Ads Top

BangJoKu – Pembatasan Penglihatan Manusia

Ini merupakan kedua kalinya saya menulis untuk Likuran Paseduluran, yang pertama saya tuliskan dalam betuk liputan, sesuai kaedah jurnalistik, terbit di www.beritakebumen.info. Setelah itu, saya lama tidak ikut kegiatan mereka, dikarenakan lokasinya yang jauh serta waktunya yang kurang bersahabat dengan saya, yakni pada malam hari. Kata seorang yang maunya disebut brondong, saya itu pemuda yang sensitif. Heehehe..

Pemuda sensitif, menurunkan akreditasi banget sebutannya. Tapi tak mengapa, sensitif identik dengan kepekaan. Berharap saja, itu sebuah doa agar saya bisa peka untuk menimbulkan sesuatu yang bermanfaat nantinya. Meskipun sekarang belum. Optimis...

Sebenarnya perkara tersebut juga sesuai dengan tema yang saya tuliskan ini, Pembatasan Penglihatan Manusia. Bagi saya sangat menjaga untuk tidak beraktifitas terlalu sering pada waktu malam hari di luar. Karena penglihatan saya, itu tidak baik untuk kesehatan. Terutama kesehatan saya sendiri yang pernah mengalami sakit dan jadi sensitif dengan angin malam. Namun, beda dengan yang lainnya. Bisa jadi malam adalah ladang untuk beraktifitas dan bersosialita. Berarti ada batasan secara penglihatan antara saya dengan yang lainnya.

Oke, balik lagi ke Likuran Paseduluran. Pada acara Likuran Paseduluran tanggal 24 malam minggu kemaren, alhamdulillah saya bisa menyempatkan hadir meskipun tidak sampai selesai. Itupun karena lokasi acaranya dekat dengan rumah.

Sebelum masuk pembahasan, mohon ijin untuk berpendapat ya. Sebenarnya ada yang hilang ketika acara likuran paseduluran kemaren, ini menurut saya. Soalnya, acara diskusi yang saya tunggu seperti nggak ada. Acaranya kaya semacam sambutan semua, saya amati dari peserta yang hadir malah lebih suka dengan alunan musik Sang Kyai dan Gending Bodo. Padahal, esensi likuran paseduluran yang menarik buat saya adalah diskusi dengan audiens, bukan Cuma sambutan tamu undangan saja. Tapi, keseluruhan menarik sih. Diterima juga.

Maaf ya admin likuran paseduluran saya ngritik sedikit sebelum masuk ke pembahasan. Seharusnya juga ada pembatasan waktu untuk sambutan, agar esensi Likuran Paseduluran berupa diskusi tidak terlupakan. 

Sekarang kita masuk ke pembahasan soal tema Bangjoku – pembatasan penglihatan manusia. Apa sih maksudnya? Dan apa juga makna dari kata BangJoKu?

BangJoKu adalah tema dari acara Likuran Paseduluran di pendopo keluarahan Kebumen kemaren sabtu malam minggu. Sedangkan BangJoKu sendiri merupakan sebuah singkatan, yakni Abang Ijo dan Kuning. Di kampung saya, nyebut lampu lalu lintas yang biasanya di perempatan jalan-jalan utama berdiri tegak dengan gagahnya itu dengan sebutan Lampu Bangjo. Kuningnya mana? Itulah yang sampai sekarang jadi pertanyaan saya, kenapa kuningnya tidak disebutkan. 

Setiap hari setiap waktu, melewati perempatan yang terlihat hanya warna Merah, Kuning, dan Hijau. Akh, kenapa dipilih warna itu juga. Tiba-tiba pikiran sempat melesat bak ultraman yang tidak jelas tujuannya. Saya mikir, apa karena dulu itu merupakan warna-warna 3 Partai di Indonesia ya? Yang saat itu menjadi penguasanya? Akh lupakan, mentang-mentang mau 2019 dihubungkan sama politik.
Tapi, itu tetep masih jadi misteri. Soalnya disangkut pautkan partai, berarti hebat juga ya, soalnya di negara lain juga warna merah, kuning dan hijau. Apa partai-partai tersebut ekspansi kesana. Haduuh, bahas yang nggak penting.

Balik lagi ke BangJoKu, abang ijo dan kuning. Abang itu merah, Ijo itu Hijau dan Kuning ya kuning. Sebenarnya, ada banyak warna dan nanti akan masuk dalam pembahasannya juga. 

Udah deh jangan banyak cingcong? To the point saja pada pokok bahasannya. Nggak usah ngelantur terlalu jauh, kebiasaanmu itu Gi....  maaf maaf.

Jadi, hubungannya bangjoku dengan pembatasan penglihatan manusia itu apa? Kita semua tau, fungsi dari warna-warna tersebut kan? Merah harus berhenti, kuning adalah hati-hati dengan mengurangi kecepatan, dan hijau langsung tanjap alias jalan. Dari fungsi ketiganya, ketika melihat dari segi fungsi dari warnanya, jelas akan membatasi penglihatan kita, ya nggak? Ketiganya beda, dan sangat berbeda. 

