Ads Top

Reportase Tilik Tanduran Ngumah

Dengan berbekal perjalanan dua bulan sebelumnya, kali ini Likuran Paseduluran kembali ke homebase di Jl. Tentara Pelajar No. 17 Karanganyar Kebumen. Hari ke 21 di bulan Oktober tahun 2017 yang juga memasuki bulan Safar pada kalender Hijriah Likuran Paseduluran edisi ke-31 diselenggarakan. Bacaan al Qur’an mengawali acara di malam itu. Satu per satu sedulur-sedulur datang melingkar merapatkan diri ke tempat dimana ide-ide baru muncul dan berkembang. 

Kang Ihsan memandu acara dengan menyapa seluruh hadirin yang telah nampak di ruangan. Saling mengenal adalah salah satu syarat untuk saling memahami dan menyayangi itu adalah landasan awal yang mutlak diperlukan. Perkenalan hadirin oleh kang Ihsan diharapkan membawa manfaat bagi semuanya. Sebagai makhluk sosial memang kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa adanya campur tangan pihak lain. Semuanya terkait dan saling melengkapi tidak mungkin bisa berdiri sendiri. 

Keberagaman sosial bisa diibaratkan seperti rumah yang harus berbeda satu sama lain dan saling melengkapi. Beberapa bulan sebelumnya ada bahasan bahwa rumah itu adalah “Mahnggapak, paknggaka, Kanggandar, Ndarnggasuk, Suknggareng, Renggandheng”. Ini adalah sebuah peribahasa jawa yang menggambarkan bagaimana rumah itu. 
Mahnggapak artinya Lemah Nyangga Umpak dalam terjemahan bebas bahwa Tanah menyangga Pondasi. Bahwa setiap rumah harus memiliki tanah sebagai dasar yang paling pokok. Paknggaka Umpak nyangga Saka atau Pondasi menopang tiang. Pondasi diperlukan untuk menopang tiang rumah, tanpa pondasi tiang akan ambles kedalam tanah. Kanggandar yang berarti Saka nyangga Blandar, Tiang harus kuar menopang kuda-kuda dan balokan rumah tiang harus presisi yang menggabungkan dinding2 rumah agar semua bisa stabil dan kokoh.

Ndargasuk atau Blandar Nyangga Usuk, kuda-kuda harus menopang usuk atau kaso. Kuda-kuda sedikit jumlahnya namun sangat krusial untuk menjadi penghubung dan penguat usuk yang melekat di atasnya. Suknggareng singkatan dari Usuk nyangga Reng, usuk diperbolehkan renggang namun harus bisa menopang reng. Renggandheng atau Reng nyangga Gendheng, reng harus dibuat lurus dan simetris karena perbedaan dari pemasangan reng akan berakibat ketidakbisaan genteng dipasang sempurna dan membawa ketidak mampuan genteng untuk berfungsi maksimal. Genteng dipasang terakhir berada di atas harus bisa memayungi dan melindungi seluruh bagian yang menopangnya dari panas dan hujan. Harus menjadi perlindungan pertama dari cuaca yang senantiasa berganti.

Rumah bukan hanya semata-mata berwujud bangunan yang jadi. Namun juga wilayah dimana kita biasa bertempat tinggal. Rumah adalah tempat dimana kita mendapatkan ide baru, jika di rumah sendiri kita tidak bisa mendapatkan suntikan energi dan ide-ide baru maka hampir bisa dipastikan rumah tersebut bermasalah. Permasalahan yang ada bisa hubungan antara manusia penghuninya maupun penghuni rumah dengan penciptanya. Setiap rumah akan memiliki cara pandang dan jalan sendiri dalam mencari dan menyelesaikan masalah tersebut. 

Setiap rumah memiliki tanduran atau embrio yang tidak satupun menginginkan keburukan, meskipun penghuninya berperilaku buruk. Setiap rumah merawat tanduran dengan versinya masing-masing dan seringkali tanduran ini terbengkelai dan ditinggalkan. Perlu adanya tilik atau melihat kembali tanduran-tanduran yang telah ditanamkan sebelumnya. Tilik tidak berarti hanya melihat namun juga mengevaluasi apa saja yang telah ada, apa yang diperlukan untuk ditambahkan, dan apa yang perlu segera di-dhangir dan dibuang. 
Kang Syarif menambahkan rumah kita dalam hal ini Kebumen merupakan tanah yang sangat potensial. Salah satunya adalah potensi kopi, dimana Kopi Kebumen memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung dimana ditanamnya. Ada sekitar 70 hektar tanah dengan tanaman kopi di Kebumen yang berproduksi. Namun sayangnya produksi kopi di Kebumen sangat tidak maksimal. Karena harga jual green bean atau kopi kering sangat murah. Padahal sudah terdapat kopi kebumen yang berhasil menembus pasar luar negeri dengan harga yang bagus. Perlu adanya tilik akan apa yang telah ditanam di bumi kita. Mengapa bisa petani tidak bisa mendapatkan harga yang bagus atas tanamannya. Sehingga tanaman-tanaman tersebut sekarang lebih banyak yang sekadar berbuah tanpa perawatan yang baik. 

