Ads Top

Genggaman Kosong

Anugerah Tuhan pastilah tidak bisa dipungkiri lagi adanya, bahwa hal tersebut telah menyatu bagi setiap insan di dunia. Bayi yang baru dilahirkan saja telah diaugerahi beberapa kemampuan antara lain menendang, menggenggam dan menangis. Beberapa kemampuan tersebut sangat berperan sebagai fungsi interaksi agar semua keinginan bayi dapat diketahui ibunya tentang apa yang diinginkan, dan hanyalah perlu menangis, maka akhirnya tercapailah semua keinginan si bayi itu. Satu poin mengenai genggaman tersebut adalah perwujudan interaksi hati antara sang ibu dan si bayi untuk mengungkapkan saling berkasih sayang. Seringkali sang ibu menyelipkan jari telunjuk hanya untuk mendapatkan interaksi genggaman dari si bayi dan itu sudah pasti dibalas senyum ramah sebagai upahnya.
Berbagai pendapat muncul tentang arti dari bayi yang baru lahir tangannya menggenggam. Salah satunya bahwa dia dilahirkan ke dunia untuk menginterpretasikan manusia sebagai subjek yang penuh ambisi seakan-akan seluruh isi dunia akan berada pada genggamannya. Kemudian ada pula yang berpendapat bahwa genggaman ini mengingatkan pada yang sudah tua bahwa semua ambisi itu berpangkal pada keridhoan Illahi sebagai maha subjek dari semua pencapaian. Dan dikosongkan lagi dengan penyadaran bahwa semua pencapaian materi itu hanyalah titipan kenikmatan yang sangat sementara. Seberapa ikhlaskah Anda mampu menerima segala kekosongan itu setelah pengorbanan besar yang telah Anda lakukan?
Beranjaklah manusia menuju dewasa dengan segala perjalanan keduiawian, segala pemahaman baru baik pengaruh dari kebudayaan yang membentuk kebiasaan, tuntutan pencapaian dari lingkungan maupun syariat agama yang justru akhirnya membatasi semua dinamisme hidup, Saat-saat inilah mayoritas manusia mulai lupa keberangkatan hidupnya yang berangkat dari ketiadan lalu ada, kemudian dengan pasti akan ditiadakan lagi. Dan yang ada hanyalah mengukur semua pencapaian dari ukuran materialisme, seakan-akan Illahnya tidak berperan dalam perjalanan hidup. Mungkin karena Illah itu non materi (ghaib), dialah sebab yang tidak disebabkan oleh sebab apapun. Padahal yang paling penting dipelajari dan dicari adalah sebab dari semua sebab dan mengembalikan semuanya kepada Illah.
Dan kadang kita usil sekali mengukur-ukur kasih sayang yang kosong itu dengan wujud-wujud ciptaannya, apalagi saking usilnya kita juga mencoba-coba mendeskripsikan kasih sayang dengan angka-angka. Lalu dimana kerohanian kita yang tidak perlu mendeklarasikan apa-apa yang tidak terlihat itu? Masih relakah kita menggenggam hati dan pikiran kita bahwa semua gerak-gerik kita ini atas kuasa yang kosong itu dan apapun segala pencapaian karena momentum-momentum yang sengaja diatur oleh yang kosong itu?
Maka pembicaraan-pembicaraan mengenai esensi yang dilakukan oleh beberapa kalangan tergolong masih sangat absurd ketika salah satu pembicara belum mampu meyakini bahwa dirinya adalah sama dengan yang lainnya. Ada kalannya manusia berkumpul dan menyetarakan martabat, sebagaimanapun hebatnya seseorang dia hanyalah manusia, begitupun sebaliknya. Jadi, konsep yang terbentuk adalah orang bodo yang berangkat dari kekosongan mencoba bersrawung untuk belajar menggenggam yang mengalir menuju pada sebuah kemurnian dan kesejatiann diri.


Muqadimah Likuran Paseduluran #12

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.