Ads Top

Atas Kehendak Sang Maha Kehendak

Suatu saat, ketika sedang perjalanan tiba-tiba hujan. Yang pakai motor berhentilah di pinggir jalan, sebagian tetap menepi mencari tempat teduh, sedang yang lainnya membuka mantol dan melanjutkan perjalanan. Begitu juga bagi pengendara mobil, segera menghidupkan pembersih kacanya. Beda lagi dengan pejalan kaki yang lebih memilih berhenti dan berteduh. Yang sedang bekerja di tempat terbuka seperti sawah, jalan, lapangan,dst mau tidak mau harus menghentikan pekerjaannya. Sehingga lalu lalang lalu lintas relatif sepi.

Gambaran pemandangan hal tersebut sering kita jumpai diberbagai tempat. Lalu apa maksudnya saya bercerita tentang hal itu? Akan saya utarakan dari sisi agama islam.

Pertama, dalam agama islam, hujan itu adalah rahmat. Yang langsung diturunkan Allah. Maka, logika yang seharusnya seorang muslim itu bahagia adanya rahmat dari Allah. Terlebih masih banyak orang diluar sana yang sangat membutuhkan air hujan guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Beda dengan di Indonesia, khususnya di daerah kota, banyaknya intensitas hujanyang turun membuat khawatir masyarakat. Karena bisa-bisa banjir yang tak terkendali. Para petani girang karena kebutuhan air di sawahnya terpenuhi.

Sawah-sawah itu adalah ladang pekerjaannya dalam mencari nafkah untuk dirinya, keluarga dan masyarakat nasional. Iya dengan skala nasional. Petani menanam padi, selain untuk di jual juga hasil panennya untuk dimakan sehari-hari. Pertanyaannya, apakah yang ia tanam diberi sesuatu yang tidak baik? Di jawab sambil ngopi saja..hehe

Soal kehendak, adakah hujan bisa mengontrol kapan ia harus turun dan kehendaknya untuk tidak turun. Bisakah hewan memilih untuk tidak bertasbih pada Allah? Atau tumbuhan yang dengan seenaknya tumbuh atau mati sesuai keinginannya? alam semesta ini bisa berjalan selayaknya nafsunya?

Bahwa manusia bisa memilih mau tunduk atau tidak tunduk. Mau mensyukuri atas kehendakNya atau tidak. Mau mengikuti nafsunya atau sunnahnya. Mau menjalankan kewajiban atau menekuni laranganNya. Mau beribadah atau meninggalkannya. Itu semua bebas dipilih oleh manusia. Karena hanya manusia saja yang diberi akal untuk mengejawentakan kepekaan yang telah diberikan Sang Maha Kehendak Kepada Khalifahnya di bumi dengan prinsip rahmatan lil'alamin.



Penulis: Mubaedi

No comments:

Powered by Blogger.