Ads Top

Nafsu vs Perut

ya siru wa la tu’assiru...

wong urip iki wes angel, ojo digawe angel. Kalau sudah punya tempe, ya syukuri saja. jadi orang jangan kepenginan. Repotnya kalau yang dipunyai hanya sebuah tempe tapi angan-angannya kepengin ayam. Resikonya, makan tempe dengan membayangkan ayam, maka tempe tidak terasa enak, dan ayam-pun tak didapatnya.

Di jawa mengenal istilah sandang, pangan, papan. Kalau saya mencoba membaliknya boleh ndak? Papan, pangan, sandang atau sandang papan pangan atau pangan papan sandang. Gimana?

Hati-hati lho ya, leluhur jawa ini tidak main-main kalau bikin ukara. Pertanyaannya, kalau anda tidak punya apa-apa, dan hanya dikasih 3 pilihan yang harus dipilih salah satunya. Ada pakaian, makanan, & motor. Mana yg akan anda pilih dulu? Mending makan, tapi telanjang & gak punya motor, atau mending pakai pakaian tp kelaparan & gak punya motor, atau yang penting punya motor walaupun telanjang dan kelaparan.

Artinya kebutuhan sandang (pakaian) ini lebih utama, ketimbang makan & kendaraan. Dalam agama, soal aurat ndak bisa di tawar lagi. Tapi kalau makan bisa ada nego, tergantung situasi dan kondisi. Apalagi motor, hah.!

Itulah kebutuhan. Mana perut mana nafsu. Mana yang harus dipenuhi diprioritaskan dulu, mana yang bisa di nego. Soalnya, orang ini kalau menuruti perutnya cukup makan nasi kucing 5 bungkus, gorengan 3, plus jahe susu anget sudah cukup. Lain halnya kalau nuruti nafsunya, sampe kapanpun gak akan selesai. Begitulah bedanya perut dengan nafsu.

“tiba-tiba hujan turun...”

penulis: i. mubaedi

No comments:

Powered by Blogger.