Ads Top

Keluarga yang Tertindas

    Disuatu ketika ada keluarga bahagia, mereka bernama Pak Mulyadi dan Ibu Astuti. Mereka baru menikah dua bulan yang lalu. Pak Mulyadi bekerja sebagai pekerja bangunan. Tidak lama kemudian ada berita sangat menggembirakan bagi keluarga Pak Mulyadi yaitu istri Pak Mulyadi hamil. Pada mulanya keluarga Pak Mulyadi sangat harmonis, tetapi kebutuhan Pak Mulyadi lama-lama semakin berkurang, dan Pak Mulyadi berpindah pekerjaan ke kota. Dengan berat hati Pak Mulyadi meninggalkan Ibu Astuti yang sedang hamil itu. Awal mulanya semua berjalan dengan lancer, tetapi Pak Mulyadi mengingkari janji pada Bu Astuti. Pak Mulyadi selingkuh dengan perempuan lain ,Bu Astuti menunggu kepulangan Pak Mulyadi dengan penuh kesenangan.Tetapi Pak Mulyadi tidak merespon Bu Astuti,Pak Mulyadi sekarang mulai berubah,tetapi Bu Astuti tetap bersikap sabar atas kelakuan Pak Mulyadi,walau keadaan Bu Astuti sedang hamil. Uang yang dikirim Pak Mulyadi hanya sedikit,tetapi Bu Astuti memakluminya.
    Setelah beberapa bulan dirumah,Pak Mulyadi berangkat lagi ke kota tempat bekerjanya,dengan alasan pekerjaanya sudah menumpuk,Bu Astuti pun mengizinkan Pak Mulyadi berangkat lagi ke kota tempat bekerjanya. Satu bulan kemudian lahirnya sang jabang bayi Bu Astuti. Bu Astuti merasa senang dan bercampur dengan sedih. Bu Astuti merasa senang karena anaknya dilahirkan dengan selamat dan normal, dan Bu Astuti merasa sedih karena bayang-bayang wajah Pak Mulyadi menyelimuti benak Bu Astuti, karena waktu kelahiran anaknya Pak Mulyadi tidak pulang ke rumah. Setelah beberapa hari kelahiran anaknya Pak Mulyadi hanya mengirim uang.Bu Astuti mempunyai firasat yang buruk mengenai ketidakpulangan Pak Mulyadi, tetapi Bu Astuti tetap sabar menunggu kepulangan Pak Mulyadi.
    Satu minggu kemudian ada salah satu kerabat Pak Mulyadi mengetahui bahwa Pak Mulyadi sedang berselingkuh dengan wanita lain, hal itu dilaporkan kepada Bu Astuti. Bu astuti mendengar kabar itu, langsung tidak bisa berbuat apa-apa.Bu Astuti hanya menangis.Bu Astuti tidak percaya atas perbuatan yang dilakukan Pak Muhyadi, karena Bu Astuti tidak percaya Bu Astuti langsung menelepon Pak Muhyadi.Bu Astuti tidak langsung menanyakan hal itu, tetapi Bu Astuti menyuruh Pak Mulyadi untuk pulang ke rumah.Satu hari kemudian Pak Mulyadi pulang ke rumah dan Bu Astuti menyambut kepulangan Pak Mulyadi dengan raut wajah yang sedih.Bu Astuti mempersilahkan Pak Mulyadi untuk beristirahat. Setelah beberapa menit menunggu Pak Mulyadi beristirahat Bu Astuti memberanikan diri untuk bertanya !
Bu Astuti : ” Pak !! “
Pak Mulyadi : “Apa “ (Sambil duduk)
Bu Astuti : “Bapak selingkuhan ?!! ” (Sambil menggendong bayi dan menangis)
Pak Mulyadi hanya membisu mendengar pertanyaan Bu Astuti,Pak Mulyadi tidak bisa berkata apa-apa, lalu Bu Astuti menangis sejadi-jadinya.
    Dan akhirnya Pak Mulyadi meminta maaf kepada Bu Astuti dan mengakui kesalahanya, dan Pak Mulyadi ikut menangis.