Di daerah selatan yang tanahnya pasir seperti Puring perlakuan tanaman harus berbeda dengan di daerah perbukitan seperti Somagede. Hal ini ternyata belum diketahui oleh para petani kopi, perlu edukasi yang berkesinambungan dan intens agar apa yang dihasilkan dari tanaman bisa maksimal. Berkaca dari hal tersebut teman-teman yang peduli kemudian mewadahi gerakan penyadaran perawatan tanaman kopi dengan nama Kebumen Mengopi. Wadah ini memiliki tujuan agar cepat bubar, karena sesungguhnya kehidupan ini bukan hanya tentang apa yang didapatkan namun apa yang diberikan. Sebelum bubar teman-teman dari Kebumen Mengopi berharap bisa melihat kopi Kebumen benar-benar berkibar sesuai dari tempat asalnya tidak lagi disamarkan kopi dari daerah lain, dan meningkatkan kesejahteraan petani Kopi.

Perlu ada hal yang harus dicatat dan dituliskan tentang tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita. Manusia harus meninggalkan sejarah yang lebih tercatat meskipun dengan samaran yang tidak semua orang tahu. Belajar menulis adalah belajar membaca, membaca suasana yang ada di sekitar kita. Belajar membaca adalah belajar berbicara, dan belajar berbicara adalah belajar mendengar. Ketika tak lagi mau mendengar maka muncul, saat ketidak pedulian telah menjadi satu dalam keseharian maka tak ada hal lain yang pantas selain menunggu perpecahan. 

Tulisan yang sekarang beredar sangat beragam macamnya. Mulai dari hal yang benar dan yang menyesatkan. Mungkin harus ada pelatihan penyaringan apa yang dibaca agar tidak mudah menyimpulkan yang dibaca adalah benar. Dengan pengetahuan akan apa yang dibaca akan lebih membawa orang berhati-hati apa yang akan dibagikan, atau diucapkan. Hal seperti ini sangat membantu dan penting untuk ditanamkan dalam rumah, agar bisa tercipta lingkungan yang lebih harmoni. 

Setiap rumah wajib menyajikan sajian bagi para tamu yang hadir, menyajikan yang terbaik adalah hal terbaik. Lapar yang menemani tiba-tiba harus lenyap ketika ada dua buah ingkung dan ambeng yang disediakan Ibunda Wiwi muncul secara tertata. Ingkung yang disediakan dari 2 ekor ayam jago berwarna merah dan putih seolah mewakili bahwa rumah adalah tempat menyucikan diri dan mengumpulkan keberanian untuk melakukan sesuatu yang benar benar benar. Ambeng tidak seperti tumpeng dengan ujung runcing namun digelar setara sehingga tak ada perbedaan bagi siapapun yang menikmatinya. Berdesak dan berdecak sedulur yang hadir menikmati sajian dari tuan rumah. Setelah cukup menikmati ambeng dan ingkung Gending bodo pelan2 mengisi perjalanan ke 31 Likuran Paseduluran. Personel Gending Bodo tiba-tiba berganti posisi, tanpa ada komando melakukan jam session tak tahu apa yang akan dinyanyikan namun tetap enak didengarkan. 

Tak terasa 25 menit telah beranjak dari pukul 01.00, percakapan yang masih gayeng harus ditutup secara resmi. Do’a yang dipimpin Kang Satiman mengingatkan bahwa akan ada sumbu-sumbu baru untuk memicu semangat yang terkadang terhempas. Bahwa ingat dari mana kita berasal dan untuk apa kita ada, bisa menjadi awalan semangat baru. Pertemuan di Likuran Paseduluran akan selalu mengawali bibit-bibit baru entah bagaimana cara yang akan ditunjukkan-Nya. Tak pernah berhenti percaya bahwa hal yang kita lakukan adalah yang terbaik dari-Nya akan merawat tanaman-tanaman dalam rumah kita. 
Meskipun tanaman hanya terlihat sebagai rumput, namun itu adalah rumah yang akan terus tumbuh meskipun dibunuh. Tetap bertahan bahkan setelah adanya topan, dan bersemi meskipun dipaksa mati.



Penulis: Mahdi Fathurahman

No comments:

Powered by Blogger.