Ads Top

Menemukan Kembali Indonesia Identitas

Thats Idonesian cigarette? Pertanyaan yang muncul disertai tatapan tatapan aneh orang orang disekeliling si penanya, ketika penulis mulai ritual memijit rokok kretek khas indonesia di ruang merokok bandara salah satu kota besar di kawasan asia barat, hanya senyuman dan anggukan penulis kemudian menyalakan api dan membakar sebatang rokok seusai dipijit halus, semakin yakin mereka ketika mencium aroma khas cengkeh yang tercampur apik dengan cengkeh terbaik khas nusantara. Perpaduan yang cantik antara tembakau dan cengkeh terbaik kemudian menghasilkan aroma khas kretek nusantara, hal ini juga terjadi pada komoditi lain semisal kopi, batik, bahkan ukiran yang memang mempunyai ciri khusus negeri bekas jajahan VOC dan nipon ini.
Masyarakat di timur tengah pun mengenal ciri khas dari manusia indonesia, yang jauh berbeda sekali dengan kebanyakan masyarakat asia tenggara yang notabene adalah serumpun, dengan mudah mereka mengidentisfikasi orang orang indonesia dengan beberapa tatapan saja, masyarakat kita meskipun berpostur dibawah rata rata masyarakat arab dan eropa, cenderung pemberani atau boleh dikatakan nekat. Bagaimana tidak, para pekerja yang berasal dari negeri ini tanpa bekal bahasa dan kemampuan mumpuni terlebih dahulu, berani mengadu nasib ke negeri jauh dengan modal pas pasan, begitu pula para santri, pelajar dan mahasiswa indonesia di negeri jauh sana, dengan bekal yang minim berani berangkat demi tercapai tujuan mereka. Di lain sisi, banyak ditemukan dalam tulisan tulisan di dunia maya, penulis menemukan banyak sekali traveler dari manca negara berkomentar tentang indahnya negeri ini, juga tak lupa soal keramahtamahan masyarakat bangsa ini, membuat mereka semakin jatuh cinta dan selalu berharap untuk kembali berkunjung ke indonesia.
Cerita diatas menandakan bahwa sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang mempunyai ke- khas an tersendiri dibandingkan bangsa bangsa lain, dan sudah seharusnya bangga akan potensi yang kita miliki. Kisah di atas tadi mengisyaratkan kepada kita bahwa seharusnya identitas bangsa ini harus selalu melekat pada seluruh anak negeri, dan sadar siapa sebenarnya kita ini. Dalam hadisnya nabi Muhammad SAW mengatakan barangsiapa mengenal dirinya, maka dia mengenal tuhannya. Sila ketuhanan yang maha esa hanya semboyan belaka bila kita tidak mengenal identitas diri kita.
Kita mempunyai alam yang sangat kaya, tanah yang subur, sumber daya yang melimpah, didukung letak geografis yang berpotensi menjadi jantung perekonomian dunia karena mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi apa lacur, yang terjadi adalah kesenjangan diantara sesama anak bangsa, yang hampir merata dalam segala bidang. Hal itu tidak lain disebabkan karena bangsa ini tidak mengenal siapa sebenarnya diri kita ini, yang berakibat hilangnya identitas kita sebagai sebuah bangsa besar, bangsa yang disegani oleh dunia.
Dalam muqoddimahnya Ibnu kholdun mengatakan, iklim sangat berpengaruh atas pola hidup masyarakat dan tingkat kebahagiaan manusia yang hidup di negeri maritim lebih tinggi daripada yang berada di dataran tinggi atau pegunungan. Anugerah ini tentunya harus kita manfaatkan sebaik baiknya, dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi kita bisa menjadi masyarakat waras, masyarakat yang selalu berpikir jernih, selalu berkembang pola hidupnya, jauh dari kata stagnan, masyarakat yang selalu meningkat sumber daya manusiaanya.
Mental bangsa yang kerdil menjadikan kita selalu menempati ranking terendah diantara bangsa bangsa lain di dunia, sudah seharusnya kita renungkan kembali siapa jati diri kita sebenarnya. Kondisi semacam ini menharuskan kita kembali kepada titik permulaan bagi seluruh anak bangsa untuk kembali mengingat dari siapa kita lahir, dan merenungkan tujuan utama dari sebuah kemerdekaan.
Apa yang terjadi saat sekarang ini sudah melenceng jauh dari tujuan kita sebagai bangsa, identitas sebagai negeri yang konon sebagai negeri tua, negeri yang pernah menguasai sepertiga jagad seakan hilang ditelan masa. Rasa cinta pada negeri yang mulai luntur, tergerus oleh arus modernitas, hilang bersama datangnya komoditi ekspor, baik dalam rupa barang, bentuk budaya, dan warna lainnya, yang berakibat hilangnya jadi diri dari para generasi penerus bangsa. Prof. DR. Ali Jumah berkata, tidak seharusnya rasa cinta tanah air terhenti pada tahap perasaaan saja, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kebaikan kebaikan yang bermanfaat, untuk diri sendiri maupun masyarakat.

Penulis: AM

No comments:

Powered by Blogger.