Ads Top

Tauhid

Tauhid artinya mengesakan. Mengesakan yang dimaksud Bukan Allah. Allah sudah Esa. Akan tetapi, mengesakan segala sesuatu yang diciptakan Allah. Artinya, tauhid itu mengesakan segala sesuatu, termasuk diri kita, kepada Allah Swt. karena yang ada pada segala sesuatu dan yang ada pada diri kita ialah sebenarnya Af'al (Perbuatan) Allah, Asma (Nama) Allah, Sifat Allah, dan Zat Allah.

Keempat macam inilah yang perlu kita kenal dan kita ketahui karena kenyataan hakikatnya itu ada pada kita, seperti

Af'al Allah : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah tubuh atau jasad kita;
Asma Allah : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah hati
Sifat Allah : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah nyawa
Zat Allah : kenyataan hakikatnya pada diri kita adalah rahasia.

Mengapa Zat dikatakan rahasia? 
Karena yang namanya Zat itu tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak berbau, tidak bertempat, dan lain-lain.

Karena Zat itu laysa kamitslihi syai'un , tidak ada seumpamanya. Ini baru Zat, sedangkan Allah terlebih laysa kamitslihi syaiun.

Ini sebabnya Rasulullah melarang memikir-pikirkan soal Zat Allah: bukan karena tidak boleh, melainkan karena memang tidak bisa! Ini baru Zat-Nya, apalagi Allah Pribadi: Sang Maha Pencipta.

Memikir-pikirkan Zat Allah itu bukan tidak boleh, melainkan karena memang tidak bisa!
Memaksakan yang mustahil itulah yang menimbulkan penyimpangan.

Keempat macam yang ada pada segala sesuatu dan ada pada diri kita inilah yang perlu diesakan pada Allah.

Bukan Allah-nya yang diesakan.

Kalau kita sudah tahu hakikat yang empat ini, bahwa
Tubuh hakikatnya Af'al Allah,
Hati hakikatnya Asma Allah,
Nyawa hakikatnya Sifat Allah, dan
Rahasia hakikatnya Zat Allah
tentulah kita sadari, pada diri kita itu tidak ada tubuh, tidak ada hati, tidak ada nyawa, tidak ada rahasia.

Yang ada adalah Af'al Allah, Asma Allah, Sifat Allah, dan Zat Allah.
Inilah maksud sebenarnya perkataan "makhluk itu tidak punya wujud hakiki ".

Inilah makna sebenarnya " sekalian makhluk itu fana di hadirat Ilahi Rabbi".

Misal; kita selama ini berjalan di atas tanah. Kita percayabahwa tanah ini memiliki kekuatan untuk menopang kita saat berjalan. Begitu kita melangkah kaki di atasnya, tidak ada ragu lagi. Beda dengan kaca. Kita belum bisa percaya sepenuhnya kalau dia mampu memiliki kekuatan spserti tanah. Begitulah pula kalau kita sudah kenal dengan Af'al Allah, mau apa lagi yang diragukan?

Penulis: im

No comments:

Powered by Blogger.