Ads Top

Reportase Gayengan nJingklak

GAYENGAN JINGKLAK
Awal tahun 2018 sebuah semangat baru yang harus disyukuri, karena kita masih bisa menghirup kesegaran udara menikmati pagi dan mesra dengan sore berlanjut malam. Likuran Paseduluran di hari ke 27 bulan pertama di tahun 2018 singgah di dukuh Jingklak kelurahan Karanganyar Kebumen. Sebuah padukuhan yang terletak paling selatan di Kelurahan Karanganyar. Berlokasi di gedung pertemuan RT 04 RW 06 Gending Bodo mengawali Likuran Paseduluran setelah sebelumnya bacaan al Qur’an membahana dan berpadu dengan malam.

Dalam legenda yang ada di padukuhan tersebut, bahwa nama jingklak didapatkan dari beberapa versi, yang pertama adalah nama Jingklak didapatkan dari masa perjuangan diponegoro yang memandikan kuda di daerah yang kemudian dinamakan Guyangan, bergerak ke arah barat menemukan buah jeruk gulung yang kemudian melekat menjadi nama daerah itu, dan dinikmati dengan penuh keriangan (jingklakan) yang diabadikan menjadi nama Jingklak. Sedikit berbeda dengan versi yang pertama, sejarah nama Jingklak ini berawal dari masa penjajahan Belanda dimana daerah tersebut tidak pernah mendapat penjajahan dari Belanda, bahkan sebagai tempat transit tentara Belanda. Dijadikan tempat transit karena di daerah ini merupakan tempat pembuatan dan penyuplai minuman keras bagi tentara Belanda. Nama jingklak karena tempat itulah yang dijadikan sebagai tempat jingklakan serdadu-serdadu karena berpesta minuman keras. Lepas dari mana yang benar dari Legenda tersebut atau bahkan tidak ada yang mendekati valid, namun Jingklak adalah tempat yang aman, nyaman, tenteram, dan tertata. 

Peraduan waktu yang diterpa hujan menambah dingin minggu terakhir bulan Januari ini sesuai dengan bulan yang berakronim huJAN setiap hARI. Namun hujan rupanya tak menghalangi hadirnya ibu-ibu dan bapak-bapak di pedukuhan yang hingga awal tahun 2000-an terkenal dengan produksi tempe dan jajanan pasar ini. Di Padukuhan ini terdapat 1 masjid, 1 Sananta Sela, 1 Rumah makan, 1 SMK Negeri Karanganyar, 1 SD Negeri, dan 1 buah PAUD. Yang menarik adalah keberadaan Sananta Sela, sananta sela adalah pendidikan kependetaan bagi calon-calon misionaris katolik. Keberadaannya sejak tahun 1964 telah bersanding dan berdampingan dengan harmonis dengan warga Jingklak yang mayoritas beragama Islam. 

Romo Dwi selaku pemimpin Sananta Sela menyampaikan bahwa tidak pernah ada hal yang mengganggu keberadaan kami di Jingklak. Bahkan kami saling mengunjungi di setiap kesempatan yang memungkinkan seperti Idul Fitri, dan latihan olahraga bersama. Bahkan Romo-romo senior yang dulu bertugas di Sananta Sela serta alumni yang telah kembali ke tempat masing-masing masih sering menanyakan keadaan Jingklak. Karena memang kondisi jingklak yang menentramkan, pluralisme sangat terjaga dengan baik dan seimbang. 

Indonesia sekarang banyak kehilangan panutan tentang pengajaran pluralisme seperti almarhum Gus Dur. Bagaimana beliau mengajarkan kita harus fanatik dan yakin dengan agama kita tanpa perlu ditampakkan dengan sikap yang kaku. Namun harus luwes dan peka terhadap keadaan lingkungan kita berada. Ajaran lain yang bisa diingat yaitu berlatih “sukma nguntal raga” menjadikan badan kita tidak terlihat oleh orang lain dalam melakukan kebaikan. Cukup batin kita yang tahu tentang kebaikan kita. Keikhlasan merupakan kunci utama kita bertindak dan berkata. 

Likuran Paseduluran yang telah memasuki episode ke 34 adalah bentuk dari slogan ormas yang menyatakan NKRI adalah harga mati, perbedaan adalah anugrah yang wajib dijunjung tinggi. Keragaman adalah sebuah harmonisasi yang indah seperti alunan musik dari Gending Bodo yang memang berbeda dari yang biasa didengarkan.  Hal tersebut diungkapkan oleh Kang Payri seorang ketua RT yang masih cukup muda. Jingklak yang berimbang antara pendatang dan warga pribumi semakin maju dengan kolaborasi yang terjadi. Mbah Harso juga turut menyumbang kolaborasi dengan mbawani lagu when i see you smile berduet dengan teman-teman Gending Bodo. Menghangat dan  mengalun serasi tanpa harus tahu arti masing-masing.

