Ads Top

Agar Tetap Bisa Makan










Oleh: Ado (Gending Bodo)
     Simpel saja seorang anak berkata “saya ingin jadi petani agar tetap bisa makan”. Demikianlah sebuah cuplikan dari puisi yang dibawakan pada pentas dalam acara “Alhamdulillah English Community” di desa Giripurno Kecamatan Karanganyar beberapa waktu lalu. Malam itu kelompok musik Gending Bodo dengan saya di dalamnya mendapat apresiasi dengan diundangnya kami sebagai pengisi iringan musik pada acara tersebut.

    Berada di pelosok desa di daerah Karanganyar yang jauh dari gemerlapnya lampu kota malam hari adalah suatu hal yang asyik bagi maupun masyarakat sekitar, dengan bunyi gamelan saat check sound sebelum acara membuat banyak orang tertarik untuk mendekat pada sumber suara. Terbukti dari yang disampaikan oleh panitia yang hanya membagikan 50 undangan saja, ternyata jauh dari perkiraan itu banyak masyarakat ikut serta secara antusias meramaikan acara tersebut.

    Yang saya amati, meskipun komunitas mereka adalah kebahasaan Inggris, hal ini bukanlah menjadi penghalang mereka untuk menjadi orang desa yang sederhana dengan karakter kuat yang memiliki intelektual tinggi juga. Berulang kali mencoba berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, namun tetap saja logatnya ndesa juga, dan selalu tak disengaja terselip Basa Jawa ngapaknya.

    Lama saya perhatikan dari seluruh masyarakat yang hadir, hanya terlihat anak-anak kecil sekitar umur 5 tahun hingga anak anak sekolah kira-kira setara sekolah SMA, lanjut orang tua-orang tua mereka. Saya kira, ada harapan saya untuk berkenalan dengan gadis desa yang sekiranya sudah lulus sekolah sebagai sarana ikhtiar saya dalam mencari pasangan hidup, tapi sayang tak ada satupun dari mereka yang terlihat ikut serta dalam acara tersebut, begitu juga dengan kaum laki-laki sepantaran itu.

     Langsung saja, itu menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini, yaitu bangga dengan desa sendiri dan keinginan menjadi petani yang saya rasa jika anak itu telah tumbuh dewasa, Ia akan lupa dengan statementnya dan tetap mengikuti trend dengan bekerja di luar kota dan berpenghasilan banyak dan pulang kampung menjadi orang sukses.

Merasa terhina menjadi orang kampung? Dengan waktu berkala harus pulang kampung, dan berbuat kesalahan dibilang kampungan? Apa yang menjadikan pikiran bahwa orang desa terkesan norak dan menjijikan? Sedang kehidupan perkotaan glamour dan elegant?

Titik inilah yang menjadi mayoritas pemikiran manusia sehingga pola pikir yang terbentuk adalah orang kota maju, dengan segala peralatan dan kebiasaan hidup yang begitu praktis dengan banyak memotong dristibusi aktifitas untuk mendapat hasil yang sama. Orang kota merasa mempunyai grade di atas orang-orang desa sehingga pada saat pulang kampung merasa sangat tersanjung, padahal sebenarnya orang-orang dengan banyak maklum menanggapi sikap mereka yang hampir kehilangan unggah-ungguh.

    Jadi, apakah orang-orang di pedesaan itu sudah kehilangan akal untuk membuat dirinya bertahan dalam lingkup kehidupannya sejak kecil dengan tidak perlu berkeinginan menjajahi dunia perkotaan. Atau haruskah berpikir se-simpel perkataan anak kecil tadi, “saya ingin jadi petani agar tetap bisa makan”.

reportase Giripurno bareng "Ayo Nandur English Community" 8 April 2017

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.