Ads Top

Thiwul takhayul


Menurut cerita rakyat di Tuban, bibit pohon singkong berasal dari belanda. Singkong ini dipercaya dapat meracuni siapa saja yang memakannya. Nah, rupanya belanda bertujuan untuk membuat masyarakat indonesia makin menderita dengan membawakan bibit singkong ini untuk dipaksa ditanam yang kemudian dikonsumsi oleh warga pribumi.

Tuhan berkehendak lain, ternyata orang Indonesia lebih pandai dalam mengolah singkong. Mungkin karena faktor terpaksa. Sudah sangat susah mencari makan, dan adanya hanya singkong itu, maka dibuatlah singkong tersebut semacam nasi. Orang-orang banyak yang menamai nasi singkong ini dengan sebutan oyek, thiwul, inthil,dll. Hingga berlaku bertahun-tahun.

Agama globalisasi menawarkan modernitas. Semua serba canggih, terbaru, dan tidak tradisional. Dengan iming-iming efisien dan praktis. Dengan teori ilmiahnya yang menganggap bahwa semua harus perlu pembuktian secara nyata. Thiwul ini dianggap makanan tradisional yang secara mindset dikategorikan sebagai makanan yang tidak terbaru, dan bagi siapa saja yang memakanannya dianggap orang kuno. Dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman yang modern.

Di Yogyakarta, tepatnya daerah Gunung Kidul, mayoritas masyarakatnya masih mengkonsumsi thiwul sebagai makanan pokok. Namun sekitar tahun 90-an agama globalisasi ini mulai masuk ke Gunung Kidul, masyaraktnya dipengaruhi tentang hal-hal yang menjanjikan kemakmuran yang berlimpah, gaya hidup yang modern, hingga berlahan meninggalkan thiwul dan mengganti dengan nasi biasa.

Lambat laun berganti tahun masuklah pengusaha dengan nilai investor yang cukup menggiurkan mendirikan pabrik thiwul, memproduksi besar-besaran dengan target warga sekitar untuk menjadi pekerja yang di bayar murah, sekaligus konsumen.

Jadi, saya rasa bahwa takhayul itu adalah bagaimana seseorang menilai sesuatu. Jika kamu meyakini kalau daging kambing bisa buat darah tinggi naik, ya nilai itulah yang akan kamu terima, dan sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.