Ads Top

Siapa yang Kafir?

Dalam catatan sejarah manusia mencatat bahwa Rasulullah SAW dihadirkan di muka bumi ini untuk menyempurnakan peradaban manusia sejak zaman Nabi Adam. Bahkan sebelum Rasulullah membawa wahyu Alqur'an, sebelumnya telah ada nabi-nabi pembawa wahyu Allah dengan kitabnya masing-masing, seperti kitab Taurat oleh Nabi Musa a.s, kitab Zabur oleh Nabi Daud a.s, kitab Injil oleh nabi Isa, a.s dan baru kitab Alqur'an oleh Nabi Muhammad SAW.

Berbeda dengan Alqur'an, kitab-kitab sebelumnya memiliki jangkauan yang sempit, hanya ditujukan bagi kaum Bani Israil, hanya Alqur'an yang ditujukan bagi semua umat manusia.

Dilihat dari letak geografis dan peruntukannya, wajar jika ketiga kitab tersebut tidak begitu dikenal oleh masyarakat luas. Apalagi sebelum ada kitab turun, peradaban manusia, termasuk jauh sebelum nenek moyang kita lahir, tentu belum mengenal ajaran apapun. Kalaupun ada kitab yang mengatur kehidupan manusia, tentu belum sampai ke penjuru dunia dan lapisan masyarakat termasuk di Indonesia.

Lantas, apa yang menjadi panutan manusia kala itu sebelum mereka mengenal agama? Ternyata manusia sudah melakukan berbagai upaya untuk dapat mendekatkan diri dengan ruh dan penciptanya. Maka berkembanglah aliran animisme, dan dinamisme, suatu kepercayaan akan kebendaan dan roh. Paham animisme dan dinamisme tak ubahnya sebuah pola/ model bagaimana manusia membangun komunikasi dengan penciptanya, dengan berbagai istilah seperti Sang Yang Wenang, Sang Yang Widi, Sang Yang Wisesa, Sang Yang Widi, Gusti Allah, Gusti Maha Agung dan berbagai istilah lain, tetapi prinsipnya sebutan ini memiliki pemaknaan yang sama, memuja sesuatu yang diagungkan.

Orang-orang yang lahir pasca turunnya Alqur'an, merasa paham tentang Islam ada yang menyebutnya masyarakat yang menganut paham tersebut dikenal sebagai Atheis, paham tak mengenal Tuhan. Ya memang manusia kala itu belum mengenal Tuhan, dan belum tahu cara mengenalnya, tetapi mereka sudah memiliki pola pemujaan. Apakah masyarakat yang demikian bisa dibilang kafir? Jika mereka kafir, tentu nenek moyang kita juga kafir, dan harus diakui bahwa kita juga keturunan orang kafir?

Apalagi sebelum ada ajaran agama, sebelum kitab turun, diantara kitab yang sudah ada saja memberikan pemahaman dan penafsiran yang berbeda bagi umatnya. Wajar saja jika manusia mempunyai penalaran dan pemahaman yang berbeda. Itulah sebabnya muncul berbagai agama dan aliran. Namun jika ditelaah lebih lanjut, banyak kemiripan pola dan istilah dalam agama yang berkembang saat ini. Itu membuktikan bahwa pada mulanya, semua berasal dari sumber dan tujuan yang sama. Yang terpenting tidak saling menyalahkan dan menyimpulkan kafir seseorang.


penulis : Suratno

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.