Ads Top

Konsep Mengatur

Pengalaman saya sebagai guru membuat banyak hal yang harus dilakukan sebelum berkegiatan. Baik di dalam maupun di luar sekolah. Namun yang lebih sering pada waktu di dalam kelas, seperti menyiapkan materi sebelum pelajaran, menyiapkan peralatan belajar, strategi mengajar, metode pembelajaran sampai soal-soal plus jawabannya untuk menguji seberapa besar pengetahuan siswa akan materi yang dsampaikan guru.

Tujuannya sederhana. untuk menjadikan kegiatan belajar mengajarnya lebih terarah dan mudah dalam menjalaninya. Dan tentunya bisa mencapai puncak dari keinginan sesuai kurikulum yang mengatur ke arah mana pembelajarannya. Menjadi siswa sesuai dengan yang diharapkan. Menjadi lebih baik. Dan menjadi-menjadi yang lainnya...

Dengan menggunakan parameter kemampuan siswa, dari perencanaan, sampai menemukan ide dan di tulis ke dalam rencana pembelajaran butuh proses yang panjang hingga membuat konsep belajar sesuai dengan materi merupakan awal. Masih akan menemukan kemungkinan-kemungkinan berubah atau ganti. Dan masih ada banyak tahapan yang harus dilalui.

Resiko-resiko yang mungkin terjadi tidak sesuai dengan rencana. selain harus menyiapkan plan A juga harus ada plan B. Begitu seterusnya seperti yang dilakukan para anggota militer kita dalam menghadapi lawannya. hanya saja, dsini lawannya bukan musuh, melainkan anak asuh yang harus di tolong, di bantu, di beri, dan di kasih sayangi.

Sementara disisi lain, siswa yang diajarkan ini memiliki respon yang bermacam-macam. ada yang benar-benar memperhatikan saat diterangkan, ada yang memilih tidak mengerjakan tugas, ada yg rajin mencatat, ada yg memakai jalan pintas mencontek saat ulangan, dll..

Pikiran saya langsung tertuju pada Tuhan sang Pencipta seluruh jagad raya. Gimana rumitnya? pusingnya mengatur semuanya. perencanaan model apa yang digunakan, jenis pembelajaran model apa? hingga ada berapa planning yang sudah dibuat untuk bisa terealisasi? atau cukup dengan kun fayakun! maka jadilah.

Sementara disisi lain makhluknya dengan seenaknya sendiri melanggar garis batas peraturannya. menginjak di tanah yang bukan miliknya hingga menebang apa saja demi mengumpulkan nafsu serakahnya. Menghasut haluan untuk menjadi serong, serta mendorong kebaikan supaya menjadi keburukan. Men-talbis-kan semuanya dengan membungkus neraka yang dikemas sedemikian rupa supaya menjadi seolah seperti surga.
Saya sendiri sebagai guru merasa kesal ketika aturan/ tugas yg diberikan pada siswa tidak dikerjakan dengan alasan lupa, ndak tau, banyak tugas lain juga, waktunya kurang, sudah dikerjakan tapi bukunya ketinggalan, dll.

Apakah sebegitunya seorang guru ngasih tugas dengan tidak memperhitungkan keadaan, waktu, & kemampuan siswa?

Pantas saja jika saya terkadang kecewa, marah, tapi juga ada sisi kasihan, kasih & sayang karna memahami psikologi mereka berdasarkan usia, juga secara biologis saya tidak ikut serta di dalamnya.
Itulah sebabnya kenapa Tuhan memiliki 99 nama, yang dari ke-99nya memiliki sifat yang berbeda. Manusia hanya sekedar meniru satu hal sifatNya saja sudah kelabakan minta ampun susahnya. mengeluh karna beratnya sifat.

lalu bagaimana dengan Tuhan yang mengonsep dan mengatur kita sebagai makhlukNya?


penulis : I. Mubaedi


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.