota Kebumen, yang menyebutkan Likuran Paseduluran adalah intepretasi dari keserasian Kebumen, berbagai macam warna yang berpadu menghasilkan jagongan yang santai namun berkesan dan mencerahkan.
Selain banyaknya ibu-ibu dan anak-anak yang hadir di lingkungan sekitar Balai Kelurahan Kebumen, dari Klenteng Kong Hwie Kiong Kebumen juga turut serta hadir memberikan pencerahan yang diwakili oleh pendeta Bobid. Beliau berpesan Likuran Paseduluran adalah hal yang kecil dari Kebumen, namun jika dilakukan terus menerus akan berkembang berbunga bahkan berbuah menjadi sebuah bagian baru yang besar. Warna yang ada seperti bangjoku adalah hanya pembungkus sukma, kita bisa menjadi merah, hijau, biru, putih, hitam, maupun warna yang lain, jadikan itu sebagai manfaat yang bisa memberi kebaikan tanpa diskriminasi. Kebaikan adalah hal yang ditanamkan dari kecil dengan pemberian contoh budi pekerti. Sehingga kebaikan akan menjadi keseharian dan tanpa sadar dilakukan dengan tanpa melihat latar belakang, tanpa perlu dilihat orang. Kebaikan adalah integritas dari kehidupan yang memang menjadi landasan diri.
Nuansa bangjoku juga terlihat dari sajian yang dihidangkan teman-teman Keposan dukuh dimana lokasi balai Kelurahan Kebumen berada, berbagai macam jajan pasar dengan warna yang menarik tertata apik pada tampah yang diberikan dasar daun pisang. Buah-buahan mulai dari duku, rambutan, salak, hingga pisang juga menggunung mengisi tenong. Benar-benar hidangan yang cukup menggoda air liur untuk berkumpul di sela-sela lidah.
Bangjoku dalam konsep nasional adalah kebhinekaan. Kebhinekaan bukanlah pilihan, perbedaan ada semenjak manusia belum ada. Perbedaan adalah inisiasi langsung dari Tuhan tanpa melalui perantara, semuanya diciptakan berbeda agar tak ada keseragaman yang membingungkan. Perbedaan adalah sarana belajar bersama untuk tumbuh dan berkembang dalam nuansa persatuan. Tak heran jika Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa menjadi slogan Indonesia yang memang membutuhkan perbedaan untuk terus bangkit dan maju. Demikian disampaikan Romo Yotam dari Gereja Isa Al Masih Kebumen.
Hujan masih saja menemani namun dengan intensitas kecil, untuk mencairkan suasana Sang Kyai kembali didaulat membawakan lagu, kali ini lagu dari janengan dibawakan dengan cara yang Rock. Puluhan handphone diangkat bersamaan lagu yang dibawakan. Berebut mengabadikan lagu yang dibawakan oleh duet vokalis. Hebatnya vokalis sang kyai adalah pasangan suami istri, keduanya memiliki suara yang sama-sama cukup bisa menyihir hadirin untuk tak beranjak dari Likuran Paseduluran meskipun malam sudah semakin beranjak larut. Grup yang dikomandani mbah Jenggot dari Taman Winangun ini, ternyata terbentuk saat Ramadhan 1437 Hijriah. Dibentuk sebagai sarana mengumpulkan warga agar berkenan memberikan Infak untuk pembangunan masjid di wilayahnya sebuah hal yang tentu saja luar biasa yang dibangun dari kesederhanaan.
Serupa dengan yang disampaikan oleh Romo Yotam, dari Gerakan Pemuda Ansor juga menegaskan hal tersebut dan mengajak agar Likuran Paseduluran bisa menjadi virus yang segera menjalar dan mengakar kuat di lingkungan kabupaten Kebumen yang Bersih Indah Manfaat Aman dan Nyaman. Setelahnya Babeh Mardiadi dari Logandu mengungkapkan unek-uneknya. Beliau bercerita bahwa di desa budaya ngendong sudah mulai hilang ditelan televisi. Sehingga banyak sekali saudara yang kepaten obor tidak tahu bahwa satu sama lain masih satu keturunan. Hilangnya endhong-endhongan juga berpengaruh pada sulitnya memahami satu sama lain karena minimnya komunikasi. Dari desa penghasil Tembakau Grade A di Kebumen ini, beliau menuturkan bahwa jagongan seperti Likuran Paseduluran adalah sarana belajar harmonisasi seperti gamelan yang ditabuh bersamaan tidak ada yang sama suaranya namun padu dan selaras sesuai tugas masing-masing.
