Ads Top

Mengucapkan "Selamat Natal"

semoga tulisan ini menjadi koreksi bagi penulis.
Sakit perut menjelang persalinan memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.

Tetapi malaikat Jibril meghibur:
ada anak sungai di bawahmu, goyangkan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum, dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan:’aku bernadzar tidak bicara’.”

“hay maryam, engkau melakukan yang amat buruk!
Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan pezina”

demikian kecaman kaumnya ketika melihat bayi yang digendong Maryam.
Beliau hanya menunjuk bayinya, dan seketika itu berbicaralah sang bayi yang menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-kitab, shalat, berzakat serta mengabdi pada ibunya.
Kemudian sang bayi berdoa:
salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali

Demikian cuplikan singkat dari Al-Quran surah Maryam ayat 34 yang saya ambil dari bukunya seorang pakar tafsir Indonesia M.Quraish Shihab. Yang berarti Al-Quran sendiri mengabadikan dan merestui ucapan selamat natal pertama dari dan untuk Nabi Isa a.s.

Pertanyaannya, terlarangkah mengucapkan salam semacam itu? Tidak bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s? bukankah Nabi saw juga merayakan hari keselamatan Musa a.s dari gangguan fir’aun dengan berpuasa Asyura, seraya bersabda, “kita lebih wajar merayakannya daripada orang Yahudi pengikut Musa a.s.”

Bukankah seluruh umat bersaudara? Lalu, apa salahnya kita bergembira dan menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas kemampuan kita, atau batas yang digariskan oleh panutan kita?

Ada banyak persoalan yang berkaitan dengan Al-masih yang dijelaskan oleh sejarah atau agama yang telah disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi tidak dibenarkan pula dalam perselisihan yang bermuara pada perbuatan yang tidak diinginkan.

Isa a.s datang membawa kasih, “kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.Muhammad saw datang membawa rahmat, “rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.”

Mari kita gali dari sisi yang melarangnya. Sebelum adanya negara, agama menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama. Tetapi salah dan dosa juga bila kesucian akidah ternodai oleh atau atas nama kerukunan. Artinya, kita harus memiliki batas tertentu.

Natalan, walaupun berkaitan dengan Isa Al-Masih, manusia agung lagi suci , namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam. Nah, mengucapkan “selamat natal” atau menghadiri perayaannya dapat menimbulkan kesalahpahaman dan penipisan akidah. Berangkat dari permasalahan inilah, lahir larangan dan fatwa haram untuk mengucapkan “selamat natal” apalagi menghadiri perayaannya, serta sampai aktivitas apapun yang berkaitan dengan hari natal itu diharamkan.

Adakah pandangan lain?

Sedikit dapat kita pahami kalau larangan ini muncul dalam rangka upaya memelihara akidah karena kekhawatiran kerancuan pemahaman. Sepertinya kalau boleh berpendapat, larangan ini lebih ditujukan bagi mereka yang akidahnya masih samar-samar. Jadi, jika ada seseorang yang dengan atas pertimbangan situasi dalam pengucapan, serta didasari oleh ilmu pengetahuan yang cukup untuk mengucapkan “selamat natal” secara Qurani dan tetap murni akidahnya. Maka agaknya tidak ada alasan bahwa larangan semacam ini berlaku bagi dirinya.

Dalam rangka keharmonisan interaksi sosial antar sesama manusia. Al-Quran memperkenalkan satu redaksi yang dikemukakan oleh ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34: ayat 24-25, kalaupun non-muslim memahami ucapan “selamat natal” sesuai dengan keyakinannya, maka biarkanlah demikian. Karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang dibutuhkan kearifan dalam rangka keharmonisan interaksi sosial. 


penulis : Ichsan. M

No comments:

Powered by Blogger.