Ads Top

Nggayuh Seduluran Gombong

23 hari berlalu pada bulan ke Sembilan di tahun 2017, Likuran Paseduran telah melakukan 30 kali pertemuan atau 30 bulan. Belum banyak memang, namun sudah cukup berisi mengendap di sedulur-sedulur semua. Setelah bulan sebelumnya datang di pegunungan Karanggayam yang “ndesa”  dan “miskin”, malam ini Likuran Paseduluran bertemu dan bersilaturahim di Gombong. Sebuah lokasi yang cukup bertolak belakang dari pertemuan sebelumnya.

Bertempat di halaman SD Kreatif Muhammadiyah Gombong, teman-teman Likuran Paseduluran disambut oleh pemuda-pemudi yang Dikomandani oleh Kang Mundir yang penuh akrab berjabat erat dan penuh senyuman.

Sekitar 30 menit setelah pembacaan ayat suci Al-Quran oleh salah satu pemudi Gombong, acara Likuran Paseduluran dibuka dengan gayuh sambut penampilan Gending Bodo yang membawakan lagu “Sang Surya”. Tidak lupa, doa awal yang di panjatkan untuk seluruh masyarakat indonesia menjadi titik awal pengharapan akan cita-cita mulia. Yang selama ini orang menganggap itu sebuah lagu nasional, temen-temen Likuran Paseduluran mengubah motivasi atau niat bahwa itu adalah sebuah doa, harapan untuk lebih baik. Dikumandangkanlah “Indonesia Raya” yang dilantunkan dari masing-masing diri yang hadir secara bersama-sama.

pertanyaan pertama dari kang Ichsan pada para hadirin,
“bicara soal Gombong, gambaran apa yang dapat mewakili Gombong?” 

    Yang disambut dengan jawaban yang beragam. Mulai dari mbah Giyombong, dukung Giyombong, mbah Kertopati, HIV AIDS no.1, waduk sempor, Kalitengah, Jatijajar, pantai Ayah, dll. Dengan gaya dan guyonan yang ciri khas dari temen-temen lebih setuju dengan Kalitengah dan mbah Giyombong. Artinya, memang ada suatu misteri yang sampai saat ini menjadi perdebatan tak berujung tentang mbah Giyombong dan Kalitengah. Hanya karena itu adalah sejarah dan masing-masing memiliki pendapatnya sesuai dengan keyakinan, maka pembahasan itu tidak sampai dengan titik detail, hanya sebagian diantaranya tentang sejarah Gombong.

Sejarah Gombong berawal dari keberadaan Ki Gombong Wijaya yang menempati sebuah daerah yang saat itu dikenal sebagai dukuh Giyombong. Ki Gombong ini diperkirakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro di daerah Banyumas yang berperang melawan Belanda. Beliau merasa kasihan dengan warga di daerahnya yang harus kerja Rodi dan mengalami kelaparan. Dengan bantuan dari prajurit kerajaan Mataram yang sedang berperang di daerah Ayah beliau terus dengan gigih mempertahankan daerah Giyombong dari penjajahan Belanda yang sedang membangun Benteng yang kelak diberi nama Benteng Van Der Wicjk. Semenjak perjuangan dengan Ki Giyombong di daerah tersebut rakyat terbebas dari kerja rodi dan tidak mengalami kelaparan sehingga untuk mengenang jasa Beliau daerah tersebut dinamakan Gombong.

