Ads Top

Likuran Paseduluran #29 Sinau Bareng Masyarakat Logandu

Tak seperti biasanya, Likuran Paseduluran bulan Agustus ini tak bertempat di Karanganyar. Namun menuju Utara sejauh 17 Km untuk bersama berdiskusi di wilayah Kecamatan Karanggayam ini. Perjalanan menuju salah satu desa termiskin di Kabupaten Kebumen ini cukup menyita perhatian. Jalanan yang naik turun ditambah lubang-lubang yang menganga di jalan mengharuskan kita lebih berhati-hati dan mengandalkan rem kendaraan dengan cukup signifikan. Ditempuh dari jalur manapun baik dari arah Kebumen maupun Karangnyar tak ada satupun jalan yang luput dari kerusakan yang cukup memprihatinkan.
Menjelang magrib, sebagian teman-teman telah sampai Lokasi yang bertempat di balai desa Logandu, cukup luas dan nyaman untuk berdiskusi bersama. Satu persatu sedulur sedulur datang merapat dan berjabat dengan penuh senyum. Semua bertemu untuk sebuah tekad Sinau bareng Masyarakat Logandu. 38 menit beranjak dari pukul 20 Likuran Paseduluran dibuka dengan do’a dari Bapak Kyai Mardiadi yang didaulat sebagai imam di lingkungan. Dilanjutkan dengan do’a yang senantiasa dilantunkan oleh seluruh rakyat Indonesia melalui lagu Indonesia Raya. Hawa dingin yang dibawa angin kemarau yang berdebu menyapa kami mengiringi Lagu keramat ini.
Kang Ichsan yang memandu acara bercerita tentang bagaimana awal mula Likuran Paseduluran terbentuk dan kemudian menjadi bagian hidup bagi teman-teman yang senantiasa hadir. Lalu disambung kisah bahwa tujuan dari Likuran Paseduluran bukanlah sesuatu yang bisa dilihat atau dirasakan, namun harus melalui proses yang panjang untuk tahu manfaat dari Likuran Paseduluran.  Warga di sekitar balai desa merapat perlahan-lahan, tak heran karena Likuran Paseduluran memang belum begitu dikenal di Logandu, kesempatan yang sangat baik untuk bersosialisasi dan mengenalkan apa itu Likuran Paseduluran.
Sejurus berlalu pak Sarlan selaku Kepala Desa Logandu memberikan pandangan tentang Likuran Paseduluran dan desa Logandu. Bagaimana kondisi geografis, masyarakat, penghasilan, dan hal lain yang menambah gambaran bagi teman-teman  yang bukan asli Logandu maupun Karanggayam. Beliau kemudian menambahkan bahwa semua hal di Logandu masih membutuhkan pendampingan. Karena di Desa Logandu yang memang terkenal dalam hal kemiskinannya, SDM dan pengelolaan SDA masih perlu pengembangan yang lebih baik lagi. Beliau berharap kehadiran teman-teman Likuran Paseduluran bisa menambah khazanah baru bagi perkembangan Pengetahuan masyarakat desa Logandu.
Gending Bodo yang tampil full team mengisi sela-sela diskusi dengan meluncurkan beberapa buah lagu untuk menambah semangat dan rasa menyatu satu sama lain. Dalam sebuah kesempatan grup dengan pengawalan 9 personel ini menyanyikan lagu rampak osing yang penuh keluguan menyindir kehidupan sekarang yang penuh kesibukan namun minim esensi. Hadirin tampak antusias menyaksikan penampilan Gending Bodo meskipun masih ada yang malu-malu tak mau bergeser ke depan, namun melihat dari kejauhan.
Berlanjut dalam diskusi, Pak Mardiadi memunculkan sebuah statement bahwa hidup itu antara jenang dan jeneng. Bagaimana memenej keduanya adalah hal yang sering kali menjadi tidak sejalan. Ngeboti Jeneng klalen njenang, ngeboti jenang klalen jeneng. (memprioritaskan nama besar sering kali tidak ingat bagaimana harus bertahan tanpa beban harta, dan ketika memprioritaskan harta terkadang orang lupa dengan mempertaruhkan nama baik).
