Ads Top

Kemerdekaan Peradaban

Harus diakui bahwa memang ada permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam dalam membedakan antara agama dan budaya, antara ibadah dan muamalah, antara urusan agama dan urusan dunia, antara sunnah dan bid’ah. “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” Itulah Bhineka Tunggal Ika, karena negeri kita adalah negeri warisan. Asset bangunan, berbagai peninggalan situ bersejarah, bahasa dan kesenian makanan,  varietas tumbuhan, adat istiadat bahkan sampai agama begitu berragamnya, karena masing-penguasa kala itu memberikan pengaruh dalam kehidupan masyarakatnya. Maka tidak aneh jika tiap daerah memiliki kepercayaan, kebiasaan dan peradaban yang berbeda dengan daerah lain. Itulah sebenarnya kekayaan dan kekuatan bangsa ini. Tidak ada yang salah tentang aliran keagamaan, tentang kepercayaan, tentang ketidaktahuan, bahkan tentang kejahilihan kala itu, karena sejarah itu berjalan dan berkembang. 

Pendapat bahwa kosmogoni kepercayaan Jawa diwarnai oleh kebudayaan Cina didasarkan pada suatu pemikiran bahwa berita mengenai Cina di kepulauan Indonesia dapat dianggap sebagai sumber ke tujuh dalam sejarah politik Jawa pada abad ke-15 dan 16. Kehadiran bangsa Cina ternyata berpengaruh bagi pembentukan corak kepercayaan Islam di masyarakat Jawa. Menurut J.H. Kern asal Belanda, orang Jawa dianggap dari keturunan orang-orang Melayu yang berasal dari Cina. Kurang lebih 3.000 SM menurut pandangan Kern telah terjadi gelombang pertama imigran Melayu yang berasal dari Cina yang membanjiri Asia Tenggara, Pengaruh imigran Melayu Cina ini, yang kemudian  bersentuhan dengan kebudayaan Islam sebagaimana yang terjadi pada masa kekuasaan Khubilai Khan, maupun yang belum berinteraksi dengan Islam, betapapun telah banyak mempengaruhi karakter asli kebudayaan Jawa. 

Selain pengaruh kepercayaan dan kebudayaan Cina kala itu, Proses akulturasi Islam dan Hindu juga mewarnai kepercayaan Jawa. Proses Islamisasi penyebaran Islam di Surabaya dan Gresik ternyata juga dilakukan oleh para penyebar Islam asal Campa, yang membawa pengaruh signifikan terhadap adat dan tradisi keagamaan serta kepercayaan kepada masyarakat  Jawa yang bercorak Hindu-Islam. Dengan demikian kepercayaan asli Jawa, animisme dan dinamisme tidak menutup kemungkinan secara historis telah mengalami proses asimilasi dengan kepercayaan di atas. Uniknya elastisitas kepercayaan asli Jawa yang sanggup menampung berbagai kepercayaan yang datang dari luar itu, tetap mampu mempertahankan nilai keasliannya.

Secara antropologis orang Jawa memang telah lama ada. Hal ini terbukti telah ditemukan fosil-fosil di sekitar Bengawan Solo, Jawa Tengah. Fosil yang tertua disebut Pithecantropus Erectus dan fosil yang termuda disebut Homosoloensis. Karena fosil ini ditemukan di Jawa Tengah dapat diduga bahwa propinsi ini yang menjadi nenek moyang orang Jawa. Orang Jawa selalu menyatakan bahwa mereka adalah keturunan leluhur Jawa, pendiri tanah Jawa.

 Sedemikian kuatnya religi animisme dan dinamisme itu mengakar pada karakter asli masyarakat Jawa, hingga ragam budaya dan kepercayaan apapun yang bersentuhan dengan religi Jawa, tetap saja tidak banyak berpengaruh secara signifikan bagi perubahan esensial religi animisme dan dinamisme yang menjadi simbol kejawen tersebut.