Namun, jika kita menyebutnya dengan Lampu Lalu Lintas. Tidak ada tuh namanya perbedaan, semua dalam satu kesatuan. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semua tergantung dari segi mana kita memandangnya, dari yang menyatukan atau yang membedakan. 

Jika kita fanatik dengan satu warna saja, nggak guna tuh Lampu Lalu Lintas. Misal ya, ini misalnya saja, jangan dilakukan dalam dunia nyata. Saya begitu fanatik dengan warna Hijau, kemudian tiap warna hijau saya malah berhenti pengen ngeliatin terus. Begitu sebaliknya, jika saya kurang suka dengan warna merah atau kuning, ya saya lewati saja tanpa melihatnya. Akibatnya apa coba? Chaos, kacau!!
Kenapa? Merah yang seharusnya berhenti malah jalan, hijau yang seharusnya jalan malah berhenti. Bukan bahaya untuk kita sendiri kekacauan tersebut, tapi juga bahaya untuk orang lain. Mungkin seperti itulah pengibaratannya, jika dari bangjo saja sudah terlihat, kalau ada pembatasan penglihatan manusia dan kita sendiri yang membatasinya.
Kalau diperluas lagi sesuai realita yang sedang terjadi saat ini, jelas sedang dicanangkan suatu agenda agar setiap indivitu itu melakukan pembatasan penglihatannya. Dengan banyak cara yang dilakukan, baik secara politik maupun dengan isu-isu sara. Iya ataua Ya?
Kita dibuat terlalu fanatik, beberapa oknum disetting untuk meluncurkan isu-isu, atau malah beberapa oknum emang menggoreng isu-isu tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Misal nih ya, banyak blog-blog yang acak kadul, namun disebarkan oleh page-page facebook yang mempunyai ratusan like. Atau melalui cara yang lain. Tujuannya apa? Untuk mengeruk keuntungan.

Korbannya siapa? Ya kita, terutama orang-orang awam yang bisanya cuma makan tanpa merasakan ini masakannya enak atau enggak. Itu apa aja bahannya yang ada dalam masakan tersebut, kalau memandangnya dengan batasan pula, efeknya juga sama. Yang dipandang Cuma tahunya saja, atau sayurnya saja mungkin. Lagi-lagi pembatasan penglihatan yang menyempitkan cara berpikir kita. Makanya sering kita ikutan baper, ikutan emosi, ketika ada berita yang dishare apalagi yang menyangkut apa yang kita sukai. Pasti deh, langsung emosi tanpa tau kebenarannya.

Coba pikirkan, sekarang kita lihat warna yang lain, misal pelangi. Pelangi itu terdiri dari mejikuhibiniu. 7 warna yang bisa kita bedakan, sebenarnya masih ada banyak warnanya. Pelangi kita pandang begitu indah, enak, dan nyaman disaksikan dengan seksama. Kenapa bisa begitu? Karena kita memandangnya sebagai pelangi, bukan sebagai warna dari salah satu 7 warna tersebut. 

Ada sesuatu yang menyatukan perbedaan, dan itu membuat tenteram. Nah negeri ini punya sesuatu tersebut, yakni Indonesia. Tanpa perlu mengatakan saya Pancasila saya Indonesia, tapi cukup memupuk dalam jiwa bahwa SAYA INDONESIA. Saat dalam jiwa sudah terpupuk akan hal itu, sudah pasti kita akan menjaganya, tanpa ada niatan untuk menghancurkan, apalagi menggerogoti dengan cara korupsi, akh itu sudah basi. 

Bukan lagi untuk sebuah kekuasaan, atau manjanya mendapatkan suapan dari sang juragan. Tapi untuk INDONESIA lah, seluruh elemen masyarakat ini bersatu.

Dan itu sudah terlihat saat ada perhelatan Sepak Bola yang diikuti oleh timnas sepak bola Indonesia. Bisa tuh, semua bersatu tanpa ada kebencian satu sama lain, semua fokus support untuk Timnas Indonesia.

Meskipun masih selalu ada juga oknum yang menyelipkan politik. Dan oknum-oknum tersebut yang merusak persatuan. 

Ingat kata Bung Karno, “Beri saya 10 Pemuda, maka akan saya guncangkan dunia”. Berarti sekarang embrio kebangkitan, embrio perubahan ada pada pemuda. Untuk tidak melakukan pembatasan penglihatan. Untuk tetap melihat Ketuhanan yang Maha Esa sehingga jauh dari kesombongan serta keinginan untuk menguasai, karena Tuhan yang Esa lah penguasanya. Untuk melihat dengan rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab tanpa membedakan satu sama lain, sehingga tercipta rasa persatuan Indonesia, dimana rasa satu yang bisa menggerakan para pahlawan memerdekakan negara yang kaya ini. Untuk melihat bahwa Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilanakan terbentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. MERDEKA!!

Pemuda-lah harapan sebenarnya untuk INDONESIA yang lebih SATU. Pemuda yang tidak melihat warna tertentu sebagai pembatasan penglihatannya.

Kalau kata sebuah lirik lagu yang terkenal, “Dari sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, ITULAH INDONESIA...”


penulis : Yogi Permana

No comments:

Powered by Blogger.