Gombong merupakan kecamatan di Kabupaten Kebumen yang sangat terkenal, melebihi Kebumen itu sendiri. Di daerah luar Kebumen nama Gombong lebih diketahui seringkali ketika menyebutkan Kabupaten Kebumen menjadi pertanyaan “Kebumen sih ngendine Gombong?” Seperti dituturkan pak Kyai Arifin Ada dua sisi yang sangat terkenal dari Gombong sisi positif berupa perekonomian yang maju, dan sisi negatif dengan perjudian dan prostitusi. Prostitusi di Gombong sudah ada semenjak masa penjajahan, pada masa awal prostitusi adalah adanya losmen di depan pasar gombong tepatnya di pertigaan jalan stasiun (sekarang menjadi dealer sepeda motor). Tempat tersebut merupakan titik ramai karena berada di samping Jalan utama dan dekat dengan pasar serta stasiun. Jika menilik sejarah bahwa stasiun ijo termasuk 10 besar stasiun tertua di Indonesia, maka Gombong juga termasuk di dalamnya menjadi tempat transit yang strategis. Lambat laun prostitusi dan perjudian yang mengawalnya bergerak ke arah selatan karena mahalnya sewa tempat semula
.
Ada hal menarik yang menyertai prostitusi di Gombong. Bahwa di sebelah selatan losmen-losmen ada sebuah warung (sekarang menjadi Masjid Nurur Rohmah) yang menjadi tempat berkumpulnya tentara Indonesia, warung tersebut dengan posisi menempel dengan losmen tidak dicurigai oleh tentara Belanda, di tempat itu pula rencana dan strategi anti Belanda dibuat. Sehingga sering kali rencana Belanda telah bocor melalui mata-mata di warung tersebut. Ternyata selalu ada berlian di tengah lumpur yang menggenang.

Malam yang semakin larut diterpa angin menjelang penghujan yang cukup untuk membuat sedulur-sedulur mendekap tangan atau membetulkan jaket. Sajian Kopi dan teh panas segera saja direguk ditemani kacang rebus yang masih kemebul menghangatkan malam ahad ini. Sangat menarik memang membahas prostitusi di Gombong, Kang Mundir Hasan menambahkan salah satu dampak dari prostitusi di Gombong adalah adanya penyakit AIDS. Menurut survey di Jawa Tengah Kebumen adalah pengidap HIV/AIDS tertinggi. Sebuah hal yang mungkin bisa ditarik kesimpulan bahwa prostitusi dan AIDS sangat dekat. Meskipun data yang digunakan belum tentu akurat namun, data tersebut bisa mempresentasikan 2 hal. Pertama jika data itu benar, maka pencatatan pengidap HIV/AIDS telah berjalan dengan baik. Kedua jika data tersebut salah terutama dalam rangking di Jateng bisa jadi di Kabupaten lain pemerintahannya tidak terbuka dan tidak peduli terhadap HIV/AIDS.

Gending Bodo kembali menyapa mendukung harmonisasi seduluran yang merekat. Membawakan lagu bang-bang wetan yang kental nuansa rock untuk semakin memompa semangat teman-teman yang hadir. Berduet dengan Kang Heri yang berasal dari grup Surya Buana kang Heri memberi warna lain dalam lagu ini. Dilanjutkan lagu sholawat Nabi yang membawa hadirin untuk melakukan paduan suara serentak tanpa harus dikomando. Malam yang yang semakin kuat tak menghalangi teman-teman yang baru hadir untuk langsung bergabung melingkar, hadir pula sedulur dari Logandu yang membawa alat musik dan ikut meramaikan Likuran Paseduluran ke 30 ini. Rupanya teman-teman Logandu ingin belajar lebih banyak di Likuran Paseduluran, sehingga anak-anak muda yang dikoordinir Babeh Mardiadi hadir secara rombongan. Mereka mengisi malam ini dengan 2 buah lagu yang cukup untuk memberi variasi Nggayuh Paseduluran.

Karpet hijau yang digelar membantu teman-teman betah berlama-lama duduk dan memperhatikan apa yang dibahas lebih lanjut. Kang untung menambahkan ada hal lain yang terlupakan dari apa yang telah dibahas yaitu Kemiskinan. Bahwa kemiskinan di kota akan jauh lebih menghawatirkan dibanding kemiskinan di desa. Sebagai contoh di Logandu misalnya, akan sangat sulit sekali mencari orang yang kelaparan karena stok makanan dari alam masih tersedia dan kepedulian tetangga akan keberadaan tetangganya itu lebih peka. Sedangkan di kota-kota sangat mungkin tetangga yang satu dengan yang lain tidak pernah tahu kondisi tetangga sebenarnya.