 RM Sutjipto Wirjosuparto juga mengatakan sungguhpun kebudayaan Jawa asli menjalin hubungan dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang lebih tinggi, misalnya kebudayaan Hindu, Islam dan Barat yang menyebabkan termodifikasinya kebudayaan Jawa asli, ternyata pola kebudayaan asli Jawa tetap saja sama dengan sebelumnya, lantaran unsur-unsur kebudayaan lain tersebut terserap dalam pola kebudayaan dan kepercayaan kejawen. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa elastisitas kebudayaan kejawenlah yang mampu mempertahankan karakter dan ciri asli kejawennya. Sebagian besar masyarakat Jawa yang mengaku secara formal beragama Islam, namun demikian sikap dan praktik keagamaan sehari-hari yang mereka hayati, senantiasa dijiwai dalam batin yang paling dalam oleh agama asli kejawen tersebut, yaitu animisme dan dinamisme.

             Paham kejawen sejak mempercayai mitos Dewi Sri dan Dewa Sadono dianggap mencerminkan kebodohan, baru ketika Ajisaka datang ke tanah Jawa, masyarakat Jawa merasa memiliki ilmu. Atas dasar itu Ajisakalah yang dianggap penyangga keilmuan Jawa. Oleh karena itu dalam kisahnya, Ajisaka akan mengalahkan Dewata Cengkar, lambang masyarakat tempo dulu yang masih membawa tradisi bar-bar, yaitu masyarakat yang belum berperadaban. Dewata adalah simbol kebaikan, sedangkan Cengkar adalah simbol keburukan. Dewata Cengkar berarti gambaran baik dan buruk yang ada pada diri manusia. Hadirnya Ajisaka di Jawa bermaksud menyingkirkan berbagai keburukan dan kegersangan pada diri manusia, selanjutnya menghadirkan dan memenuhi sifat-sifat kebaikan yang menandainya sebagai makhluk yang berperadaban dan berkebudayaan.

             Rasa ketuhanan yang terpendam dalam lubuk hati manusia sulit untuk diungkapkan, baik dari kalangan mereka yang telah mengenal pewahyuan dari tuhannya maupun yang belum mengenal sama sekali kecuali lewat pengalaman-pengalaman keagamaan secara natural. Bagi agama maju misalnya, menggunakan istilah iman tatkala mereka membayangkan kasih sayang dan keadilan Tuhan, dan istilah taqwa tatkala mereka membayangkan kekhawatiran-kekhawatiran akan kesalahan di hadapan Tuhan. Tuhan pencipta kemudian dianggap tersembunyi jauh di atas ciptaan. Tuhan dianggap barang gaib yang berjarak jauh dan paling asing bagi mereka, dan dianggap berada dalam dimensi yang berbeda. Keadaan inilah yang membuat mereka masuk ke dalam sikap keagamaan baru, seiring proses Islamisasi yang dilakukan oleh Wali Sanga di tanah jawa yang menyisakan berbagai dinamika dan akulturisasi budaya yang telah berkembang kala itu.

             Karagaman cara pandang keagamaan di atas, meyakinkan faktai adanya akulturasi kejawen  dan sufisme Islam. Sinkretis kejawen mengatakan adanya konsep sangkan paraning dumadi (arah kehidupan) dan manunggaling kawula gusti, sementara konsep sufisme Islam mengatakan adanya teori ittihad dan ilhad yang mengkristal menjadi wahdatu al-wujud. Perbedaan akan kepercayaan dan peradaban adalah bagian dari rahmat yang harus kita syukuri. Peradaban tidak bisa kita “bunuh” begitu saja, tapi akan bergeser seiring perkembangan zaman, sebab kemerdekaan yang sebenarnya adalah bagaimana kita bisa menghargai perbedaan dalam persatuan tanpa terjebak dalam perpecahan.


Likuran Edisi Agustus 2017

Penulis : Suratno

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.