Di sela-sela diskusi yang semakin malam, teman-teman dari berbagai kalangan kembali berdatangan. Komunitas Subileng yang memang masih satu kecamatan dengan Logandu kompak singgah di Balai Desa yang terletak di tepi jalan utama kecamatan. Sesekali suara motor, mobil, truk bergantian berlalu lalang menegaskan bahwa malam tak menghalangi bepergian orang-orang dengan nyaman.
Seorang teman berpendapat setelah dilihat dari berbagai aspek yang ada, Logandu hanya miskin dalam administrasi. Karena apa? Secara kultur masyarakat, pola hidup, dan cara menyambut tamu tak ada satupun yang menampakkan kemiskinan. Warga Logandu sangat Welcome atas kehadiran orang-orang baru dan ide-ide baru. Bahkan seorang guru yang berasal dari wilayah Yogyakarta yang pernah mengajar belasan tahun di Logandu menuturkan, bahwa perubahan di Logandu termasuk revolusioner dalam kurun waktu 10 tahun. Baik secara fisik maupun secara pola pikir. Perkembangan ini salah satunya ditandai dengan pembangunan yang baik. Dan yang lebih penting peningkatan dari sektor pendidikan, sudah jarang yang tidak melanjutkan ke tingkat SLTA. Bagi beliau ini adalah salah satu hal yang patut disyukuri karena memang latar belakang pendidikan sebagian besar warga Logandu di akhir tahun 90-an hanya sampai tingkat SD.
Tak mau kalah dari Gending Bodo ternyata di Logandu ada kumpulan anak-anak muda yang menampilkan kemampuannya bermusik, meskipun sederhana 6 anak muda tampil dengan cukup menghibur. Sebuah lagu dolanan masa kecil yang mengingatkan pentingnya memperhatikan guru ketika mengajar dibawakan dengan nada ceria. Grup yang tampil secara mendadak ini, seketika itu pula diberikan julukan Tanpa Aran oleh Pak Mardiadi.
Malam menjelang ke tengah mendekati pagi, peserta masih saja berdatangan untuk terus menambahkan gelas kosong mereka agar diisi air hikmah dari barakah pertemuan malam tersebut. Gus Zaini dari Keposan Kebumen yang turut hadir berterima kasih sekali pada warga desa Logandu yang sebagian besar adalah petani tembakau. Karena tembakau di jawa adalah salah satu unsur sejarah yang mewarnai keberadaan dan perkembangan Islam di Pulau Jawa. Jangan sampai kita dipermainkan dengan pihak-pihak yang menyudutkan tembakau dengan berbagai macam alasan. Kita adalah kedaulatan atas budaya dan adat yang kita miliki. Selama tidak bertentangan dengan Agama yang kita yakini, keduanya adalah sarana yang baik untuk mendekatkan diri dengan Allah sebagai khalik.
Akhirnya menjelang pukul 02 dini hari, acara ditutup dengan sebuah kesimpulan bahwa masyarakat Desa Logandu bisa bertahan dari berbagai macam cobaan karena selalu memegang teguh adat meskipun dengan cara “pokoke” atau dengan cara tanpa harus tahu kenapa harus melaksanakan. Bagi mereka yang dilakukan adalah sebuah penghormatan atas perjuangan leluhur yang telah berjuang membuka dan mengembangkan desa Logandu. Dan pada akhirnya Logandu semoga bisa memiliki jeneng yang akan menghasilkan jenang sehingga mencapai Kemerdekaan dan keadilan Sosial bagi seluruh warganya.
Penuh dengan harapan senantiasa dalam ketauhidan, dengan lantunan Do’a dan sholawat Nabi seluruh hadirin berputar, berjabat, menyapa, dan membawa pulang ilmu dengan pemahaman masing-masing. Dan kami akan merindukan Logandu dengan eksotisme wilayahnya, keramahan orangnya, nikmat sajiannya, dan segala melekat di dalamnya. Semoga pertemuan ini membuka cakrawala baru bagi teman-teman Likuran Paseduluran dan wawasan baru bagi masyarakat Logandu. Dan tak lupa masih menitipkan asa bahwa akan bertemu di tempat-tempat baru yang membawa rindu.




Penulis : Mahdi Faturahman

No comments:

Powered by Blogger.