Ads Top

Jika Kita Yakin Seratus Persen

Sering kali sedikit saja rasa sakit, seperti digigit semut misalnya, mengalahkan naluri kasih sayang kita, sehingga dengan enteng kita akan membunuh semut yang menggigit kita tadi.Ini merupakan hal kecil yang sering kita alami. Namun hal sekecil ini, menunjukan bahwa kita belum bisa mengendalikan diri. Belum bisa memiliki kesadaran sepenuhnya, bahwa yang terjadi pada kita adalah atas kehendak Allah swt.Belum bisa menerima dan merasakan dengan lapang dada ujian rasa sakit digigit semut. Apa lagi dengan ujian lain, berupa penderitaan-penderitaan yang datang setiap saat pada kita.

Atau sebaliknya, saat kita berkumpul dengan siapapun, di manapun dan di acara apapun, acap kali ngrasani adalah sajian ternikmat yang sering kita hidangkan. Dan dengan lahap, kita akan menghabiskannya. Bukankah hibah sama artinya dengan memakan bangkai orang yang kita rasani. Bukankah menutup telinga dan mengunci mulut untuk diam dari pada berkata tidak baik, cukup dengan mengatupkan bibir dan menutupkan tangan ketelinga kita. Tanpa tenaga besar dan tanpa biaya sedikitpun. Namun kita belum terbiasa meninggalkan kenikmatan-kenikmatan semu yang menaburkan dosa-dosa kecil, sehingga menutup mata hati kita.

Akselarasa, menselaraskan proses percapatan rasa dalam jiwauntuk bisa menerima segala apapun yang terjadi pada diri kita. Mempercepat proses pembelajaran dalam diri, untuk bisa melewati tahapan olah rasa, menyadari hakekat keberadaan kita, dan terus memacu agar nafs kita bergerak dari nafs al-amarah, nafs al-lawwamah menuju pada nafs al-muthmainnah, jiwa yang tenang. Jiwa yang yakin akan setiap kehendak Allah, jiwa yang tidak lagi tergoda oleh nafs hewani, kesenangan semu tidak lagi dapat menggodanya, dan Ia sadar sepenuhnya, bahwa dirinya dan semua yang ada pada dirinya dan sekitarnya, hanyalah milik Allah Swt.

Seorang yang hendak berjalan, menyusuri kedalaman jiwa yang penuh tentram, hilang kebencian, dan ridha terhadap apa yang terjadi, Ia akan melewati penyucian jiwa hingga Ia sampai pada jiwa yang sempurna. Jiwa yang telah melampaui jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), jiwa yang ridha (nafs al-radhiyyah), jiwa yang diridhai (nafs al-mardhiyyah).

Jalannya Ia tempuh dengan mengikis setiap perbuatan dosa sekecil apapun. Ia perhitungkan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Ia timbang setiap amal yang dilakukan oleh tangannya. Ia lihat dengan seksama setiap langkah kaki hendak jalan kemana. Ia rasakan setiap hembus nafas dan detak pikiran dan hatinya, agar tidak tergores oleh tipuan yang fana.

Namun demikian, Ia bukanlah seorang peragu. Bukan orang yang perhitungan, yang selalu menimbang untung rugi. Bukan orang yang selalu melihat-lihat amal yang ia lakukan. Namun Ia adalah orang yang beramal dan berbuat karena ketentraman jiwanya. Yang selalu menyuruhnya untuk berbuat kebaikan. Yang menyuruhnya untuk meninggalkan kemungkaran.

Jiwa dan raganya telah meninggalkan segala keraguan dan kebimbangan, dan Ia menatap setiap apa yang hendak Ia lakukan dengan yakin sepenuh keyakinan, bahwa yang Ia lakukan adalah atas bimbingan jiwanya yang berada dalam genggaman-Nya.

Orang yang telah yakin seratus persen terhadap qudrah dan iradah Illahi, setiap ujian dan cobaan yang datang Ia hadapi dengan ringan. Rasa takut dan khawatir dalam dirinya, sudah tak lagi berpengaruh terhadap perjalanan jiwanya.

Pada suatu kesempatan,guru kita M. H. Ainun Najibpernah berkata dalam acara Macapat Syafa’at kalau tidak terima dengan ucapan saya, silahkan belehen (sembelih) saya. Ucapnya dengan gurauan, tanpa keraguan.
(review akselerasa 22 Oktober 2016)

Penulis: Chotibul Umam

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.