Ads Top

Sejarah Jamjaneng Kebumen

 

Apakah nJenengan Tahu Janengan?

Terdengar sayup-sayup di malam  hari dari  kejauhan suara  bambu yang dipukul-pukul  dengan  intonasi  cepat terkadang  lambat, ada sebagian orang yang merasa  terganggu dengan  suara ini di malam hari  dari  beberapa  alat  musik  tradisional tersebut, yang dibunyikan oleh bapak-bapak dan usia paruh baya bahkan ada juga  ibu-ibu tua. Sangat jarang sekali ada anak muda memainkan musik jenis ini. Alat  musik tersebut terdiri  dari : kemeng,  ukel, kendang, gong, kempul/thuling. Tanpa pengeras suarapun dari kejauhan akan sangat jelas didengar terutama suara thulingnya yang terbuat dari bambu. Konon ini hanya ada di kota beriman alias Kebumen yang bernama Kesenian JAMJANENG / JANENGAN.

Secara  singkat sejarah dari kesenian jamjaneng / janengan ini erat kaitannya dengan keraton Mataram Islam. Walaupun sumber sejarah kesenian ini banyak versinya, namun sumber paling akurat awal kemunculan kesenian jamjaneng berkaitan dengan adanya acara sekaten di Yogyakarta. Karena pada zaman dahulu masyarakat Kebumen yang nota-benenya berbahasa jawa masih sedikit yang beragama Islam maka seorang ulama membuat kesenian ini sebagai media penyebaran Islam. Kesenian Jamjaneng terinspirasi dari acara Sekaten yang  menggunakan alat musik bermacam-macam, yang diadakan di kota Yogyakarta oleh sunan  Kalijaga. Dari alat musik yang bermacam-macam itu, pada tahun 1824 M seorang ulama bernama Kyai Jamjani berasal dari Kebumen bagian timur, ingin memiliki alat musik yang sama dengan alat yang digunakan pada acara sekaten tersebut. Kemudian para seniman dikumpulkan untuk membantu membuat alat-alat musik bersama Kyai Jamjani. Namun karena alat-alat tersebut seperti saron, demung, gong dsb tidak terjangkau maka diganti dengan alat berbahan baku yang ada di sekitar daerah sendiri seperti dari poksor kayu glugu (kayu kelapa) sebagai bahan baku gong, kulit sapi untuk membrannya dan thulingnya terbuat dari bambu. Karena mudahnya bahan baku tersebut maka masyarakat secara mudah gethok tular (memberi kabar) pada masyarakat kebumen. Hampir tiap hajatan zaman dahulu banyak warga yang menampilkan jamjaneng sebagai hiburan disamping wayang, ebeg, cepetan, lengger dsb terutama jika bulan Mulud ( kelahiran Nabi Muhammad SAW)

Isi kesenian jamjaneng berupa syair lagu sholawat yang dipadukan dengan syair Jawa. Kesenian jamjaneng ini lebih populer dengan menggunakan huruf latin yang ditransliterasi dari Arab pegon dikarenakan makin banyak masyarakat awam yang kesusahan dalam membaca naskah Arab Pegon. Syair-syair yang digunakan dalam kesenian jamjaneng ini ada yang masih menggunakan bahasa Arab asli dan ada yang menggunakan bahasa Jawa. Adapun isi dari lagu-lagu jamjaneng yang biasa dibawakan antara lain berjudul : Assalam, Bismillahirrohmanirrohim, La ilaha illalloh, Dzikrulloh, Yo Elingo, Bagus Endi, Sugih Endi, Ayu Endi dan sebagainya. Dan sebagaian ada juga yang mengambil dari Kitab Al barzanji.

Makna-makna yang terkandung dalam syair-syair lagu kesenian jamjaneng adalah:

  1. judul “Assalam” makna yang terkandung di dalam syair ini, mengajarkan kita tentang pengucapan salam. Apabila kita berjumpa dengan seseorang ataupun berkumpul di suatu majlis dan hendaklah menunjukan wajah yang ceria dan gembira.
  2. Syair berjudul “Laa Ilaaha illallah” makna yang terkandung sangat mendalam, yakni merupakan inti dasar Akidah Islam yakni syahadat tauhid dan syahadat Rasul.
  3. Syair yang berjudul “Bismillahirrohmanirrohim” menjelaskan tentang sifat Alloh SWT yang maha besar dan maha suci, juga menjelaskan tentang macam-macam mu’jizat Nabi beberapa diantaranya yaitu  4: mukjizat yang pertama adalah Kitab suci al-Qur’an, kedua wajahnya silau berseri, ketiga selalu di ikuti awan atau mendung ketika beliau bepergian, mukjizat Nabi yang ke empat ialah ketika beliau berdagang selalu habis dan mendapat untung. 
  4. Syair yang berjudul “Dzikrulloh” dan “Yo Elingo” ini berisikan ajakan untuk selalu mengingat Allah baik secara jahr maupun sir sebagai Tuhan yang menjadi muara kehidupan.
  5. Syair yang berjudul “Bagus Endi” mengandung makna bahwa sebagai manusia yang hidup di dunia tidak boleh bersikap sombong gara-gara ketampanan yang dimiliki. Sebab sikap sombong yang dimiliki manusia adalah hasutan dari setan. Bertemakan Sosial.
  6. Syair yang berjudul “Sugeh Endi” mengandung makna bahwa sebagai manusia yang hidup dengan harta yang melimpah tidak boleh kikir dan lupa kepada Allah SWT. Karena dalam sebagian harta yang kita miliki adalah hak fakir miskin yang harus disantuni.
  7. Syair yang berjudul “Ayu Endi” penulis lebih menafsirkan penutupan aurat bagi kaum wanita dengan cara berhijab sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Peranan kesenian jamjaneng antara lain dapat sebagai media pengajaran keagamaan, sarana hiburan, kontribusi integrasi sosial, pelestarian budaya lokal,  sarana pendidikan, dan sebagai sarana komunikasi.

Sejak tahun 2010 sudah terbentuk Paguyuban Seni Tradisional Jamjaneng di kabupaten kebumen (PASTRAJAKKEB) karena jamjaneng termasuk kesenian asli dari kebumen yang sejak dahulu kala dan hampir tiap desa memiliki group musik jamjaneng ini, terbukti ada 400 group yang pernah dicatat oleh Pastrajakkeb. Namun akhir-akhir ini banyak yang tidak aktif karena peserta / pemain (seniman) jamjaneng ada yang sudah meninggal, tua, bahkan alatnya rusak dimakan rayap. Maka dari itu PASTRAJAKKEB memediasi dengan cara mengadakan pertemuan rutin tiap bulan di masing-masing kecamatan sebagai ketua tingkat kabupaten yakni Romo KHR. Muhatamim Al kaff dari Somalangu Kebumen. Maka kepada semua warga kebumen alangkah baiknya jika ikut melestarikan budaya kesenin jamjaneng ini dengan cara latihan musik jamjaneng, jika ada hajatan menampilkannya / minimal mendengarkan di radio In FM tiap malam jumat pk. 21.00 / download di youtube. Semoga bisa menjadi khasanah ilmu kita sebagai pelengkap budaya kesenian asli Kebumen. SEKIAN.

oleh Zen Muttaqin

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.