Ads Top

Literasi

Literasi bisa saja menjadi ujung tombak bagi muara sungai ilmu. Terutama ilmu formal, yang sering kita tahu dari sekolah-sekolah pada umumnya. Penerapan budaya ini atau alamiahnya harus di dorong dengan fasilitator yang memadai. Posisinya bukan sebagai pendoktrin ilmu, melainkan hanya memfasilitasi seorang anak dalam mencari ilmunya.

Saya punya anak didik yang setara dengan kelas 4 SD. Secara sekilas nampak seperti anak pada umunya, namun ada hal yang membuatnya lebih lambat dibanding teman-teman sebayanya. Diajak ngobrol membutuhkan waktu yang lama untuk bisa nyambung dengannya. Diberi pertanyaan, ciri khasnya pura-pura berpikir dengan memainkan jarinya di pipi. Padahal seharusnya di kepala, bukan di pipi. Dan masih banyak kelucuan yang terpancar darinya yang tidak dimiliki temannya.

Suatu saat saat istirahat, saya iseng-iseng mendekatinya dengan maksud melihat sedang apa sih dia. Dan luar biasa, dia sedang menggambar peta dunia kumplit dengan nama masing-masing bagiannya beserta cuaca dan keadaan di suatu wilayah. Saat saya mencoba menanyakan salah satu daerah yang dia gambar, dia langsung bisa menebak nama daerahnya beserta iklim, budaya dan kondisi tanah daerah situ.

Bagaimana sekolahan pada umumnya memfasilitasi anak tersebut? Haruskah ia belajar matematika yang sangat membingungkannya, atau bahasa inggris yang notabene bukan bahasa kesehariannya. Atau mungkin cabang ilmu yang diterapkan pada sekolahan pada umumnya. Atau mentok harus bercampur dengan anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa di sekolah luar biasa?

Literasi ini harusnya tidak hanya dimiliki oleh anak, tetapi lebih wajib pada orang yang lebih tua. Kemampuan dasar dalam literisi juga sudah ada dalam agama Islam, kaum muslim biasa menyebutnya dengan kata iqro’


penulis : Mubaedi

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.