Ads Top

Praktis nan Erotis

  Lagi-lagi tidak beberapa lama di sela pembicaraan, ada saja kesempatan mencuri waktu membuka gadget untuk sekedar membaca pembaharuan di beberapa media sosial demi mendapat predikat update. Bahkan hal tersebut menjadi candu terberat seakan menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Menjalani kehidupan seakan-akan tak asyik ketika hal tersebut tidak dibagikan kepada teman-teman di media sosial tersebut. Kesibukan seseorang dan momen-momen istimewa justru menambah waktu juga dalam mengguanakan gadget untuk mengunggah beberapa aktifitas yang telah dilakukan.

    Saking asyiknya bermain gadget, lupa bahwa pulsa yang digunakan telah habis. Untuk menempuh jarak 200 meter saja dalam membeli rasanya terlalu capek untuk berjalan, akhirnya menggunakan motor. Agar lebih praktis lagi karena lapar Ia membeli mie instan siap santap untuk makan siangnya. Mudah bukan?

    Beberapa kemudahan yang sangat bisa kita lakukan saat ini adalah hasil dari berbagai pemikiran usaha manusia dalam mengembangkan potensi manusia menuju kehidupan yang lebih mudah. Hasilnya adalah perkembangan ekonomi yang sangat pesat, daya saing antar individu yang semakin kuat dan banyaknya realisasi nilai terhadap suatu objek. Sungguh modernisasi dan ini adalah hal-hal yang berkembang dari zaman dahulu dengan berbagai kehidupan yang tidak efektif dan efisien.

    Proses kehidupan manusia yang dilakukan dengan cara-cara tersebut tidak disadari telah meninggalkan tuma’ninah pada setiap aktifitas manusia. Akhirnya jiwa yang serharusnya mengiringi hal tersebut dengan sendirinya menghilang. Bukankah untuk menyampaikan aspirasi, orasi dan lain sejenisnya memerlukan pengorbanan yang cukup besar dengan mengadakan perkumpulan dan membagikan selebaran berita agar acara tersebut dapat terselenggara dengan lancar. Namun akhirnya orang-orang banyak meninggalkan proses berjuang meskipun mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan.

    Jarak 200 meter yang seharusnya memerlukan waktu lebih dari 10 menit untuk berbolak-balik semakin disingkat hanya dengan waktu kurang dari 2 menit. Apakah itu yang disebut dengan orang-orang dahulu terlalu membuang-buang waktu dalam hidupnya? Lalu apakah Anda tidak sadar, seiring dengan disingkatnya waktu-waktu dalam melakukan aktifitas-aktifitas keseharian juga telah menyingkat kesempatan waktu kita di dunia?

    Bahwasannya proses perjuangan yang semakin besar manusia lakukan akhirnya berdampak kepada hasil kebahagiaan diri yang semakin besar pula. Apakah Anda tidak tahu bahwa orang miskin setelah bekerja keras dengan sangat capeknya yang hanya diimbali satu porsi makan minum dan setengah bungkus rokok adalah salah satu karunia yang amat Agung dari sang ilahi.

    Suatu hari pernah terkutip pembahasan personal ini, yaitu seorang ibu pada zaman dahulu menanak nasi dengan proses yang sangat ribet dan membuat sedikit kegelisahan di antara anggota keluarganya yang tengah menahan lapar imbas kerja keras di siang bolongnya. Namun, justru ibu tersebut tidak menyegerakan nasi ini tersaji secepat mungkin. Ibu tersebut menyampaikan bahwa “Bersabarlah, karena orang sabar tidak akan pernah kencoten dan rakus.” Penyampaian tersebut sangat termaknai bahwa dengan kematangan nasi yang berkualitas tinggi akan sangat berpengaruh kepada kematangan batin seseorang. Dan jelas tergambarkan bahwa ibu itu adalah orang yang istimewa bahwa Ia sangat menjaga kualitas nasinya hanyalah untuk setiap anggota keluarga yang ingin Ia jaga pula kematangan spiritualnya. Hasilnya, setiap anggota keluarga tersebut mendapatkan kebahagiaan istimewa yang terpancar dari senyumnya setelah perutnya terisi dan kebersamaan  menunggu dan menikmati hidangan dari seorang ibu.

    Bukankah tidak semudah saat ini, ketika nasi telah matang tersaji otomatis di dalam rice coocker atau menyeduh makanan instan pemenuh kebutuhan karbohidrat dalam tubuh. Namun, dimana unsur kesabaran orang tersebut yang tidak mengalami waktu lama bertahan dalam kelaparan?

    Kebanyakan di antara kita terlalu berlebihan mengintervensikan karunia Tuhan kepada nilai. Hampir semua hal yang ada di dunia ini sifatnya dapat dinilai. Nilai ini adalah suatu perwujudan yang sangat diakui dan diterima oleh seluruh kalangan yaitu uang.

 
  Sebelum terciptanya uang, manusia melakukan transaksi tanpa mempedulikan nilainya. Karena setiap hal dianggap bernilai dan terjadi transaksi non transaksional yang tidak berimbang yang akhrinya menguntungkan satu pihak. Jadi, kebanyakan orang dahulu lebih mudah melakukan sodaqoh atas hal yang dianggap kerugian tersebut. Hal tersebut mendasari beberapa piahk menciptakan wujud nyata dari nilai dan bahkan beralih kepada fungsi lain.