Kang Zen juga turut menyumbangkan puisi dengan melodisasi, dibawakan dengan cukup kocak membuat tepukan dan sorakan bergemuruh. Selesai kang Zen membawakan puisi tanpa jeda Gending Bodo menyambut dengan Bang-bang Wetan yang penuh dengan optimisme bahwa akan ada fajar yang mengganti malam.
Diskusi masih berlanjut meskipun malam telah melewati garis tengahnya, Kang Mundir Hasan mengkiaskan bahwa Bangjoku adalah lampu lalu lintas lambang peraturan yang tidak perlu ditegaskan. Bisa mengatur meskipun tanpa pengawasan, selalu setia memberikan tanda tanpa harus melihat ada maupun tidak yang melintas. Jangan sampai kita terpolitisasi dengan warna, saat kita menyukai warna tertentu pastikan kita tidak menjadi buta warna. Tindakan tersebut hanyalah sebuah egoisme yang tak perlu ditonjolkan. Bahkan saat kita melihat kejadian-kejadian di Pemerintah Kabupaten Kebumen belakangan, adalah efek bagaimana mereka tidak mengindahkan rambu-rambu yang mana hijau, mana kuning, dan mana merah. Namun jangan jadikan hal itu alasan kemunduran, namun jadikan batu loncatan sebagai akslerasi untuk Kebumen yang Mandiri.
Tuhan tidak pernah menjadikan kita sama, karena tidak akan pernah saling mengenal jika satu sama lain sama, bahkan produksi masal melalui teknologi terkini yang terlihat samapun setiap produk pasti berbeda dengan nomor seri yang berlainan. Sehingga tak bisa dipungkiri bahwa Manusia adalah zoon politicon makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Keutuhan manusia akan tercapai apabila manusia sanggup menyelaraskan perannya sebagai makhluk ekonomi dan sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi membutuhkan manusia lain dalam beberapa hal tertentu. Misalnya, dalam lingkungan manusia terkecil yaitu keluarga. Dalam keluarga, seorang bayi membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya agar dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan sehat. Karena manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Bahkan manusia tidak pernah bisa menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial. Jadi apalagi yang kita perlukan melainkan semangat Bangjoku untuk membangun diri dan membangun negeri. Begitulah Kang Zaini memberikan gambaran tentang bangjoku. Lulusan al Azhar Kairo Mesir yang juga inisiator kegiatan sosial di lingkungan Kelurahan Kebumen ini bersama teman-teman Keposan saling bahu membahu menggerakkan dan berhasil mengubah citra Keposan dari Las Vegas-nya Kebumen menjadi pusat kuliner Kebumen dan bergerak menjadikan nuansa yang lebih positif.
Lagu Ya lal Wathon menyeruak sesaat sebelum Likuran Paseduluran berakhir, dilanjutkan dengan Sang Pencerah. Dua lagu yang identik dengan 2 organisasi ke-Islaman di Indonesia bergantian dibawakan. Sesaat Kang Darwis yang putra Muhammadiyah merentangkan tangan disambut pelukan dari Kang Zen yang berkultur Nahdhatul Ulama, suasana tiba-tiba senyap karena keduanya meneteskan air mata dan haru menyergap hadirin yang masih bertahan, lalu tepuk tangan yang panjang mengiringi pelukan keduanya.
Yang hadir kemudian membentuk lingkaran, saling rangkul dan penuh penghayatan membawakan Sholawat Ya Robbi bil Mustofa, banyak yang dengan berkaca-kaca melantunkan dan meresapi sholawat ini. Doa penutup dari Gus Dian mengakhiri acara resmi. Dari simpul Maiyah Kebumen malam itu kami semua belajar bahwa Sejuta Pro tidak menggerakkan, Sejuta Kontra tidak menghentikan, karena kita harus berhimpun dan menyatakan bahwa Bangjoku adalah landasan.

--- Mahdi Fathurrahman ---

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.