Ads Top

Kuku Maiyah

Harus dari mana ini saya menulis? Apalagi mengenai maiyah, wabil khusus dengan simbah Emha Ainun Nadjib yang begitu sangat kompleks dan panjang untuk ditulis. Nah, karena keterbatasan kemapuan saya dalam menceritakan sejarah dari awal perkembangan simbah dengan maiyahnya, maka lebih baik saya akan bercerita mengenai perkembangan simpul saja yang saya rasa sesuai dengan kemampuan berpikir dan menulisnya.

Baik, sekitar tahun 2012 saya baru mengenal siapa itu CakNun yang hanya sebatas tahu acaranya di Kasihan, Bantul. Yang mana pada waktu itu hanya sekedar tahu karena ajakan temen-temen untuk melihat suatu acara musik. Dan saat itupun hanya bagian musiknya saja yang saya perhatikan. Namun tidak sedikit pula ada beberapa guyonan di forum itu yang mulai menggoda saya untuk memperhatikan setiap kata demi kata, kalimat demi kalimat, ucapan demi ucapan yang memang seharusnya saya perhatikan, dengar, dan menghayatinya. Hingga terpaksa harus masuk ke dalam hati dan perasaan untuk dicerna baik-baik. Menariknya, saya tidak langsung paham dan meng-amininya. Disinilah yang menurut saya terjadinya proses pemahamisasi, dimana jika harus bisa paham dengan sesuatu hal harus berangkat dari ketidakpahaman dahulu.

Tepat pukul 01.00 wib saya semakin heran dengan acara ini dan tiba-tiba pundak saya di tepuk teman “bali yuh, wis wengi!”, dengan bahasa ngapaknya saya jawab “nko sit mbok, lagi mandan asik kie” dan pada akhirnya bisa bertahan sampai selesai acara.

Singkat cerita, saya mengenal lebih banyak tentang caknun dan maiyah lewat youtube serta dari berbagai acaranya yang saya ikuti.

Maiyah itu kebersamaan. Kebersamaan menuju kebaikan bersama. Tidak hanya sekedar guyonan dan pengajian pada umumnya, tetapi lebih mengarah pada kebebasan mengubah pola pikir yang tentunya mempunyai dasar namun tidak saklek pada doktrin-doktrin agama yang mengerucut pada garis keras atau liberalisme. Yang bisa dilakukan oleh semua kalangan. Dari petani hingga pejabat, dari orang ateis sampai ulama, dari orang miskin sampai yang beruang, dari anak-anak sampai tua, dari Indonesia sampai mancanegara. Tidak ada batasan agama, ras, atau apapun yang dapat menghalangi kebersamaan kemestaraan sebagai sesama manusia, sesama makhluk ciptaan Allah. Dan hanya Allah-lah yang mempunyai kehendak untuk meridhoi atau menghancurkan maiyah. Tidak ada yang bisa menghalangi selain Kehendak-Nya.

Sekali lagi, hanya Allah yang membuat keberadaan maiyah dapat dirasakan hingga saat ini. Oleh semua makhluk yang mempunyai tujuan sama, yaitu mencintai Allah dan Rosululloh. Mengerti posisi segitiga antara kita, Allah, dan Rosululloh.

Kembali pada caknun sebagai salah satu Dzat maiyah dan yang telah berjuang banyak mengibarkan bendera maiyah di berbagai seantero pelosok belahan bumi, yang jumlahnya sangat sulit untuk kita hitung. Hingga terbentuk lah simpul-simpul maiyah di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar Indonesia. Yang masing-masing simpul memiliki nama dan ciri khas yang berbeda antar daerah. Sebagai induk simpul yang berada di Jombang, tempat kelahiran caknun yaitu Padang Bulan, yang kemudian disusul oleh Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Kenduri Cinta di Jakarta, Bangbang Wetan, dsb. Yang sampai saat ini tercatat sekitar 30 lebih simpul di berbagai penjuru.

Dan kami adalah salah satu simpul yang berada di Kebumen, Jawa Tengah. Yang lahir baru satu tahun ini pada tanggal 21 Mei 2016. Bernama “Likuran Paseduluran” dengan harapan bersama-sama menciptakan pantulan-pantulan kebaikan. Namun sebagai simpul baru, kami sangat butuh asupan-asupan keilmuwan dari berbagai narasumber yang dapat memantik pola pikir kami seperti caknun.
Terakhir, atas ridho Allah dan cinta Rosululloh, tulisan ini kami persembahkan wabil khusus pada simbah Nun yang telah banyak menginspirasi pola pikir kami menjadi seperti ini, hehe..serta kepada jamaah maiyah dimanapun berada.



penulis : Ichsan Mubaedi
 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.