Ads Top

Sekadar Dolanan

    Yang terulas di sekitar pikiran kita mengenai dolanan, yaitu istilah permainan dalam bahasa Jawa sebagai suatu aktifitas yang dilakukan pada masa kecil kita bersama teman-teman. Hal tersebut yang kini hanya menjadi lelucon pada waktu dewasa dengan anggapan segala permainan itu seperti hal yang bodoh dan sangat membuang-buang waktu dan stamina tubuh. Sampai-sampai ibu yang tengah memasak pun keluar mencari-cari di tengah asyiknya permainan yang belum terselesaikan yang dikata lebih baik memanfaatkan waktu untuk belajar dan istirahat ketimbang bermain. Sehingga menjadi perilaku yang turun-temurun setelah menjadi dewasa dan memiliki anak.

    Sehingga yang terjadi manusia terlalu serius menanggapi hidupnya tanpa memperhatikan estetika yang sangat mudah mengindahkan setiap momentnya. Yang menjadi fundamental bahwa orang serius adalah orang yang benar dan menyengajakan dirinya menjadi apa yang diharapkan banyak orang. Dan pastinya ada di sisi lain orang yang senantiasa bercanda dengan hidupnya, maka orang ini selalu menjadi tokoh antagonis pada sebuah alur kehidupan. Bahkan ada segelintir orang yang seolah-olah hanya menjadi tokoh figuran sebagai sudut pandang orang ke-tiga yang cukup menikmati dan menyaksikan berbagai kisah kehidupan.

    Itulah sebenarnya proses kehidupan manusia yang semestinya kita jalani. Berawal dari seorang bayi yang hanya bisa menangis, mulai berjalan dan dipaksa untuk berpikir dan lebih menggali akalnya dalam menyikapi suatu kejadian. Ada banyak tujuan yang semaksimal mungkin didoktrinasikan kepada sang anak yang diusahakan untuk bertujuan baik, mulai dari sikap, perilaku dan tanggung jawab. Maka sangat wajar seorang anak baik, bersekolah rajin sehingga Ia pintar dan nilainya tinggi sehingga berprestasi di sekolah-sekolahnya yang unggul kredibilitasnya dan akhirnya dapat bekerja dengan hasil yang sangat tinggi. Jadi, fundamental tersebut seakan-akan telah terskenario.

    Baik, dari segala paparan itu mengajak manusia untuk tetap termotivasi dalam menjalani proses hidup dengan tujuan hidup yang semakin meningkat. Namun ada sisi kehidupan yang hampir saja hilang dari segala proses yang tidak dinikmati sehingga orang menjadi terlalu cemas dengan kegagalannya apalagi jika apa yang diharapkan sangat jauh dari realita. Yaitu permasalahan yang sangat kompleks bahwa manusia yang tidak pernah bersyukur. Jika suatu hari seseorang telah berhasil dengan kariernya, maka ada saat Ia harus mengarahkan gerakannya untuk perbuatan yang menghasilkan lebih banyak secara materialis maupun kekuasaan.

    Tidak sadarkah manusia hanya dipermainkan oleh ambisi dan keegoisan akal yang tidak mengedepankan nurani? Ataukah manusia terlalu mengagung-agungkan tujuannya di muka bumi? Andai saja ada sebuah air mancur yang mampu membuat manusia abadi muda setelah berbasuh di sana, sangat mungkin semua orang di dunia akan sangat berupaya dan rela berdesak-desakan seluruhnya di sana.  Maka hilang sudah makna kehidupan dengan menjalaninya melakukan suatu aktifitas demi melangsungkan dan memenuhi kebutuhan hidup dengan tujuan kemuliaan hidup yang sebenarnya tidak akan kekal.

    Kehidupan yang hakiki ini bersumber dari suatu dzat yang tunggal yakni Allah SWT. Dalam bahasa Jawa, nyawiji adalah bentuk kata yang dapat diterjemahkan menuju suatu hal yang satu. Hal ini berarti telah terlihat bahwa segala permainan di dunia ini adalah milik-Nya. Jadi, untuk apa lagi manusia terlalu berambisi seperti binatang dalam mencapai tujuan hidup jika dalam pola pikirnya jauh dari unsur ke-Tuhanan yang sebagian telah dilimpahkan pada manusia? Maka inilah proses manusia tetap berjuang hidup yang seakan-akan sedang dimainkan oleh-Nya dan begitu indahnya hidup ini.



penulis : Ado

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.