Babeh Mardiadi menanggapi dengan sebuah pengenalan bahwa Logandu adalah desa yang dianggap miskin dengan keterbukaan dan solidaritas yang tinggi. Banyak sekali potensi yang berasal dari SDA maupun SDM yang belum tergarap dan belum nampak. Sebagai salah satu produk andalan dari Logandu yaitu oyek dan tembakau. Tembakau yang beredar di Gombong dan sekitarnya, grade A adalah tembakau Logandu dan beberapa desa di sekitarnya terutama Clapar dan Pagebangan. Tembakau kami pernah kerjasama dengan demplot PT Djarum, namun ternyata hasil demplot dan hasil tradisional lebih menjanjikan yang diolah secara tradisional. Ini yang membuat kami semakin yakin kami bisa mandiri. Oyek kami sering diplesetkan menjadi Orang Yang Ekonominya Kurang, karena orang yang makan oyek sering diidentikkan dengan orang miskin. Namun kami yakin, oyek yang dulu identik dengan orang miskin sekarang mulai perlahan bergeser menjadi makanan yang akan dicari. Kami yakin bahwa dengan inovasi yang kami lakukan dengan produksi oyek aneka rasa bisa semakin mengangkat pamor oyek Logandu. Demikian dikonfirmasi oleh Babeh Mar yang ternyata juga menjabat Ketua Forum KPAD (Komunitas Pemerhati Anak Desa) Kebumen.

Cap kemiskinan bisa jadi digunakan untuk menyembunyikan ada hal lain yang tersembunyi di bawahnya. Bisa jadi ada potensi yang besar yang sedang menunggu dimanfaatkan. Begitu kang Heri yang berasal dari Sadang menambahkan. Namun perlu diingat bahwa potensi yang besar khususnya sumber daya alam akan sangat mudah menimbulkan konflik lahan. Hal ini menjadi dua sisi yang berseberangan di satu sisi meningkatkan penghasilan desa namun menimbulkan keresahan sosial. Ini harus dijaga dan harus diwaspadai. Banyak sekali kepentingan politik yang akan bermain di wilayah tersebut.

SD Muhammadiyah Gombong yang terletak di Jalan Anggrek 1 nomor 26, Serampadan, Gombong, menjadi saksi bahwa Likuran Paseduluran adalah media yang begitu menyenangkan. Diskusi yang mengalir seperti udara yang membentuk angin sepoi di tengah panas yang membalut, menyejukkan. Kang Bambang Tri Saktiono salah seorang politikus yang berdiam di Gombong mengingatkan bahwa kita jangan sampai anti dengan politik. Karena banyak sekali kebijakan-kebijakan masyarakat yang ditempuh melalui jalur politik. Sebagai contoh pertemuan malam ini tak akan pernah bisa terlaksana jika ada aturan yang diputuskan melalui politik untuk tidak boleh adanya pertemuan dilaksanakan malam hari. Hanya saja kita harus mempersiapkan politician yang jernih hati dan pikirannya. Diharapkan merekalah yang akan membawa politik menjadi hal yang menghasilkan kebijakan yang baik dan terlaksana dengan baik.

Tak terasa lebih dari 90 menit waktu meninggalkan dari jam 00.00 WIB. Nggayuh seduluran di gombong harus berakhir. Sebuah pertemuan yang akan dirindukan kembali. Semoga apa yang telah dibahas malam ini bisa menjadikan kita belajar seperti Puisi yang dibacakan kang Teguh:
Apabila para pelukis belajar kepada lukisannya
Penyanyi belajar pada senandung lagunya
Petani-petani belajar kepada tandurannya
Maka, sesungguhnya manusia belajar pada dirinya
Agar mengenal Pencipta-Nya

Jabat erat sedulur yang hadir diiringi bacaan sholawat menutup pertemuan. Jika Likuran Paseduluran adalah air Biarlah kami menjadi daun kering. Kami akan jatuh ke tanah dan air itulah yang akan mempercepat daun menyatu dengan tanah sebagai tempat tumbuhnya tunas-tunas baru. Tunas yang semoga selalu meneguhkan kita kepada Yang Maha Esa.

reportase LP #30


penulis : Mahdi F

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.