Ads Top

Hujan pun Senantiasa Bersholawat Bersama LikuranPaseduluran #11 27 Februari 2016

    Sejak pukul setengah tujuh setelah sholat Mahgrib, Trisman yang aktif membantu setiap penyelenggaraan acara rutin ini sudah hadir untuk melakukan seluruh persiapan. Namun, harapan jauh meleset dari perkiraannya di Malam Minggu itu untuk ke-11 kalinya Ia berangkat sedikit terlambat tidak seperti biasanya karena beberapa insiden sebelum acara tersebut. Dengan basah kuyup, pria muda ini dengan sedikit muka cerah terkena sorotan lampu tiba-tiba lenyap tak terlihat sebab lampu padam. Untung saja salah satu dari kami spontan menyalakan lampu HP guna menerangi sekeliling tempat. Kehadirannya menghentikan sedikit aktitas kami karena dirinya juga yang menyertai pemadaman listrik malam itu. Salam dan jabat tangannya dihaturkan olehnya kepada kami semua, maka terjawablah salam tersebut dan tangan kami semua basah.

    Tanpa basa-basi, dengan gaya Trisman yang cuek langsung saja duduk di pinggiran tepat disebelah hidangan dan menyeruput salah satu kopi yang masih bertutup “kalau kurang nanti saya buatkan lagi” ucapnya, sementara kami hanya tertawa. Namun tawa kami justru disambutnya dengan keluh kesah darinya atas kejadian yang baru saja Ia alami. Langsung saja kami membentuk gerombolan selagi menunggu listrik menyala kembali.

    Raut wajah Trisman yang semakin menyurut diterangi oleh cahaya lilin semakin membuat kami penasaran ada apa gerangan pria yang sering kali membawa suasana humor ini justru menampakan wajah tidak bergairah itu. Dengan melepaskan baju sehingga menampakan lembut bulu ketiaknya dan membakar salah satu batang rokok yang sedikit basah dari saku kanannya Ia mulai bercerita. “Tadinya diriku malas untuk dating kesini, apalagi jika terjadi hujan lebat seperti ini”, satu kalimat pembuka dialog. Salah satu dari kami langsung merespon hal tersebut “lantas mengapa kau ada di sini sekarang?” Dengan santainya Ia menyeruput minuman hitam itu dan lagi menghirup asap rokoknya. “Hanya saja diriku terkejar hujan, jadi ketika ingin berbalik arah, aku melihat rintikan hujan yang lebat di belakangku sehingga aku menambah kecepatan hingga sampai di tempat ini dengan 200 meter hujan lebat berada di atas tubuhku ini.”

    Hasil keluh kesah Trisman menjadikan sebuah pelajaran berharga bahwa dalam hal ini niat baiknya terealisasi berkat turunnnya hujan sebagai salah satu kondisi alam. Dalam hal ini mungkin Tuhan telah berintervensi dengan media hujan terhadap Trisman. Ke-alamiahan ini terjadi sebagai bentuk dasar keilahian bahwa ndilalah Trisman berangkat dari rumah tepat sebelum hujan turun.

    “Lalu, mengapa pula Tuhan menjadikan malam ini begitu petang dengan padamnya listrik akibat petir yang menyambar travo daerah setempat?” lagi-lagi satu masalah yang bias menjadi pembahasan hangat di antara kami. “Andaikan saja tadi pemadaman listrik ini terjadi jauh setelah kau datang, mana mungkin kami akan menyambutmu dengan semewah ini?” jawab salah satu peserta obrolan nggak mutu itu. “Ya, aku yakin jika tadi lampu tetap menyala kalian akan asyik dengan kegiatan kalian masing-masing dan justru diriku yang harus mendengarkan kalian menyuruhku membantu kalian.” Malam itu benar-benar derajat Trisman sedang diangkat setinggi-tingginya meski penampilan dan sangunya masih dalam kondisi yang wajar.

    Waktu semakin berlalu dan lampu juga belum menyala, di saat yang bersamaan hujan semakin lebat. Karena guyuran air yang semakin meningkat dan ternyata selokan yang sekian lama tidak terurus tersumbat oleh sampah dedaunan kering. Hal tersebut membuat sedikit genangan air dan tikar yang telah tergelar rapi mulai terhampiri oleh genangan air. Dengan cekat kami menggulung tikar guna menjaga kondisi tikar agar tetap kering dan nyaman diduduki nantinya. Akhrinya kondisi tempat tersebut semakin berantakan.

    Semua yang ada pada peristiwa tersebut tercengang dan sedikit shock, apa pula rencana Tuhan malam ini? Satu doa Trisman “Ya Allah, jika memang Engkau tidak meridhoi acara ini berjalan tambah saja badai agar tempat ini benar-benar kami tinggalkan sekarang juga, namun jika tidak demikian, bimbinglah kami untuk hal ini”. Anehnya, pada saat itu juga Trisman dengan kondisi yang sudah sedikit kering langsung mencari sumber permasalahan genangan air tersebut. Dengan membawa sapu lidi Ia menuju selokan dan mengangkat semua kotoran yang sekiranya mengganggu dan mengumpulkannya ketempat sampah. Hasilnya, seluruh genangan di halaman TK semakin lama semakin menyusut. “Luar biasa Trisman, malam ini benar-benar kami di sini telah diberi rahmat dari Tuhan bersama kehadiranmu”, salah satu dari kami melontarkan rasa syukur itu dengan menyanjungnya. “Alhamdulillah, tenang saja semua segala kejadian ini juga adalah karunia dari Tuhan, maka bersyukurlah dengan keadaan ini”. Tidak lama setelah itu hujan reda dan listrik kembali menyala hingga kami melanjutkan aktifitas dan acara Likuran Paseduluran berjalan degan lancer dengan waktu yang sedikit mundur tidak sesuai perkiraan kami.

    Dari segala peristiwa yang terjadi pada malam itu, meski itu adalah hal yang menjadi kendala dalam segala urusan kami, namun kembali belajar pada setiap yang dialami dan dilakukan oleh Trisman. Manusia seharusnya turut menghormati kondisi alam, bahwa hal tersebut akan sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari kita, yakinlah bahwa hal apapun itu adalah salah satu media Tuhan untuk memperingatkan kita dalam beraktifitas. Bahwa manusia harus menjaga keseimbangan lingkungan, dengan dibuatnya bangunan, manusia harus tetap menjaga kondisi lingkungan sekitar. Aplikasi yang terjadi manusia sering lalai, bahkan hal sepele untuk memebersihkan saluran air seperti yang dilakukanTrisman. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.