Ads Top

Budidaya Ke-lazim-zalim-an

  Terjadi perbincangan pada perkumpulan malam itu di aula rumah Pak Ratno. Terdapat suatu keinginan mengembalikan budaya yang sudah turun-temurun selaras dengan kearifan lokal kita atau setidaknya dengan memelihara kewajaran atau bahasa kita “ya.. mémpèr- mémpèr’é wong Jawa”. Mémpèr atau dalam Bahasa Indonesia sering disebut dengan kata lazim, dan tentu saja apa yang akan dibahas di dalamnya adalah suatu hal yang baik-baik saja dan artinya nanti bisa dikata kurang greget.
  Sementara masih berbincang stagnan mengenai kondisi lingkungan sekitar Kebumen dengan kadaan menyimpang hingga mejadi suatu hal yang lazim, untuk itu agar menjadi lebih singkatnya bagaimana kalau kita cari lawan kata dari lazim agar judul tema yang akan diangkat lebih menarik. Hampir lima belas menit terjadi suasana sunyi sambil memikirkan hal tersebut, namun alhasil beberapa cetusan kata tidak menjadi sasaran tepat untuk kata yang dimaksud.
    Begini saja, tak perlu ambil pusing dan terlalu berilmiah dalam berpikir apalagi hanya untuk sebuah perkumpulan orang-orang yang bisa dikatakan masih jauh untuk kategori pintar seperti kami. Penyimpangan-penyimpangan yang sebelumnya sangat aneh di sekitar kita, kini marak terjadi dan bisa dikategorikan kezaliman hingga menjadi suatu hal yang lazim. Nah, ada suatu kata yang hampir sama dengan kata lazim yaitu zalim, mungkin ini menarik untuk kita bahas.
     Benar memang semakin majunya zaman, semakin pudar pula pemikiran, semakin acuhnya manusia terhadap keadaan sekitar. Antara pasrah dan acuh, pun semakin sulit kita membedakan. Pasrah itu terjadi ketika memang sudah begitu kerasnya manusia berusaha dan begitu terkurasnya segala daya upaya untuk mencapai atau mengubah sesuatu sehingga memang yang ditunggu hanya tabah dan do’a. Namun pada kenyataannya saat ini pasrah menjadi tolak ukur awal keacuhan manusia terhadap suatu keadaan tanpa ada upaya terlebih dahulu. Apakah hal ini yang menjadikan manifestasi peran Tuhan dalam segala keputusan-keputusan bermanusia?
    “Lazim” suatu kata yang sangat tidak asing bagi kita semua yang menunjukan kepantasan suatu hal. Hal apa saja yang memang patut dilazimi sehingga patut untuk dibudidayakan dan ditumbuh kembangkan? Di era ini kah malah kezaliman dan ketidakadilan menjadi ruh dalam ranah kelaziman. Kita sudah tidak kaget lagi dengan berita korupsi. Jika kita mundur sepuluh tahun atau lebih, berita korupsi masih menjadi berita yang besar, heboh dan memalukan. Dan realita saat ini justru jadi berita biasa saja bahkan wajib ada untuk memenuhi syahwat media, apa tujuannya?
    Sungguh, masyarakat pun seakan-akan terhipnotis bahwa korupsi merupakan kegiataan yang lazim dilakukan manusia Indonesia pada zaman tertentu, seakan-akan hal tersebut tidak ada peengaruhnya bagi masyarakat “korupsi ya korupsi” – “penderitaan rakyat ya penderitaan rakyat”.
Saya kira kita semua harus mulai teliti dan mentadaburi semua kejadian sekarang ini, bahwa keadaan ini pasti kita juga penyebabnya dan kita juga yang akan menanggung akibatnya. Apakah sudah sepantasnya berbagai macam kelaziman sudah menjadi hal yang lazim dan patut dilazim-lazimkan? Mari kita cari bersama batas-batas dan upaya perbaikannya.
  
edisi #18 24 September 2016

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.