Ads Top

Peradaban Televisi dan Pengaruhnya Bagi Perkembangan Kepribadian Bangsa

Berdasarkan pengalaman yang saya alami, televisi baru muncul sekitar tahun 80-an. Di tahun 90-an sudah ada beberapa yang memiliki, namun jika dalam skala desa, masih bisa dihitung dengan jari. Ini baru dilihat sisi televisi dari segi fisiknya. Rumusan-rumusan yang masih satu fase dengan prinsipnya ialah hiburan atau entertainment. Tapi kita tidak akan membahas terlalu dalam tentang itu, melainkan lebih pada perkembangan masa depan televisi itu. Tapi sekali lagi, bukan juga soal tekhnologinya, dari sisi eksistensi dalam mempengaruhi setiap penontonnya.

Yang jika kita lihat pada tahun-tahun belakangan ini, TV mau ndak mau, harus berorientasi pada bisnis. Bukan lagi soal pertunjukan yang di syuting diambil gambarnya agar banyak yang tahu, atau sering biasa disebut artis. Hal ini masih wajar jika hubungannya dengan honor para pemain dan kru TV. Lalu apa masalahnya?

Masalahnya terletak dari pola pikir yang mempermasalahkan hal buruknya. Saya disini menulis sebagai penikmat TV merasa senang dan terhibur dengan adanya program-programnya, walaupun tidak semua sih. Tapi setidaknya, sudah bisa merasakan manfaatnya atau untuk sekedar menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Maka, dari sini bisa diambil kesimpulan sementara bahwa TV juga ada manfaat baiknya dan berpotensi manfaat yang buruk juga.

Manfaat itu bisa kita rasakan tatkala mengerti dan benar-benar paham apa makna dibalik dari penayangan salah satu program acara itu. Beberapa tahun yang lalu, penayangan film yang berbau pornografi ditentang oleh sebagian kelompok anti-pornografi. Bagaimana langkah yang dilakukan oleh saudara kita itu, apakah segitu beratnya salah dari program yang berbau pornografi? Atau apapun lah itu namanya.

Film keras maupun porno di TV ridak akan mempengaruhikehidupan masyarakat Indonesia, yang sebagian besar orang desa. Yang terpengaruh tayangan jenis ini hanyalah sebagian kecil generasi muda perkotaan atau orang desa yang ke kota, yang tidak punya akar kuat sebagai dasar kepribadiannya.

Sementara itu, masyarakat tradisionil cenderug menafsirkan apa yang dilihat dengan alam pikirannya yang sudah terdidik dan sudah ada dasar moral. Kalaupun ada erubahan perilaku, itu sifatnya hanya sementara. Dalam pengamatan dan pengalaman saya, orang desa dalam melihat suatu tayangan biasanya menilainya tidak secara keseluruhanjalan cerita, melainkan per adegan. Kalau nonton adegan perkelahian ia tidak memikirkan sebab-akibatnya, tetapi keindahan berkelahinya, ramai tidaknya.  Mereka punya persepsi sendiri dalam menyeleksi program TV.

Orisinilitas cara berpikir masyarakat tradisionl itu sangat kuat hingga tidak begitu mempermasalahkan soal isi program. Hal ini berbeda dengan generasi muda masyarakat perkotaan. Mereka tidak mengalami pendidikan secara tradisional. Dikhawatirkan mereka lebih mudah terpengaruh dampak negatif dari tayangan TV.

Dan yang jauh lebih dikhawatirkan lagi bukan di programnya, melainkan soal kapan datangnya televisi itu. Karena dari situ, ritme kehidupan masyarakat bisa rusak. Misalnya saja televisi menayangkan program acara yang bagus pada saat orang-orang biasanya pergi sembahyang.

 

Penulis : Mubaedi

No comments:

Powered by Blogger.