Ads Top

Jakarta keras?

 Kalau kamu anggep jakarta itu keras, lantas parameter apa yang dipakai? Berdasarkan pekerjaan kah? Atau orang-orang yang ada di Jakarta? Atau sistem dalam mencari uangnya?

Banyak kemungkinan-kemungkinan yang muncul untuk bisa menjelaskan bahwa 'hidup di jakarta itu keras'. Secara gak langsung itu mengungkapkan bahwa hidup di Jakarta benar-benar di didik untuk survive bener-bener menjadi orang yang kuat. Hasilnya dilihat berdasarkan kekayaan harta yg ia miliki.

Efek yang timbul ialah saingan antar pribadi seseorang dengan sesama temannya, saingan dengan lingkungannya, dan saingan dengan hal-hal yg gak perlu aja. Bahkan bisa pada tahap saling menjatuhkan dan menghalalkan segala cara mendapatkan yang diinginkan.

Ini soal cara melihat keadaan. Jakarta itu keras. Kalo menurut hemat saya, kerasnya itu masih dalam tatanan personal atau manusianya. Tidak untuk sistem bekerjanya..

Ketika orang sudah bekerja di satu perusahaan, hidupnya banyak jaminan-jaminan yang ia peroleh. Mulai dari gaji untuk kehidupan sehari-hari sampai jaminan kesehatan dan lainnya. Hingga ada hari tertentu untk bisa beristirahat.

Tidak ada waktu untk berpikir kreatif. Semua tenaga dan pikirannya tercurahkan pada fokus dari apa yang ia kerjakan sesuai perintah di tempat kerjanya. Dan hanya di daerah-daerah seperti Kebumenlah orang-orang dididik untuk tidak bisa mengandalkan penghasilan dari satu perusahaan saja. Orang-orang secara tidak sadar di tuntun oleh Allah untuk bagaimana bisa bertahan hidup dengan tidak mengandalkan pada satu perusahaan, tidak ada jam istirahat.

Ada istilah Jawa "ora ubet ora ngliwet" yang memiliki arti bahwa penghasilanmu ditentukan dari seberapa keras kerjamu. Bukan banyaknya kehadiran, keaktifan, dan ketaan pada perusahaan.



penulis : Ichsan Mubaedi


No comments:

Powered by Blogger.