Ads Top

Situasional Ndhasmu!

http://viwright.com/56jD
Astaghfirullah Hal’azim. Lagi tertulis kata yang agak sembrono yang tertera jelas justru menjadi judul yang tertulis tebal. Tapi tak apa, sekadar mencoba membuka saja ilustrasi yang sedikit menggelitik dengan pada seluruh rekan-rekan yang kian hari tak pernah henti-hentinya berkontribusi untuk hal yang jauh dari nilai nominal ini.

    Jadi, suatu malam kita semua berkumpul dengan sederhana hanya beralaskan tikar lusuh di depan teras. Seperti biasa kita semua membawa sangu dari kediaman masing-masing yang tentunya disesuaikan dengan kahanan masing-masing. Bahkan tidak sedikit yang mengakui bahwa mereka membawa sangu meskipun tidak nyangking se-kanthongpun yang sewajarnya berisi makanan atau sekadar mbako Boyolali, dengan alasan “ya ini kondisi saya yang hanya mampu membawa sangu berupa pikiran jernih yang perlu banyak asupan nutrisi.

    Entahlah, kondisi yang demikian akhrinya tetap menjadi beban mental bagi orang yang tidak pernah mampu memposisikan dirinya dalam segala peran sesuai keadaan. Jadi, kan tak perlu orang terlalu berlebihan untuk mendapat klaim baik.

    Berbeda lagi pada urusan etika, suatu tanggung jawab, nadzar konsekueni dan sumpah tidak mengenal situasional. Contohnya orang-orang profesional yang selalu saja bergaya arogan dan konsisten, ketika dirinya dilihat dari sudut pandang secara etika begitu istimewa dan hidupnya sudah sangat terpola dan perhitungan nilainya begitu tepat. Soal jam kerja, waktu makan dan tidur, bahkan Ia menyediakan waktunya untuk bersenang-senang hanya sedikit saja karena dinilai waktu yang digunakan itu tidak efektif. Karena dirinya tak pernah tahu tentang instrument estetika dalam hidup yang harus ada dalam diri tanpa unsur logika, sebagai peran keindahan hidup.

    Namun, berbicara mengenai situasional, haruskah setiap saat kita menerapkan sistem tersebut? Lalu, peran apakah yang akan kita terapkan pada keadaan saat itu? Ataukah memilih menjadi peran yang paling baik?

    Misalnya pada suatu hari seorang pria dewaa yang normal, dikepung di dalam kamar oleh gadis-gadis telanjang dan mereka berusaha memperkosanya. Jadi, dapatkah dipungkiri sebagai pria normal, untuk pria tersebut menahan syahwatnya? Secara naluri dan biologis, pria dikatakan tidak normal ketika tidak mampu memenuhi hasratnya. Namun, secara etika bahwa pria yang baik tidaklah perlu mengikuti hawa nafsunya, meskipun nantinya terkategorikan sebagai pria lemah syahwat.

    Maka, banyak timbul perkara akibat ognum-ognum yang tidak mampu menerapkan sistem situasional tersebut. Apalagi sebagai manusia yang sewajarnya, begitu pula untuk kalangan kita sebagai Warga Negara Indonesia, yang dengan sangat mudahnya berakulturasi, adaptasi sampai simpati dan akhirnya berempati menanggapi tranding topik. Yang tidak boleh kita terapkan adalah tidak situasional atau saklek, hal ini sangat tidak menunjukan autentisnya manusia, bahasa trendynya yaitu garis keras atau fanatis.

    Sangat identik memang situasional dan flekibel, namun hal ini tidaklah sama. Situasional adalah bentuk sikap kita terhadap suatu keadaan, dengan kita memperhatikan situasi pada lingkupnya. Berbeda dengan fleksibel yang sepertinya kita adalah elemen yang terbendakan dan tidak memiliki kehendak atau naluri sebagai manusia. Terlalu mengikuti arus keadaan yang akhirnya dengan mudah menyalahkan keadaan begitu saja. Maka sepertinya banyak kata Insyaallah yang seolah-olah menyalahkan Allah pada kegagalan komitmennya. Padahal bisa saja kita beroptimasi bahwa ketika kita mengucapkan Insyaallah artinya adalah Allah telah berkehendak terhadap diriku untuk melakukannya.

    Dalam hal ini, saat kita memposisikan diri kita sebagai peran terbaik, ternyata tidaklah selalu tepat jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu, dengan proses situasional ini, akal kita terarah untuk berpola lebih jernih bahwa dalam fleksibilitas aktifitas kita harus mampu berlaku yang tidak situasional.

Penulis: Ado


No comments:

Powered by Blogger.