Ads Top

Ketemu Jodoh Saat Hujan (5)

“Wow,kau kelihatan beda kalau tak memakai seragam kerja”pujinya.

Aku hanya tersipu malu.

“Kita jalan-jalan yuk ke kota”ajak Bima.

“Memangnya kamu nggak ngapelin cewek kamu”
tanyaku.

“Udahlah nggak usah mikirin dia”

“Kamu kayaknya tipe yang nganggap enteng masalah”
kataku sambil naik ke motornya lalu kami melaju ke kota. Suasana malam minggu emang selalu ramai dengan para anak muda. Kami berhenti di taman kota sambil menikmati pemandangan lalu lintas yang macet.

“Sebenarnya aku nggak punya cewek”
kata Bima. Aku menoleh tak percaya.

“Aku tuh mau pacaran kalau benar-benar udah serius”
lanjutnya lagi. Aku merasa senang dengan pernyataannya barusan.

“Kamu bercanda ya”tebakku. Bima malah mengangkat kedua bahunya bersamaan.

“Aku sedang naksir cewek nih tapi aku takut di tolak,kamu mau nggak bantuin aku ngedapetin cintanya”pinta Bima. Hatiku hancur seketika. Aku senang dia nggak punya pacar tapi kenapa malah minta aku jadi mak comblangnya. Ini bahkan lebih buruk daripada ditolak cinta olehnya. Padahal aku menyukainya.

“Aku nggak bisa bantuin kamu”


Bima meraih tanganku dan berusaha membujukku. Aku bukannya deg-degan malah ngerasa kesal. Seolah rasa cintaku pudar begitu aja.

“Aku tahu kamu orang baik!kamu pasti mau bantu aku kan”

Aku melepas tangannya. Rasa luluh melihatnya membuatku tak berkutik. Karena dia nggak punya rasa sama aku terpaksa aku  bantuin sebagai seorang teman.

“Aku harus bantu kayak gimana?”tanyaku. Bima tersenyum lebar.

“Dia orangnya simple tapi aku nggak tau selera dia...dia mudah illfil sama cowok,,besok malam aku pengen nembak dia nih..aku harus ngomong apa ya”


“Ya tinggal bilang aja aku suka kamu,mau nggak jadi pacar aku,gampang kan”
jawabku sedikit menahan emosi.

“Jadi kalau aku bilang begitu dia nggak bakal marah?”

“Ya enggaklah..kalau nembak dimana-mana bilang gitu kan”
jawabku datar.

“Kalau aku bilang mau nggak nikah sama aku?”

“Kamu jangan buru-buru bilang gitu emang udah kenal lama,nanti dia mikir yang nggak-nggak sama kamu”


“Oh begitu ya,kalau kamu yang dilamar mendadak seperti itu bakalan gimana?”

“Ya..asal aku udah kenal baik ya pasti aku terima”jawabku ngasal. Ini cowok sebenarnya maksudnya apaan sih,repot amat.

“Kalau begitu pilihan baju yuk buat nglamar dia”
ujar Bima sambil menarik tanganku.

“Wa..pelan-pelan”seruku. Kami menuju sebuah toko baju. Beberapa baju telah dicoba Bima dan aku yang menilainya. Setelah baju kelima baru cocok buat dia.

“Kamu yakin dia bakal suka kalau aku pakai baju ini”
tanya Bima.

“Iya..bawel amat sih”
timpalku. Dia terlalu keren menurutku. Kenapa juga sih aku mau repot-repot bantu dia. Yang ada aku malah sakit hati seperti ini. Kamipun pulang setelah membeli satu set kemeja flanel beserta celana denim belel.

“Makasih ya..kamu teman yang paling baik yang pernah kutemui”
ucapnya ketika sampai di depan kontrakanku. Aku hanya mengerucutkan bibir masih terlihat kesal.

bersambung ...

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.