Ads Top

Cak Nun, Maiyah, Az-Zahra dan Likuran Paseduluran

Cak Nun adalah semesta. Beliau mengembang terus setiap waktunya. Sebagaimana alam semesta yang juga terus mengembang setiap waktunya. Dan di dalamnya, bersamaan dengan mengembangnya alam semesta ada dinamika, dialektika, keindahan. Begitu juga Cak Nun bersamaan dengan mengembangnya ada dinamika, dialektika, keindahan.
Bisa kita tengok dari sejarah hidupnya mulai dari semenjak kecil yang suka tirakat namun di sisi lain suka bertindak jahil dan kadang-kadang menjengkelkan guru dan orang tuanya. Kemudian berhijrah ke Gontor yang akhirnya di usir dan membawanya ke Yogyakarta. Di Yogyakarta inilah beliau mulai mengenal Maliobro dan Umbu Landhu Paranggi. Sebuah wilayah yang atmosfir keseniannya cukup tebal pada saat itu dan seorang guru yang maha tidak logis, namun menurut Cak Nun, Umbulah satu-satunya orang yang diakuinya sebagai guru. Selain bersama Umbu, beliau juga berproses bersama Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarno Pragolapati, Linus Suryadi AG, Suminto A Sayuti serta penyair-penyair lain yang juga berproses di Malioboro.
Entah bagaimana Tuhan menuliskan takdir Cak Nun, setelah mulai dikenal dalam dunia kepenyairan, tulis menulis dan juga teater, perjuangan beliau menjadi lebih luas. Bukan hanya berkaitan dengan dunia kesenian saja, tetapi juga perjuangan untuk membela rakyat, menegakkan keadilan. Yang itu semua membawanya kepada kehidupan yang begitu sibuk, berbahaya dan seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk bersantai ria menikmati hidup dengan bermalas-malasan.
Sibuk karena mendapat undangan dari berbagai tempat setiap harinya, menulis untuk media masa setiap harinya, berbahaya karena pernah diuber-uber tentara bahkan pernah dikirimi bala oleh orang yang membencinya.
Lika-liku kehidupan yang beraneka ragam, yang di dalamnya jelas ada berbagai dinamika perasaan yang dihadapai, yang mungkin secara spesial hanya dilewati Cak Nun saja membuat semesta Cak Nun mengembang menjadi Maiyah.

***

Maiyah juga semesta. Semenjak pengajian Padhangmbulan yang paling pertama sampai sekarang, lingkar Maiyah tersebar ke seantero dunia. Dan harus diakui bahwa Maiyah ini sedikit – banyak telah membawa perubahan atau paling tidak menjadi warna tersendiri bagi negeri ini.
Tidak jarang orang-orang yang berkecimpung di dalamnya, entah itu yang berproses lewat Youtube dan Sosmed, membaca tulisan-tulisan Cak Nun dan berbagai tulisan tentang Maiyah, datang ke forum Maiyah sekadar datang dan pergi (seperti saya), menjadi penggiat di simpul-simpul, aktif melalui tulisan-tulisan merasa bahwa dirinya banyak berubah.
Misalnya saja saya (mohon maaf, saya mencontohkan diri saya bukan berarti karena sombong. Saya tidak cukup waktu untuk mencari kesalahan-kesalahan orang lain), saya merasa bahwa hidup saya banyak berubah (bukan secara materi) yang tidak bisa saya gambarkan bagaimana perubahannya secara detail. Saya merasa bahwa, ada semacam perspektif baru yang lebih jernih yang bisa saya pakai untuk menjalani kehidupan dan itu belum pernah saya rasakan sebelum mengikuti Maiyah.
Maiyah inilah salah satu bukti dari perkataan-Nya bahwa di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Ketika kita menghadapi berbagai kesulitan di negeri ini yang setiap hari semakin rumit masih ada Maiyah yang di dalamnya ada optimisme-optimisme untuk terus menjalankan kehidupan dengan sebaik mungkin.
Semesta Maiyah ini mengembang. Salah satu wilayah yang menjadi bagian dari mengembangnya semesta Maiyah ini berada di sebuah universitas di Yogyakarta. Yang sampai sekarang terkenal sebagai universitas negeri termurah seantero dunia. Yang juga banyak diragukan oleh masyarakat. Kuliah kok murah, pasti tidak bermutu itu, kira-kira seperti itu kata mereka.
Bagi saya tidak, selain karena saya bangga dengan almamater saya, juga karena di dalamnya ada titik kecil yang bernama Az-Zahra.

