Ads Top

Perangkap Kebodohan

Alhamdulillah Wasyukrulillah kita semua masih bisa berkumpul berbahagia bersama di era akslerasi kemajuan. Apapun saat ini yang kita maui bisa kita dapatkan dengan mudah dan instan. Tinggal klik langsung ada. Jarak pun bukan lagi penghalang dari kemesraan, tidak lagi ada hambatan komunikasi.
Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan dan globalisasi, semua mengamini bahwa ilmu pengetahuan harus berkembang, harus bisa menjadi solusi bagi semua urusan dunia, tidak dipungkiri ini juga menjadi standar dari martabat seseorang. Akan lebih dihormati orang yang ahli dalam  berbagai kemampuan penguasaan ilmu, akan lebih mulia martabatnya orang yg berkedudukan strategis dalam urusan jabatan tertentu. Inilah hal yang kadang menjadi perangkap kesadaran manusia modern.
Kata embah-embah kita dulu, “wong pinter kiye ora ana ukurane”. Lha sih priwe mbah?? || “ya jajal dipikir”.. mungkin ini hasil dari perenungan panjang simbah, bahwa orang pintar itu seberapa dia mampu berdekatan dengan DzatNya makane bisa disebut “wong pinter”. Karena kemesraan dia dengan Dzatnya maka masalah apapun bisa diselesaikan dengan sederhana, mudah dan aplikatif. Bisa dikatakan sepintar pintarnya  manusia menguasai ilmu didunia tanpa ada kedekatan dengan DzatNya, Bisakah disebut orang pintar?? Atau malah menduakan Tuhan??
Yang kedua pada tema ini sangat dekat hubungan antara Budaya, Agama, dan Negara. Selama ini ketiga hal tersebut sangat sering ditabrak-tabrakkan. Sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, di Nusantara ini hubungan antara Budaya dan Agama begitu romantisnya seperti pasangan suami istri yang baru nikah, saling mengisi keduanya, saling berbagi tanpa ada tuntutan apapun, saling memahami kewajibannya, bahkan kata hak itu bukan sesuatu yang tidak pernah terbersit antara keduanya. Analisa sederhana mengapa antara kedua bisa carut marut seperti sekarang mungkin adanya perubahan pemahaman budaya dan agama yang meninggalkan esensinya, selalu yg ditonjolkan adalah casing/cover ya sesekali mengunggulkan produk dari keduanya, tanpa memahami esensinya.
Lalu untuk melengkapi tuntutan zaman, maka dibentuklah Negara yang mungkin bermaksud mengembalikan kemesraan antara agama dan Budaya dengan membentuk aturan. Alih-alih mewadahi, malah semakin membuat manusia semakin bingung mencari pedoman hidup.. ah… mungkin bangsa kita saja yang belum mahir bernegara. Hal ini pula yang menjadi senjata ampuh dari berbagai pihak dengan bermacam tujuan penguasaan. Mereka mengadu budaya yang bergerak atas kearifan lalu didisposisi kearifan itu menjadi hal klenik yang harus dijauhi, mereka mendisposisi agama yang menata kehidupan dengan syari’at, menjadi dogma dogma yang membahayakan bagi pemeluknya, lalu ditabrakkan juga aturan Negara yang bertujuan mulia, menjadi alat untuk mencapai kepentingan segelintir orang saja.
Begitu perlunya manusia menjernihkan lagi pola pola pemikiranya, sehingga hubungan dari Negara, Agama dan Budaya yang semula bisa, menjadi bisa indah cantik menawan. Contoh mudahnya jika kita baik terhadap konco, sedulur, tetangga dan saling memberi manfaat satu sama lain, itu sudah AGAMA, itu sudah NEGARA, itu sudah BUDAYA.
Kurang apa bangsa ini… di seluruh permukaan bumi, tidak ditemukan bangsa yang begitu komplit dari Indonesia, anda semua juga sudah tidak asing lagi, wis nganti budeg mendengar kabar dan sanjungan betapa hebat dan kayanya negeri ini. Semua tersedia… apa saja ada, kalo kata Mbah Nun, Negeri ini adalah penggalan surga. Lalu beberapa pertanyaan mulai timbul ketika pada kenyataanya surga ini menjadi ajang pertempuran kepentingan, saling sikut sana-sini, saling berebut, saling mencurigai satu sama lain, bahkan saling membunuh satu sama lain. Idealnya hidup di surga ya adem ayem, arep ngumbe gari SRIPIT, arep madang gari KRIYIK, arep udud gari BUL.. Kurang apa???
Nah!! Saking komplit dan kayanya Negeri ini, menimbulkan kecemburuan para Iblis dan sekutunya untuk nyicipi surga ini, Begitu gembiranya Iblis, ternyata masyarakat surga ini menyambut gembira kedatangannya, sampai istri-istri penghuninya ditawarkan untuk santap malam mereka. Lah?? Ternyata iblis juga doyan sajian surga? Masa sih iblis betah di sejuknya surga? Padahal tugas utama nya membisiki dan menggoda manusia to?
Oooh ternyata manusia sudah mendownload bukan sekedar bisikan iblis, manusia sudah menguras habis ilmu iblis, bahkan sudah memodifikasi sedemikian hebat sampai-sampai posisi iblis terancam, bahkan iblis sudah kalah telak, kalah cerdik, sudah ampun-ampun dengan skill manusia yang sedemikian hebatnya, sebentar lagi mungkin iblis sudah pension, sebagian sudah “thenguk-thenguk” karo “medangan” di teras neraka sambil menunggu saya, anda atau siapapun yang masuk ke dalam perangkap kebodohan sampai lupa kuasa Dzatnya. Semoga kedatangan dan partisipasi  sedulur di forum diskusi Likuran Paseduluran ini bisa menjadi penghantar kita untuk bermesraan dengan Alloh SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Amin


muqodimah LP  21 Januari 2017 edisi #22     



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.