Ads Top

Paseduluran Hutan Rimba

Ada beberapa jenis orang yang berpikir bahwa dia bisa dan sanggup mengatasi permasalahan hidupnya sendiri. Survive merupakan hal yang wajib dan pasti dialami. Disetiap langkah kemajuan waktu, survive juga berubah menyesuaikan perbuatan manusianya.

Hutan dengan segala keindahan yang di tampakkan, menyimpan sejuta misteri peradaban. Peng-anggap-an selama ini tentang manusia nomaden, primitif, dan suku anak dalam termasuk di dalamnya. Pohon nan menjulang tinggi dengan akar sampai ke perut bumi pertiwi menandakan bahwa sudah terlalu lama dan dalamnya pengalaman bagian bawah pohon melewati jalur kehidupan ini. Yang membuatnya susah goyah bahkan rubuh.

Belajar dari situ, rantai kehidupan sudah benar-benar nyata terjadi di alam raya hutan rimba. Sekelompok hewan kecil di makan oleh hewan yang lebih besar. Tikus hutan termakan ular, ular termakan buaya, buaya bertarung dengan singa, hingga singa yang tidak makan rumput harus mati kelaparan tanpa mangsa dan di lumuri cacing rayap. Sementara, bunga-bunga tumbuh bermekaran dihisap madunya oleh lebah sambil membawa sari-sari bunga untuk saling silang menuju perkawinan bunga.

Tuhan dengan segala ke-Maha-annya begitu hebat menciptakan rantai kehidupan hutan. Begitu rapi dan apik. Mengajari bahwa hidup ini adalah survive. Bukan mencari siapa yang lemah untuk di tindas, siapa yang berkuasa menguasai, tapi saling melengkapi sebagai sunnatulloh.

Semua makhluknya Allah tidak memiliki kemampuan untuk menolak sunnatulloh. Air hujan tidak berkepentingan untuk tidak turun kalau tidak diperintah. Seekor ayam tidak bisa menghindari dari penyembelehan yang dilakukan manusia setiap hari. Tapi dari semua makhlukNya, hanya manusia yang diberi kemampuan untuk melakukan atau menolaknya. Termasuk ibadah.

Silang yang seolah sengkarut ini ternyata tertata rapi menuju persatuan dan kesatuan. Satu membatu kehidupan yang lain, dan yang lain rela berkorban untuk yang lainnya, sementara yang belum melakukan apa-apa, melengkapi keindahan.

Kenapa begitu? Ya, karna ada rasa paseduluran batin yang oleh manusia tidak diketahui. Ada semacam skenario pembunuhan kakak beradik yang melihat burung gagak menguburkan jasad burung gagak yang sudah mati. Itu semua supaya manusia berpikir bahwa hidup ini saling belajar, kepada siapapun dan apapun. Tidak lain dan tidak bukan, untuk persatuan dan kesatuan.

Penulis: mubaedi

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.