Ads Top

Sekolah

sekolah bukan lagi tempat untuk menimba ilmu. tetapi seperti semacam pintu masuk untuk memasuki dunia mainstream.  Jika belum melewati tahapan yang disebut sekolah  maka ia tidak akan selamat masuk dunia mainstream, walaupun dalam dunia mainstream ia disebut sebagai orang sukses.
Dunia mainstream adalah lingkup dunia yang sedang dijalani oleh mayoritas manusia. Dalam dunia mainstream orang sukses adalah orang yang mempunyai kepemilikan materi lebih dari orang lain. Orang berpendidikan adalah orang yang sekolahnya tinggi, orang berilmu tinggi yang sekolahnya tidak tinggi tidak dapat disebut sebagai orang berpendidikan tinggi. Dalam dunia ini orang-orang menyangka dirinya sedang bermanfaat bagi orang lain, tetapi diam-diam mereka sedang meninggikan ego, memenuhi keserakahan-keserakahan, memadatkan diri sehingga ia menjadi paling padat dan keras diantara orang-orang lain, sehingga tidak dapat menyatu dalam lingkup sosial maupun spiritual. Keaslian mereka disembunyikan di balik baju-baju mahal, kendaraan-kendaraan mewah, alat komunikasi-komunikasi canggih serta berbagai fasilitas-fasilitas mewah lain. Karena dengan tameng-tameng itu mereka dianggap menjadi orang paling beradab, padahal sebaliknya, berbohong biasa, berjudi biasa, mencuri biasa, berzina biasa, semua yang pada dasarnya adalah kebiasaan orang tidak beradap diubah menjadi sesuatu yang beradab.
“Dunia seperti itulah yang akan dimasuki oleh generasi-generasi muda, oleh karena itu sekolah difokuskan untuk bisa masuk dunia itu secara selamat. Bahaya kalau tidak melewati pintu yang disebut sekolah. Bisa-bisa akan dicap sebagai orang bodoh, tidak berpendidikan, tidak terhormat”, seperti itu kataku dalam hati yang kecewa melihat keadaan seperti ini.
Di sekolah, mereka sedikit-sedikit akan diperkenalkan dengan kapitalisme melalui rangking-rangking kelas. Diperkenalkan emansipasi wanita melalui perayaan hari kartini. Dicekoki HAM melalui pelajaran PKn. Serta berbagai pelajaran lain yang absurd secara orientasi. Pelajaran-pelajaran yang disangka oleh pemerintah sebagai sesuatu yang baik bagi masa depan generasi muda. Tetapi ternyata mengandung doktrin-doktrin yang justru akan memerosokkan manusia ke dalam jurang yang begitu dalam.
                                                                      
                                                                            ۞

Suatu ketika ada 2 orang wali murid sedang mengambil rapor, mereka secara spontan menjadi akrab. Dalam keakraban itu salah seorang dari mereka mengajak untuk diskusi mendadak, seseorang yang paling kritis diantara mereka berdua mengatakan,

“Wah, sekarang sekolah itu benar-benar parah ya ?”
“Parah bagaimana pak? Wong sekarang sudah modern tidak seperti jaman kita dulu”
“Modern pak! Iya, dari segi fasilitas, tapi isinya bobrok”
“Bobrok bagaimana to pak? Saya masih belum paham”
“Begini pak, coba njenengan pikir, anak kita itu diajari untuk menjadi orang serakah melalui rangking kelas, yang perempuan diajari melupakan kewajiban seorang ibu melalui emansipasi wanita, terus diajari untuk sombong melalui HAM”
“Lo, njenengan jangan salah sangka dulu pak, rangking kelas itu bagus, untuk mengetahui sampai mana kemampuan anak kita, selain itu juga untuk memotivasi anak untuk lebih berprestasi. Emansipasi wanita juga bagus pak, supaya anak-anak perempuan menjadi percaya diri sehingga prestasinya bagus, baik di sekolah maupun di masyarakat sehingga kalau sudah lulus nanti tidak kalah dengan anak laki-laki. HAM itu juga penting pak”
“Strata itu salah satu akibat kapitalisme, emansipasi wanita adalah upaya menarik perempuan untuk membaur dengan kapitalisme, HAM adalah langkah sombong untuk merendahkan orang lain dan itu semua terkandung dalam bibit-bibit yang bentuknya adalah rangking kelas, perayaan hari kartini, materi HAM”
Orang tua yang membela pelajaran-pelajaran sekolah diam sejenak, wajahnya terlihat seperti merenung.
“Udin!”
“Udin!”
“Yang mana ya orang tuanya Udin” wali kelas memanggil wali murid untuk mengambil rapor.”
“Pak, pak njenengan orang tuanya Udin apa bukan?”
“Iya, kenapa pak?”
“Jangan bengong pak, itu wali kelas mau memberikan rapornya Udin”
Wali kelas memanggil nama anak selanjutnya, “Vera!”.


Penulis : Dani Ismantoko

No comments:

Powered by Blogger.