Ads Top

Prasasti dan Dinasti

Ciri masyarakat tradisional diantaranya adanya kepatuhan terhadap suatu figur tokoh, pengakuan atas sebuah kesepakatan dan lekatnya kebiasaan yang berkembang secara turun-temurun. Ketakutan akan azab atau petaka atas pengingkaran sebuah tradisi semakin mengukuhkan keberadaan tradisi dan kebiasaan suatu kelompok masyarakat. Kekuatan kebersamaan dalam membangun sebuah komitmen bersama menjadi benteng dalam mempertahankan keberadaan tradisi ini, yang kemudian dikemas dalam suatu rumpun dinasti dengan strata yang berbeda-beda. Kekuatan dinasti inilah yang kemudian mengukuhkan aturan dan norma yang berlaku dalam satu silsilah yang dapat tumbuh menjadi kekuatan besar. Sejarah mencatat raja-raja yang berkuasa di tanah jawa dapat melakukan ekspansi ke wilayah lain dengan menggunakan kekuatan dinasti yang dipimpinnya. Bahkan Dinasty Ming di Cina, mampu menaklukkan Negara lain seperti daratan Kore dan Birma. Di India kuno, dinasti Suryawangsa menjadi dynasty paling lama berkuasa sampai berdirinya Magadha dengan Ayodya sebagai ibukotanya.

Begitu pula dinasti Wangsa Sanjaya dan Sailendra yang berkuasa di kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang kemudian dapat menguasai tanah Jawa dan melahirkan dinasti-dinasti baru.

Itulah budaya, hasil budi dan daya manusia sebagai bentuk pengakuan dzat maha tinggi, Syang Yang Wisesa. Mengakar, membumi bak seperti prasasti (pujian) yang tak lekang akan zaman. Prasasti adalah sebuah bukti adanya pergerakan peradaman zaman di masa lampau. Sejarah adalah sebuah kisah peradaban yang tidak bisa dihapus dan sekaligus tidak bisa diulang. Tapi sejarah dan tradisi perlu dikelola sebagai media pijakan peradaban berikutnya.  Kebiasaan turun temurun dalam satu kelompok masyarakat dan sudah diakui keberadaan serta kebenarannya akan sangat sulit menerima peradaban baru. Butuh waktu dan pembuktian munculnya peradaban baru agar dapat diterima oleh kelompok masyarakat. Bisa menggeser, mengganti atau berasimilasi antara tradisi baru dan tradisi lama. Namun tidak ada satu peradabanpun yang bisa menggantikan peradaban lama atau menggantikannya. Peradaban baru sesungguhnya hanya meneruskan tradisi lama untuk masuk ke zona baru, sesuai dengan kultur dan tuntutan zaman.

Pemaksaan akan perubahan terhadap peradaban baru berpotensi menimbulkan konflik.  

Sejarah mencatat perubahan sampai yang menyebabkan runtuhnya sebuah dinasti banyak diwarnai dengan gejolak, akibat adanya penolakan dan pemaksaan serta adanya sikap intoleransi dalam  mewujudkan suatu ambisi. Proses akulturasi barangkali menjadi cara bijak bagaimana mereprentasikan kepentingan beberapa generasi dan peradaban tanpa harus saling “membunuh” tetapi harus saling menguatkan dan menyuburkan, bersinergi atau “brayan” karena pada akhir dari semua periode peradaban pasti menorehkan sebuah prasasti. Termasuk peradaban dalam kehidupan yang juga pasti akan menghasilkan prasasti, batu nisan. Namun sebaik-baiknya prasasti adalah amal sholeh dan kebaikan selama menjalani fase peradaban, bukan karena pemenangan atau mengalahkan.  Yang muda harus bisa menghormati yang tua, yang tua bisa mengayomi dan menyayangi yang muda, itulah arti kemenangan sejatinya.



Penulis: Suratno


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.