Ads Top

Karepe Dudu Menang Kalah Nanging Lillah

Sudah jelas 350 tahun dan 72 tahun kita dijajah kok diam saja.  Siapa yang diam : saya, anda, kita, dia, mereka dan siapa saja yang merasa dirinya diinjak kakinya namun tidak merasa diinjak. Kaki terletak di bawah, tanah air ada di bawah maka dari itu tanah air kita apakah merasa sedang dijajah? Perhatikan seksama kurun waktu 19 tahun hingga kini mungkin lebih dari itu, apakah diri kita sudah merasa memiliki diri kita sendiri, tanah air kita sendiri? Mulai dari tanah dan air yang ada di sekitar kita, seyogyanya tetap milik kita bukan milik para tamu yang tak diundang itu. 

Cari, pahami, amati, semua barang atau aset yang tadinya milik kita pribumi asli namun kini telah milik orang lain alias tamu-tamu Itu. Tak ada perasaan setitik pun dari kami selaku pemilik asli karena sudah sejak dahulu kala kami sudah diberi cara-cara alias ilmu untuk mengelola apa yang ada di bumi bahkan alam semesta ini. Sudah sangat jelas mulai pelatihan-pelatihan khusus bahwa tahap awal pelatihan menjadi makhluk menuju insan kemudian abdullah lalu kholifatulloh. 

Berkali-kali manusia menemui permasalahan kecil hingga besar seyogyanya menjadi PR untuk dikaji dari permasalahan tersebut. Jika predikat dari makhluk sudah meningkat dari makhluk mati menuju makhluk hidup misal dari bersifat tumbuhan ke sifat binatang meningkat menjadi manusia, maka manusia tersebut sudah menggunakan akalnya. Sudah pasti dapat memikirkan sesuatu untuk mengatasi masalah. Titipan-titipan Illahi apapun bentuknya harus disyukuri setelah berusaha sekuat tenaga. Akal termasuk titipan illahi yang tak ternilai harganya. Karena pembeda antara binatang dan manusia terletak pada akal fikiran. Apakah pikiran dan hati kita sudah digunakan dengan maksimal???  Di negara-negara jiran mulai dikembangkan otak orang yang meninggal diambil untuk dicek seberapa jauh kerja otak manusia. Bagaimana dengan otak manusia kita.
Sudah sedemikian canggihnya, bahkan laut yang beisi air sangat dalam akhir-akhir ini laut di negara Indonesia diurug alias reklamasi untuk me me me  me me......

Silahkan diisi sendiri titik-titik di atas, karena jika isinya negatif itu artinya ada perasaan suudzon, dan jika positif maka memiliki perasaan tidak enak dengan tamu mbok ada mata-mata lalu saya diintimidasi. Silahkan para tamu tak diundang dan tamu yang diundang sekedar mampir, beli tempe, pisang goreng, minum jahe, makan di warung namun jangan masuk dapur dan pemilik warung dibujuk supaya warungnya dijual karena jika warungnya dijual maka pemilik warung tidak perlu bersusah payah jualan di warung, namun cukup di rumah bersante ria difasilitasi barang dagangannya tamu yang kaya buah kedondong itu (luarnya halus dalamnya kasar/tak berkualitas) sedela rusak (bahasa Jawa).

Sudah sangat banyak dan hampir seluruh elemen masyarakat sudah menggunakan produk tamu, para tamu itu jadi cukong di tempat kita, namun pribumi makan tempe barbahan baku kedelai import, padahal pribumi bisa dan cukup bagus kedelainya. Kenapa import? lagi-lagi dimainkan harga oleh para cukong dan bala kurawanya beserta pembual janji yang biasanya berpesta lima tahun sekali.

Kami pribumi tidak akan mengusir wahai kamu para tamu-tamu tak diundang dan yang diundang, namun hanya memposisikan bahwa syu’uban wa qobailan itu ada di Al Qur’an. Maka supaya saling kenal mengenal bukan saling menguasai alias saling sikut, saling memenangkan diri. Silahkan berdagang tapi jangan serakah, jika serakah maka masih bersifat makhluk yang bernama binatang. Binatang saja jika kera hanya menyimpan makanan pada mulutnya, tapi si Tamu yang serakah itu sudah menyimpan harta di dalam dan luar negeri, parahnya lagi para Pribumi mengikuti langkah-langkah si serakah tadi.

Pribumi sudah beribu-ribu tahun diajarkan tak serakah dengan benda dengan teori kasta. Kasta tertinggi adalah Brahmana yang bermakna tak terpengaruh oleh gemerlap dunia. Maka calon panutan tertinggi di bawah Tuhan adalah sang Brahmana. Melihat keadaan kini sangat banyak dari bidang apapun, elemen manapun yang  senang dengan dunia, bahkan dunia ingin digenggam bahkan dibrakot alias dicaplok. Caplok = caps lock = Capital = KAPITAL = huruf besar = penguasa paling besar = para monster-monster = PARA NAGA-NAGA yang akan membrakot menyaplok pribumi dan siapapun yang jadi mangsanya karena si penyaplok itu sudah dikuasai nafsu serakahnya serta tak kuat  oleh godaan dajjal anaknya iblis.

Perang melawan CAPITAL NAFSU itu paling penting dan bamperi diri dari godaan syetan yang terkutuk juga amat penting dengan cara iman dan Taqwa. Taqwa mengandung arti takut pada Allah, penjabarannya jauhi larangan-Nya lakukan perintah-Nya diuraikan menjadi amar ma’ruf nahi munkar. Dengan cara apapun untuk memberantas kemungkaran alias kejelekan ternyata berawal dari membrantas sifat jelek apapun dari diri sendiri.  Dengan niat suci dari diri sendiri demi direlakan oleh Tuhan. Oleh ALLAH SWT kita, saya, sangat meminta diridhoi supaya perjalanannya ringan alias lilllahita’ala. LILLAH. Jika hanya mendapat surga pasti dapat, masak tidak dapat surga lha wong pemilik surga sudah meridhoi langkah-langkah kita kok. 

Para tamu dan siapapun jangan serakah, tekan keinginan ingin menang, dan tidak ada yang dikalahkan namun semua meminta untuk setiap pergerakan kegiatan apapun meminta diridhoi ALLAH SWT (LILLAH). Wahai para Capital ketahuilah anda posisinya di sana kita di sini, dan sudah ada proporsinya masing-masing jika masih ngeyel lama-kelamaan nekad dan jangan tanya jika nanti ada Matahari Terbit dari timur. Karena kami hanya dengan senjata LILLAHITA’ALA.
 

Penulis : Zen Kebumen
 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.