***

Az-zahra adalah desa yang hadir di tengah kota. Pada saat kampus yang modern dan kota yang juga berada di tengah kota menawarkan masa depan melalui pintu akademik untuk meniti karir, Az-zahra dengan bersahaja menawarkan perhubungan antar manusia.
Bagi orang desa tidak terlalu penting kehebatan-kehebatan yang penting guyup rukun dan tetap menjadi manusia. Dosen-dosen memotivasi manusia yang sedang menyamar menjadi mahasiswa sampai manusia yang menyamar menjadi mahasiswa itu lupa kalau dirinya manusia. Az-zahra mendorong orang-orang yang berada di dalamnya untuk tetap menjadi manusia. Berproses melalui musik dan sastra yang merupakan bagian dari hati manusia itu sendiri. Berlatih mendengarkan keramaian di dalam sepi dan menghayati kesepian di dalam ramai. Ngobrol sambil ngopi antar manusia dengan manusia, bukan antar mahasiswa dengan mahasiswa, bukan antar aktivis dengan aktivis juga bukan antar maniak IP dengan maniak IP.
Ketika manusia menyamar menjadi mahasiswa untuk mendapatkan uang saku, ketika aktivis mengaku sedang membela rakyat tetapi diam-diam bercita-cita untuk mengemis kepada penguasa, ketika maniak IP berambisi mencapai gelar prestisius yang menyingkirkan dominasi darah biru, Az-zahra tetap menyuarakan, ayo kita menjadi manusia saja, enak lho menjadi manusia, Tuhan kan melahirkan kita sebagai manusia.
Maka ketika akan pentas tidak ada kru, angkat-angkat alat sendiri, yang tampil juga yang angkat-angkat, yang membereskan alat juga yang angkat-angkat dan pentas. Dan persaudaraannya tidak terbatas hanya ketika masih aktif di kampus saja. Ada forum paseduluran yang membuat siapa saja yang pernah bersentuhan dengan Az-Zahra bisa saling berbagi cerita, berbagi kebahagiaan. Di dalamnya ada kemesraan dan kesetiaan tersendiri.
Titik kecil bernama Az-zahra inilah yang membuat orang-orang di dalamnya ingin tetap menjadi manusia sesuai fitrahnya. Ia ingin menjadi bermanfaat bagi manusia lain. Maka salah seorang yang ada di dalamnya berusaha menyebarkan virus-virus kejernihan berpikir tersebut, yang titik persambungannya berasal dari Cak Nun – Maiyah - Az-Zahra, yang pada prosesnya memadat (juga mengembang) dan disebut sebagai Likuran Paseduluran.
***
Likuran Paseduluran adalah gabungan dari dua kata yang sangat bersahaja. Likuran adalah sebuah relatifitas. Likuran adalah kata yang menandai waktu tetapi tidak menunjukkan waktu pasti. Bisa di antara tanggal 21 sampai 29. Seperti manusia yang bukan makhluk pasti, tetapi makhluk relatif atau kemungkinan. Sebagai makhluk kemungkinan tidak seharusnya manusia mudah menghakimi kehidupan dengan prasangka-prasangka kepastiannya. Ia harus rendah hati, karena apapun yang ia lihat pada akhirnya belum pasti seperti yang pertama ia lihat.
Paseduluran adalah sebuah kata yang menggambarkan ikatan kemanusiaan. Di dalam ikatan tersebut manusia saling berjanji untuk mengamankan satu sama lain, membahagiakan satu sama lain. Terciptalah hubungan yang mesra dan setia.
Secara konotatif saya memaknai likuran paseduluran sebagai sebuah proses kemesran yang terus diintensifi. Ngawur memang, terserah mau berkomentar seperti apa, yang pasti itu adalah upaya yang bisa saya lakukan untuk mentadabburinya.
Gabungan dua kata yang terus berproses tersebut kini sedang terus berproses di wilayahnya. Ia juga menjadi semesta seperti Cak Nun, Maiyah dan Az-zahra. Senantiasa terus mengembang. Senantiasa terus menghadirkan dinamika keindahan dan dialektika-dialektika untuk memahami kehidupan.
Dan kelihatannya, waktu sudah menjadi bagian dari dirinya. Maka para penggiatnya tidak merasa rugi dengan tersitanya waktu untuk terus konsisten mengadakan kegiatan rutin baik mingguan maupun bulanan. Semoga akan terus bertahan entah sampai kapan.
Garis indah yang menghubungkan antara Cak Nun – Maiyah – Az-zahra - Likuran Paseduluran adalah sebuah garis yang ada bukan karena disengaja, bukan karena agenda manusia. Ia adalah garis yang diinisiasi oleh-Nya sebagaimana Dia menginisiasi garis-garis lain yang tersebar ke seluruh antero semesta. Semoga itu menjadi bagian dari proses nyawiji manusia-manusia yang ada di dalamnya dengan diri-Nya.

Wallahu alam.




Penulis: Dani Ismantoko

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.