Pak Mulyadi : “Bu maafin bapak bu,bapak salah selama ini bu....maafin bapak !!! ”(Sambil terus menangis)
Bu Astuti : “ya pak ibu maafin,ibu juga minta maaf karena ibu juga salah !! “(Sambil mencobaberhenti menangis)
Pak Mulyadi : “Terimakasih Bu, Bapak janji tidak akan mengulanginya lagi....” (Sambil berhenti menangis)
    Mereka berdua semakin berpelukan dan juga saling menyesali kesalahanya sendiri. Karena peristiwa tersebut Pak Mulyadi pun berhenti bekerja di kota, dan memutuskan bekerja di rumah, walaupun hasilnya sedikit tetapi lebih baik dari pada di kota. Walaupun kebutuhan tidak cukup. Tidak terasa sudah 10 hari lamanya anak Pak Mulyadi di beri nama “ Wahid Alwahyuni” dengan kenduri kecil-kecilan. Karena kebutuhan yang sangat kurang Pak Mulyadi bekerja keras, Pak Mulyadi rela pergi pagi hingga pulang malam.Sekarang keluarga Pak Mulyadi hidup dengan harmonis. Tetapi keharmonisan keluarga Pak Mulyadi tidak akan lama.
    Pada suatu hari Pak Mulyadi mengajak anaknya berjalan-jalan keluar rumah.Di pinggir jalan Pak Mulyadi melihat beberapa ikatan potongan kayu yang berukuran sedang, kayu itu baru dua hari bekas penebangan. Akal buruk Pak Mulyadi pun muncul dalam pikirannya yaitu Pak Mulyadi mencuri potongan-potongan kayu itu lalu menjualnya di pasar. Awal mulanya perbuatan Pak Mulyadi berjalan dengan lancar.Perbuatan buruk Pak Mulyadi tidak diketahui oleh Bu Astuti.Pada suatu hari ada salah satu warga mengetahui perbuatan Pak Mulyadi, ketika Pak Mulyadi sedang berjalan-jalan untuk melihat kayu lagi, warga tiba-tiba mengeroyok Pak Mulyadi.Pak Mulyadi di pukul oleh warga, tidak lama kemudian Polisi datang.Pak Mulyadi langsung memeluk kaki Pak Polisi, hingga Pak Polisi merasa iba kepada Pak Mulyadi. Setelah Bu Astuti mengetahui kabar tentang Pak Mulyadi, Bu Astuti tidak bisa berbuat apa-apa, Bu Astuti hanya bisa menangis, mendengar berita itu. Pak Mulyadi di penjara satu tahun, hingga Pak Mulyadi tidak bisa melihat perkembangan anaknya.Bu Astuti ingin menjenguk keadaan Pak Mulyadi sangatlah sulit, karena keluarga Bu Astuti tidak ada yang membantu.Karena dari awal keluarga Bu Astuti tidak menyukai keberadaan Pak Mulyadi.Terutama adik Bu Astuti yang sangat tidak suka pada Pak Mulyadi.Bu Astuti meminta tolong pada satu adiknya bernama asef.
Bu Astuti : “ sef tolong antar sata ke kantor polisi ya !! ” (Sambil menggendong anaknya)
Asef : “Apa ?? anterin mba, gagaga..... apaan!! Kan dari dulu saya sudah bilang!! Mba itu sudah      dijodohin sama kang rofik gak mau !!....Padahal dia kaya raya !! “
Bu Astuti : “Mba kan menurut kata hati mba, mba itu cinta setulus hati sef. Ya sudah kalau gak mau antarin mba gak papa.... ”(Sambil mengusap air mata)
Bu Astuti terpaksa tidak menjenguk Pak Mulyadi.
