Ads Top

Kegelisahan Punakawan


"Kenapa wajah kalian tampak murung, gelisah dan takut seperti itu ngger?", tanya semar saat melihat anak-anaknya gareng, petruk dan bagong yang sedang menonton televisi dan membaca majalah dan koran.

"Kami sangat khawatir,takut dan gelisah bopo",jawab mereka bersama.
"Khawatir dan takut kenapa?"

"Setelah kami melihat dan mengamati",terang petruk,"Kami jadi takut,khawatir,gelisah dan juga ngeri dengan kepemimpinan dan kekuasaan didunia ini. Lihatlah bopo!",tegas petruk,"Semua orang tampak berebut kekuasaan dan jabatan. Apapun mereka lakukan asalkan mereka mendapatkan dan memperoleh jabatan dan kekuasaan. Terkadang menempel disana terkadang disini. Sekarang memuji yang disini,besoknya memuji yang disana dan menghina yang disini. Seperti benalu tapi kok ya kayaknya lebih baik benalu. Karena benalu diciptakan oleh Tuhan demikian dan diapun tidak protes mengapa dia diciptakan menjadi benalu. Seperti jamur tapi kok ya lebih baik jamur. Kalau jamur bisa dimakan: ditumis, dioseng,digoreng,dibikin rendang dsb. Sedangkan ini kan manusia yang notabene adalah Masterpiecenya Tuhan,yang sejatinya adalah Ahsanu Taqwim",jelas petruk.
"Terus...",lanjut semar.

"Dan menurut pandangan kami bopo",terang gareng.
"Itu semua adalah sama saja menggadaikan harga diri dan kehormatan mereka dengan jabatan dan kekuasaan",terang bagong yang dari tadi cuek-cuek saja.
"Lantas apa tindakan kalian atas hal tersebut",lanjut semar.
"Hanya berdoa kepada Syang Hyang Tunggal bopo",jawab petruk.
"Apa doa kalian?"
"Semoga Tuhan melindungi dan menjauhkan kami dan anak cucu kami dari pemimpin dan penguasa yang zalim. Dan semoga Tuhan menjauhkan kepemimpinan ataupun kekuasaan dan jabatan didunia ini dari kami dan anak cucu kami".

Terlihat petruk memimpin doa dengan khusyu,sedangkan gareng dan bagong mengamininya

"Apakah yang dulu kau lakukan saat menjadi Ratu juga demikian petruk?",ledek semar kepada petruk.
Petruk kaget dengan pertanyaan boponya semar, sambil terkekeh lirih dan tersipu menjawab seperti apa yang dulu ia ucapkan,"biarlah hanya Syang Hyang Widhi yang tau isi hatiku, lainnya aku tidak peduli".

"Hahaha...",semar,gareng,petruk dan bagong tertawa terbahak-bahak.

Ciputat,20-10-2016


penulis: Rizki Ichsan



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.