Ads Top

Ber-Maiyah

Ketika teman saya meminta saya untuk menuliskan sebuah artikel tentang Maiyah, saya langsung bertanya-tanya, apakah bisa, apakah tulisan saya layak, apakah jalan Maiyah yang tinggi telah saya kuasai. Seketika saya teringat pada firman Allah, yang artinya:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaf: 3)
Sungguh masih jauh apa yang saya tuliskan ini, dengan apa yang ada pada diri saya. Hakekat kebersamaan dalam maiyah, yang mencairkan manusia untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, berbuat karena diri sendiri, untuk kemudian dipersembahkan hanya pada Illahi, terasa belum ada di dalam diri dan jiwa saya.
Nawaitu saya, hanya ingin menyampaikan salam Maiyah, simpul yang  mengikat dan yang menyatukan kita semua. Sejauh yang saya ketahui, berma’yah bukan untuk mencari seorang guru sejati. Bukan untuk mengagungkan seorang ustadz, seorang pemimpin, seorang kiai. Berma’iyah adalah mengalirkan air diri kedalam pori-pori tanah kebenaran hakiki. Bukan melaksanakan dan mengikuti perintah guru. Cak Nun sendiri berkata, 
"Awas kalau Sami'na Wa Atho'na (kami dengar dan kami taat) sama saya....tak tonyo ndasmu..! Karena di maiyah ini semua orang berposisi sama. Di sini tidak ada kiai-nya, tidak ada imam-nya, tidak ada mursid-nya, tidak ada syekh-nya. Yang harus anda taati hanya Rasullulah dan Allah..bukan saya...saya nggak mau..!.”
Kepada segenap saudaraku di Likuran Paseduluran, sudah seyogianya kita memahami apa yang dikatakan oleh pendiri Ma’iyah tersebut, untuk tidak mengkultuskan seseorang. Untuk tidak meninggikan seorang dengan memandangnya sebagai orang suci. Sehingga harus dipatuhi dan ditaati segala tindak dan kata-katanya.
Hanya pada Allah dan RasulNya kita taat. Andai kata ada seorang yang ilmunya dilebihkan oleh Allah untuk menuntun kita pada jalanNya, boleh kita menghrmati dan meninggikannya sebagaimana Allah juga meninggikan posisinya. Tapi jangan buat ia riya, jangan jadikan ia sombong dan pamrih terhadap ilmu yang ia miliki. Jangan buat ia munafik (kata-katanya bijak di depan, sementara dirinya masih suka dipuji. Jadikan ruhnya, dan ruh kita, sebagai jembatan yang menghantarkan kita pada sisiNya. Karena sesungguhnya, Ruh tidak bisa eksis dalam jiwa yang selalu pamrih, riya, dan munafik sedangkan Ruh adalah jembatan kebersamaan dengan Allah.
Andaikata kita meninggikan orang karena ketinggian ilmunya, jangan puji ia di depannya, karena itu akan membunuh jiwa mulianya. Maka berma’iyah lah dengan ketundukan penuh, hanya mengharap Ridha-Nya. Jangan merasa diri ini lebih tinggi dari yang lain. Hujamkan dan rendahkan diri di hadapan Illahi, jangan merasa sempurna. Jangan merasa berjasa, jangan merasa karena engkau Ma’iyah ini ada. Demi Allah, semua ini terjadi, hanya atas karena IjinNya.
Selamat berma’iyah.

Tanggamus, 23 Agustus 2016

Penulis : Chotibul Umam




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.