Ads Top

Lingkungan Syahwat

Di tengah keadaan sistem sosial yang begitu labil ini, yang diperlukan adalah kelenturan hati dan fleksibilitas psikologis untuk dapat mengambil sikap yang bijak dalam memandang dan bersikap terhadap berbagai peristiwa kehidupan yang tidak jarang peristiwa-peristiwa itu absurd bagi akal sehat, tidak sesuai hati nurani atau bahkan tidak sesuai dengan jati diri manusia. Misalnya saja dalam sebuah penganiayaan terhadap seorang pelajar yang pelakunya pelajar juga, yang ternyata hanya berawal dari sesuatu yang sepele, yaitu dari saling ejek di sosial media dan berujung pada penganiayaan. Jika dilihat secara sekilas memang hal tersebut sebagai tindakan yang sangat bodoh, tetapi kita tidak bisa serta merta men-judge dengan memojokkan lakon penganiayaan serta korban penganiayaan sebagai orang yang benar-benar bodoh secara alamiah atau sebagai satu-satunya pihak yang bersalah. Sayangnya hal itu sering terjadi, bukan hanya dalam satu peristiwa itu, tetapi pada banyak peristiwa lain, bahkan ada yang putus asa dengan mengatakan kebodohan mereka adalah watak yang tidak bisa diubah, kemudian dihubung-hubungkan dengan watak orang tua dan masa lalu orang tua. Dengan seperti itu lengkaplah sudah cap negatif seseorang terhadap si dia (pelaku kejahatan/kerusuhan) yang justru tidak menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah bagi dia maupun lingkungan sosial secara luas.
Dalam hal ini saya juga tidak memaksa orang untuk seseorang memahami secara mendalam. Paling tidak jangan terlalu mudah untuk menuding, bahkan untuk hal yang paling kita anggap sebagai sesuatu yang paling negatif sebelum benar-benar tahu, minimal kronologis atau kalau perlu kesinambungan antara peristiwa dengan sistem sosial yang sedang berjalan.
Untuk contoh kasus tentang penganiayaan pelajar tersebut, kita juga perlu sedikit menengok bagaimana pola pergaulan, lingkungan sehari-hari, lingkungan sekolah, karakter serta masih banyak lagi. Kalau belum menengok ke bagian-bagian itu jangan dulu mengambil kesimpulan. Apalagi hanya sekadar tahu lewat media, koran, televisi atau yang lebih parah lagi sosial media yang selalu saja mengambil sisi terhebohnya saja, walaupun sisi itu sebenarnya tidak berkaitan dengan kenyataan secara substansial.
Kompleksitas masalah memang terkadang membuat seseorang bersikap secara pragmatis dengan mengeluarkan pandangan dan solusi-solusi eksklusif. Namun, sikap pragmatis berupa pandangan eksklusif itu juga merupakan bagian lain yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai masalah yang sama dengan kelompok yang berbeda. Sehingga pada dasarnya, setaraf dengan ketidakjujuran, perampokan, pembunuhan dll. Artinya sama-sama sebagai masalah.
Bagi saya, sebagai rakyat kecil, kalau mendengar berita tentang orang-orang atas dalam struktur negara ini sudah tidak lagi mementingkan golongan/ kelompok tertentu tetapi mementingkan rakyat serta sudah tidak lagi terlalu tinggi “libidonya” untuk terus menumpuk harta, saya dan mungkin mayoritas rakyat kecil sudah sedikit agak lega dan bahagia. Karena, dengan seperti itu berarti mereka mulai sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Kalau belum sadar, atau bahkan tidak sadar dalam jangka waktu yang sangat lama pertanyaannya adalah, mereka itu benar-benar sedang memimpin atau sedang melakukan hal lain? Kalau benar-benar memimpin seharusnya mereka tahu, kasus kemenyimpangan seksual bukanlah serta merta kesalahan pelaku, bagaimana tidak bisa terjadi, wong lingkungan hidup kita sedang dikepung syahwat? Kalau benar-benar memimpin, seharusnya mereka tahu, kalau segala keruwetan hidup adalah akibat dari ruwetnya lingkungan sosial yang terbentuk, mungkin, bisa jadi karena satu keputusan kecil yang dianggap tidak terlalu penting, tetapi ternyata merugikan seluruh penduduk negeri.


penulis : Dani Ismantoko

No comments:

Powered by Blogger.