Ads Top

Tilik Tanduran Ngumah

yang namanya kemajuan adalah pembangunan disana-sini. dengan memiliki berbagai jaringan teknologi tercanggih. berkemajuan dalam segala bidang. sebuah desa dikatakan sudah maju jika seluruh jalan sudah di aspal merata, irigasi sawah sudah pakai cor beton, sudah tidak ada lagi rumah warga yang jelek atau minimal kendaraan yang dipakai oleh tiap warganya pas hari raya idul fitri menggunakan motor. sebagai bukti dari hasil jerih payahnya mencari uang di kota sebelah.

sepintas wah, dan sudah benar-benar maju. seolah alam desanya yang adem ayem dari dulu, kini sudah berkemajuan. alam sudah bisa ditaklukkan oleh genggaman manusia. dan yang paling penting adalah bangga. bangga dengan kemajuannya, motornya, jalannya, aliran air ke sawahnya, dst...

eksplorasi ilmu tradisional terhadap dunia materiil sudah sedemikian hebatnya. sayangnya, dari kesekian banyaknya standar-standar kemajuan desanya hanya sebatas pada pembangunan fisiknya saja. sebenarnya sih tidak masalah, hanya saja makin hari banyak orang yang menjauh dari alam asrinya. karena dianggap kuno dan sudah ketinggalan zaman.

alhamdulillahnya, spiritualitas warga juga ikut maju. karena ada hadis yang menerangkan betapa dahyatnya amal jariyah. jadi kalau ada orang yang menyumbang paku, walau kecil dan sedikit, dan selama paku itu digunakan untuk menopang tempat ibadah, maka pahalanya pun akan selalu mengalir, sehingga dengan semangat kemajuan spiritualitas inilah pembangunan masjid semakin mewah, karpet-karpetnya sudah tidak memakai plastik, tapi bulu-bulu halus yang dirancang sedemikian rupa guna membuat orang yang sujud semakin khusu' dalam sujudnya.

namun ketiga hal di atas masih terkotak-kotak. warga belum bisa menyambungkan antara kemajuan teknologi dengan kemajuan intensitas ruhani tanpa pembangunan. belum sanggup memunculkan ide nilai edukasinya dalam setiap kemajuannya. semua masih terjebak pada kapital.

mbok sekali-kali ayuh balik tilik umah. tiliki tanduran ngumah. para pencari pundi-pundi rupiah di kota besar mau sampai kapan? buat para pencari ilmu dan pengetahuan di sebrang kota mau menularkan ilmunya kapan? yang tidak punya uang apalagi ilmu mau begitu sampai kapan? yang jomblo dan berumur setengah abad lebih, mau bertahan sampai kapan?

Likuran Paseduluran untuk putaran bulan Oktober 2017 ini mencoba niliki tanduran umah. dengan harapan apa yang sudah dilakukan selama ini akan menjadi tolok ukur kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. karena jangankan untuk mengerti kapan panen dari tanaman yang di tanam, wong pengetahuan untuk beberapa saat setelah ini saja kita masih kira-kira.

penulis : i. mubaedi


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.