“Satu tahun kemudian”
    Satu tahun lamanya Pak Mulyadi dipenjara, akhirnya Pak Mulyadi keluar dari penjara.Karena satu tahun Pak Mulyadi sudah lama tidak bekerja jadi kebutuhan keluarga Pak Mulyadi tidak terpenuhi, sehingga Pak Mulyadi harus bekerja dari pagi pilang malam.Karena Pak Mulyadi lebih banyak untuk bekerja di banding istirahatnya.Hingga Pak Mulyadi jatuh sakit.Pak Mulyadi terkena penyakit kencing batu.Awal mulanya, penyakit yang dialami Pak Mulyadi tidak dirasakan oleh Pak Mulyadi.Karena Pak Mulyadi memaksakan sakitnya itu, Pak Mulyadi merasa bersalah atas kelakuanya yang mencuri kayu, hingga akhirnya Pak Mulyadi hanya bisa berbaring lemah, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan keluarga Bu Astuti tidak ada yang membantu, hingga semua kebutuhan keluarga ditanggung Bu astuti.
“Dua tahun kemudian”
    Dua tahun lamanya Pak Mulyadi hanya bisa berbaring ditempat tidur. Pada suatu hari ada salah satu warga yang baru pindah dari jakarta, yaitu Ibu Suci.Ibu Suci memiliki dua anak yang bernama tia dan ali. Ali berusia lima tahun dan tia berusia sepuluh tahun. Ibu Suci bertempat tinggal sebelahan dengan rumah Pak Mulyadi.Ibu Suci itu baik sekali walaupun baru pindah tapi bisa berbaur dengan warga.Ibu Suci sering mendengar cerita tentang keluarga Pak Mulyadi, jadi Ibu Suci merasa iba dengan Pak Mulyadi dan ingin mengetahui keadaan Pak Mulyadi yang sedang sakit.Apabila Bu Suci mempunyai rezeki lebih Bu Suci selalu mengasih pada Bu Astuti, dan sering memberikan uang jajan pada Bu Astuti.Walaupun Bu Suci tidak kaya, tapi dia hidup sederhana. Karena suami Bu Suci bekerja di Jakarta. Karena sekarang Pak Mulyadi sudah tidak bisa apa-apa keluarga Pak Mulyadi semakin dilecehkan dan semakin dihina oleh warga.Pak Mulyadi hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang dialaminya.Orang-orang mengejek dan mencacimaki keluarga Pak Mulyadi, apalagi anak Pak Mulyadi sering dihina oleh teman-temanya.Sehingga anak Pak Mulyadi mengurungkan diri di rumah dan tidak kumpul dengan teman-temanya.Tapi anak Pak Mulyadi tetap bersabar. Karena anak Pak Mulyadi sudah berumur dua belas tahun, teman-temanya sudah di khitan semua,hanya anak Pak Mulyadi yang belum di khitan. Anak Pak Mulyadi hanya bisa merenung, Bu Astuti hanya bisa menunggu jika melihat anaknya sedang merenung.Celengan anak Pak Mulyadi juga belum mencukupi untuk khitan.Bu Astuti rela menyisihkan uang bulananya untuk membantu khitan anaknya.Ibu suci mendengar itu langsung ke rumah Bu Astuti untuk membantu khitan anak Bu Astuti.Bu Astuti merasa senang dan anaknya.Mereka berdua langsung berterimakasih pada Bu Suci.Selang beberapa hari khitan pun dimulai, walaupun tidak besa-besaran.Orang-orang heran pada keluarga Pak Muhyadi, karena sering dilecehkan dan dihina.Bahkan semua ibu-ibu teman Bu Astuti tidak percaya, karena Bu Astuti mendapat uang dari mana?Orang-orang banyak yang menghina dan melecehkanya.Orang-orang pun menghadiri acara khitanan anknya Bu astuti mereka juga memberi sumbangan walaupun tidak banyak.Acara khitanan berjalan dengan lancar.Uang sumbangan tersebut untuk berobat Pak Mulyadi dan dengan dibantu oleh pemerintah.Pak Mulyadi dirawat di rumah sakit hingga sembuh.Setelah sembuh Pak Mulyadi bekerja lagi seperti biasa dan orang-orang tidak lagi menghinanya.Keluarga Pak Mulyadi sampai sekarang hidup bahagia.
  
Penulis: Rani Nurmala Putri Kemangguan     


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.