Menjelang tengah malam diskusi semakin gayeng, bagaimana pendidikan di Indonesia mengalami kemunduran dengan intimidasi kepada guru dengan nama KKM atau kriteria ketuntasan minimal. Kenapa disebutkan intimidasi karena jika guru memberikan nilai dibawah KKM atau anak tidak mencapai ketuntasan masih terdapat panggilan kepada guru dari Kepala Sekolah yang kemudian menekankan bahwa setiap anak harus mencapai KKM demi nama baik sekolah. Padahal perilaku seperti ini meskipun siswa tidak tahu merupakan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang disampaikan melalui nasihat-nasihat. Seringkali sebagai guru lupa bahwa satu tindakan lebih mengena dari seribu nasihat. Sehingga seringkali guru menjadi dumeh dan lupa bahwa tugasnya adalah mendidik bukan hanya mengajar. 

Guru dengan apa yang dilakukan seringkali kehilangan jiwa pengabdian, sebagai contoh adalah ketika menceritakan sudah mengabdi sekian tahun belum ada kompensasi yang memadai. Ini adalah sebuah kemerosotan yang memprihatinkan. Guru juga mengalami ketergantungan dengan media yang harus seperti yang diinginkan, tidak lagi berusaha memaksimalkan apa yang telah dimiliki. Sehingga tidak salah ketika ketergantungan guru terhadap media menular kepada anak didiknya. Guru tergantikan dengan google dan mesin pencari lainnya dalam internet. Guru hendaknya mengendalikan teknologi yang digunakannya. Jangan sampai keberadaan teknologi menjadi bumerang yang menyerang balik dan menggantikan peran guru.

Bukan hanya guru saja yang perlu upgrade pengetahuan, namun orang tua sebagai sosok pendidik pertama harus meningkatkan kemampuan tanpa meninggalkan etika yang telah ada. Seringkali anak-anak jaman now sudah tidak mengerti lagi bagaimana seharusnya bersikap dengan orang yang lebih tua. Guru dan orangtua adalah pena yang akan menulis kertas-kertas putih hidup anak-anak. Meskipun dari bahan yang berbeda-beda, kertas-kertas tersebut akan berusaha menyerap tinta-tinta yang diteteskan padanya. Bakat-bakat anak akan terpupuk dengan baik jika dari orang tua, sekolah, dan lingkungan berusaha memahami dan mengarahkan apa yang menjadi kemampuannya. 

Pendidikan di Indonesia tidak akan pernah maju jika mereka sudah lupa bagaimana pendidikan Indonesia berasal. Bahwa pendidikan di Indonesia dahulu adalah pendidikan berbasis akhlak bukan hanya pengetahuan. Model pendidikan di Indonesia dirubah oleh pemerintah Belanda. Karena mereka kewalahan dalam menghadapi perlawanan-perlawanan yang ternyata berbasiskan pesantren. Bagaimana para pejuang yang juga santri begitu takdzim kepada kyai kyai dan pemimpin pesantren untuk berjuang jangan sampai merubah akidah dan sopan santun masyarakat. Yang perlu dijaga adalah budaya dan sikap. 

Belajar dari hal tersebut pemerintah belanda melalui VOC berusaha mengakali pendidikan di Indonesia dengan mengirimkan tokoh-tokoh Indonesia untuk belajar model pendidikan ala barat. Tokoh-tokoh tersebut dicekoki dan diberikan doktrin bagaimana pendidikan yang seharusnya. Dari pendidikan ala-ala barat ini kemudian muncul pergerakan-pergerakan ditandai dengan Boedi Oetomo. Bukan pergerakannya yang sampai sekarang dipertahankan namun hanya model pendidikannya yang masih bertahan. Bahwa ilmu pengetahuan dan sikap adalah hal yang berbeda tidak bisa saling terkait. Tata krama bukanlah penentu keilmuan seseorang, jadi ada upaya yang sangat masif untuk menjauhkan kita dengan akhlak. 

Perlu adanya landasan yang kokoh, tiang yang kuat, atap yang teguh ,dan berlangsung terus menerus untuk menguatkan pola pendidikan di Indonesia kembali kepada pendidikan berlandaskan budi pekerti. Pendidikan berbasis pondok pesantren dalam menekankan akhlak hendaknya menjadi basis pendidikan yang dipegang kuat. Pendidikan berbasis “dukun” juga bisa diterapkan. Dalam hal ini bahwa yang ghoib adalah hal yang bisa mangatur yang dhzohir. Atau dalam pengertian bagaimana pendidikan ini membawa siswa menuju Allah melalu perantara Rosulullaah.  Materi pendidikan bukan hal yang terpenting namun etika kepada guru yang lebih diutamakan. 

Pendidikan yang bisa menyelamatkan bukan hanya dari jalan yang berlubang-lubang namun juga lubang yang berjalan-jalan. Pendidikan yang mampu memerdekakan diri dari perasaan benar sendiri karena hanya terbelenggu nafsu. Pendidikan yang menjauhkan dari sifat mencari kucing dalam karung. Pendidikan yang membawa menegakkan ketauhidan sesuai dengan agama yang diyakini masing-masing. Pendidikan yang bisa mejadikan kita sebagai Jago Jali Jalu Jambul (aja goroh, aja lali, aja ela elu, aja mumbul-mumbul)


Catatan :
Aja goroh : jangan suka berbohong
Aja lali :  jangan sampai melupakan kewajiban
Aja ela elu : jangan mudah terpengaruh dan mudah mengeluh 
Aja mumbul : Jangan sombong atau jangan hanyut karena disanjung


Penulis: Mahdi Fathurahman

No comments:

Powered by Blogger.