    Nilai-nilai yang sebenarnya tidak perlu dinilai dengan uang akhirnya dapat diambil alih sesuai keadaan. Hal ini yang menggeser segala pola pikir dan keesensian suatu permasalahan, puncak pengambilan solusinya adalah dengan mendapatkan uang yang banyak agar masalah dapat terselesaikan. Mudah saja untuk mendapatkan apresiasi masyarakat dengan memeperbanyak uang dan menyumbangkannya kepada kelembagaan sosial daerah setempat misalnya donator utama pembangunan masjid. Tidak jauh berbeda saat seseorang magang menjadi keanggotaan pimpinan pada saat peemilu. Untuk terpilih karena mendapatkan suara banyak, para calon dengan mudahnya membayar suara dengan melakukan wuwuraan kepada masyarakat. Akhirnya uang menjadi suatu nilai yang sangat bijaksana dibandingkan nurani. 

    Di daerah pemukiman yang jauh dari perkotaan dengan jiwa sosial yang sangat tinggi membentuk suatu organisme masyarakat tanpa harus terbentuk secara struktural. Di sinilah masih terlihat suatu keaslian nilai tanpa berberat hati dengan terlalu mengukurnya.

    Peristiwa gotong royong membangun satu rumah milik salah satu warga desa dengan bahan dan peralatan hasil mufakat yang semakin lama meluntur dan akhirnya nilai-nilai tenaga pembangun dan iuran ini tergantikan dengan nilai uang. Ada pula saat salah satu anggota masyarakat melakukan prosesi pernikahan, setiap tetangga tanpa diminta akan datang turut membantu berjalannya acara dan membawakan sumbangan berupa bahan makanan yang dapat digunakan dalam acara tersebut. Namun, keadaan tersebut justru telah hilang dan orang yang akan menikah harus menyiapkan uang banyak untuk melakukan dekorasi tempat dan memesan makanan dan membentuk kepanitiaan dan setiap panitia mendapatkan imbalan berupa upah yang telah disepakati.

    Manusia yang dibimbing kepada kehidupan yang modern seakan-akan dunia ada dalam genggaman dengan praktisnya menjalani hidup ini. Segala kecanggihan teknologi meminimalisir kinerja manusia. Apakah ini tujuan hidup manusia, dan apa yang nantinya manusia perlu lakukan sekiranya setiap teknologi telah mencukupi keadaan manusia?

    Terinspirasi dari film animasi “Wall-E” produksi Pixar Animation Studios dan dirilis oleh Walt Disney pada 27 Juni 2008 ketika robot akhirnya dapat memiliki perasaan di luar kendali manusia. Manusia yang terbuai dengan kehidupan praktisnya pada sebuah pengungsian di luar angkasa dikarenakan beberapa kerusakan bumi. Dalam film tersebut manusia yang terlalu lama menjalani hidup dengan robot-robotnya menciptakan kehidupan yang begitu nyaman dan membosankan akhirnya berat badan yang terus bertambah dan hampir tidak bisa berjalan meskipun fisik normal karena sepanjang hidupnya dihabiskan di atas mesin penggerak tubuh. Namun pada akhirnya keindahan tercipta setelah menemukan citra manusia yang sesungguhnya setelah beberapa insiden perebutan bibit pohon dengan salah satu robot ciptaannya.

    Orang-orang yang terlalu sibuk dengan olah raga rutin demi mencapai kesehatan apakah efektif? Ketika seseorang telah melakukan aktifitasnya secara greget, sebenarnya Ia telah berolah raga bahkan tidak terpungkiri bahwa jiwanya telah terolah menjadi pribadi yang sehat. Pada zaman dahulu, para petani tidak perlu lari pagi dan berjemur demi mendapatkan kesehatan. Bayangkan saja berapa banyak kalori yang terbuang ketika pagi hari berangkat ke sawah dan bertahan di bawah terik matahari dengan panasnya pagi menjelang siang yang diiringi hempasan cangkul kea rah bumi. Kenapa Anda tidak memilih melakukan olah raga dengan hal yang lebih bermanfaat dari sekadar berlari dan menggayuh kaki diatas ontelan tak bergerak? Mungkin bisa dicoba dengan menggunakan sepeda setiap kali berangkat ke kantor dan saya yakin keringat Anda akan jauh lebih berguna daripada tissue di atas meja untuk mengelapnya.

    Sejenak, renungkanlah segala kemudahan-kemudahan yang ada di sekitar hidup Anda, yakini bahwa kemudahan itu berawal dari hal yang sangat sulit, maka cintailah prosesnya. Maka segala hasil yang didapat akan semakin tinggi nilai kebahagiaan berdasarkan tuma’ninah dalam prosesnya. Karena melakukan suatu hal bukanlah sia-sia apalagi membuang-buang waktu. Jika prosesnya terlalu menguras pikiran atau tenaga, maka nikmatilah itu sebab inilah waktu yang telah dikaruniakan kepada kita untuk melakukan proses yang bukan sekedar praktis.

Penulis: ado

  

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.