Ads Top

Ajari Kembali Bahasamu Bu...

Suasana pasar ketika musim liburan memang suasana yang selalu ditunggu oleh ibu saya, banyaknya para manusia manusia urban yang bawa bekal dari ibukota untuk membelanjakan hasil kerja mereka di pasar desa. Semula ibuku sering sekali murung karena dengan hadirnya beberapa toko modern memang menggerus perputaran ekonomi di pasar tradisional.

Di musim seperti ini senyum lebar hadir di paras cantik ibu yang sudah menuju sepuh. Ya maklum lah, namanya pedagang juga sudah biasa punya hutang,minimal hutang dagangan sama juragan dan supllier barang-barang yang mengisi ruang kios ibu, lagipula masih ada tanggungan satu adik perempuanku yang masih kuliah dan mungkin setelah itu menikah.

Suasana pasar yang diisi berbagai macam manusia dan tindak tanduknya juga sering menambah panjang senyum ibu. Anak dari langganan ibu yang dulu polos sekarang menjadi poles, dari yang dulu selalu menggunakan kromo inggil jika berkomunikasi dengan orangtuanya sekarang seperti memanggil pembantu saja, ada pula yang semula selalu ngapurancang jika bertemu orang yang lebih tua menjadi hobi medengkreng. Dan ketika ibu bisa komen "cah saiki yo... do ra iso ngomong... do raiso moco.." diselingi tawa riang kegirangan.

Semula komentar itu saya kira hanya ekspresi senang dari suasana pasar. Setelah lama dan kudalami lagi, memang saat ini sedang terjadi pemerosotan daya ngomong yang dalam hal ini saya maknai sebagai hilangnya tata krama dan tata trapsila, orang ngomong sebagai sarana untuk mencari salah orang lain, mencaci kawa.


Penulis : Darwis F

No comments:

Powered by Blogger.