Ads Top

Dunia Diri #1

Kebangkitan kebersamaan
Adalah sebuah peristiwa, yang menurut umum adalah awalan proses atau proses awal.

Mari kita analisis. Analisis sendiri sebgai bukti bahwa kita tidak menyerah kepada keadaan yang ada ini.


LILLAH sebgai energi sejati dari ALLOH kepada mahluknya. Ketika ayam harus hanya berkokok bunyinya, tidak menggonggong atau mengaum, tidak protes kepada ALLOH.....
Ketika tanaman ceplukan tidak bisa setinggi pohon kelapa. Ketika air tidak protes ketika harus melulu mengalir atau melayang, dia juga tidak protes.



Tidak protes ini sendri bentuk penyerahan diri total kepada ALLOH
Semakin berserah diri kepada ALLOH, semakin besar kekuatan kita, sehingga bisa nanti kita mencapai energi ekstra, ekstra energi (shulton).

Ini proses LILLAH yang menghasilkan berserah diri, pasrah diri, menyerahkan hanya kepada ALLOH.

Jika sudah manut sama ALLOH, maka apa-apa yang ada pada diri kita akan kita terima dengan ikhlas, kita dikasih akal pikir hati kita ikhlas menerimanya, bentuk syukurnya adalah menggunakanya semaksimal mungkin.

Yang syarat utamanya bisa maksimal adalah harus jujur, jujur menggunakan akal yang sehat bukan otak kotor, jujur menggunakan hati nurani bukan hati hitam. Jujur mengerjakan sesuai kehendak ALLOH, bukan mengerjakan kehendak diri, apalagi saling mendebat keyakinan diri.....


Dari kejujuran total ini muncul kesadaran diri tentang batas kemampuan, batas usaha diri, batas jangkauan diri, batas energi diri. Ini namanya tahu diri..... Tetapi harus senantiasa yakin bahwa energi dari ALLOH tidak akan pernah habis. Energi kan hanya berubah bentuk setelah kita olah, misal jika tidak bisa sabar maka ubahlah menjadi bisa syukur agar keadaan tetap baik. Jika tidak bisa naik pohon untuk memetik kelapa maka bekerjalah, lalu dapat materi, lalu materi itu untuk tanda jasa bagi orang yang anda suruh naik pohon memetik kelapa. Atau mau shortcut, langsung nyuruh orang lain metik kelapa dan bagi hasil.

Ketika tidak bisa naik pohon kelapa lalu malah pergi kerja itu tadi kan bukan bentuk menyerah, tetapi bentuk perjuangan kita untuk tidak menyerah menuju cita-cita ingin ngunduh kelapa. Ketika kelapa sudah jatuh dan banyak yang bolong, sudah pada dimakan luwak/ bajing maka disitulah kita menyerahkan kepada ALLOH, bahkan hasil bekerja untuk modal menyuruh tukang panjat tadi kita serahkan kepada ALLOH. Bahwa si tukang panjat pohon kelapa sudah ahli dan ada kemungkinan jatuh, itupun kita berpasrah diri kepada ALLOH. dan banyak yang lainnya, sekali lagi bahwa semakin besar kita tahu kelemahan kita  karena harus berpasrah diri kepada ALLOH maka kita merasa semakin kecil, dan semakin besar kesadaran diri kita untuk terus nempel ke ALLOH, sehingga semakin besar ke LILLAHITA'ALA an kita, maka semakin bisa untuk menggunakanya untuk berjuang.........


Bersambung ke #2

Penulis: paman abdul

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.