Ads Top

Memungut Mutiara



 oleh Dani Ismantoko


Tidak ada satupun ciptaan-Nya yang tidak istimewa. Setiap ciptaan-Nya mengandung butiran-butiran mutiara hikmah yang tak terhitung jumlahnya. Malaikat pernah ditegur oleh Allah ketika ia protes karena manusia akan dijadikan khalifah di bumi, Allah menjawab, “Aku yang lebih Tahu”. Setahu apapun manusia tentang suatu ilmu, tidak ada apa-apanya dibanding dengan tahu-Nya.

Keadaan itu menjadi sebuah bahan perenungan tersendiri bagi manusia. Menjadi pengingat untuk tidak memutuskan sesuatu sesuai kehendak egonya. Menjadi tuas rem bagi dirinya ketika ia sudah dilanda penyakit, “Aku Pandai”. Sehingga ia tidak serta merta memutuskan dia lebih rendah dari saya. Atau aku lebih pandai dari pada dia, atau aku lebih dekat dengan-Nya.

Gelandangan yang tinggal diemperan ruko tidak lebih rendah dari priyayi-priyayi pegawai negeri. Tangannya memang lebih kotor. Tetapi jernih manakah hatinya. Gelandangan tak pernah punya pikiran muluk-muluk ingin mempunyai mobil ini, membangun rumah seperti itu, membincangkan mode pakaian, membincangkan anak-anakmu mau kuliah dimana. Gelandangan hanya berpasrah kepada Tuhan. Hidupnya senantiasa mengikuti petunjuk-petunjuk Tuhan. Menjalani nasibnya dengan sebaik-baiknya. Kalau mencuri bukan karena tuntunan hawa nafsu, tetapi karena kebuntuan. Makannya pun bukan karena ingin tetapi karena harus makan. Ia tidak bisa memilih gulai kambing, ayam geprek, atau jenis makanan yang semakin banyak saja variannya. Hidupnya ya seperti itu. hidup dengan jalan yang ia sendiri tak mampu memberikan kuasa.

Orang yang dikata-katai miskin oleh para pemangku jabatan, sebenarnya tidak semenderita yang dibayangkan oleh para pemangku jabatan dan para pengambil keputusan. Silahkan saja berkunjung ke orang yang miskin, tua, tenaganya sudah tidak terlalu kuat, bandingkan kedalaman hatimu dengan hatinya, bandingkan penghayatan kehidupannya dengan penghayatan kehidupanmu, bandingkan rasa syukurnya dengan rasa syukurmu.

Orang kaya, priyayi, pun tidak semua seperti yang saya dengung-dengungkan diatas. Allah pernah bilang, “setiap manusia mendapat cobaan sesuai kemampuannya”. Artinya orang yang dikatakan miskin, cobaan yang ia mampu hadapi adalah kemiskinan itu. Orang yang dikatakan kaya, cobaan yang ia mampu adalah kekayaan itu. Belum tentu orang yang awalnya miskin kemudian jadi kaya mampu melewati cobaan kekayaan. Mungkin bisa lebih pongah sifatnya dari orang yang memang lahir dari keluarga kaya kalau pola pikirnya keliru.

Setiap ciptaan-Nya adalah mutiara hikmah. Tergantung manusianya, maukah ia memungut mutiara-mutiara yang bertebaran itu.

Setiap ciptaan adalah tunggal. Diciptakaan oleh yang Maha Tunggal. Sehingga ketunggalan itu tidak bisa diperbandingkan dalam rangka untuk menang dengan ketunggalan-ketunggalan yang lain. Lihatlah, tak ada satupun nabi yang jalan hidupnya sama, Adam, Idris, Nuh, Musa, Daud, Sulaiman, Ya’qub, Isa, Muhammad, semua sangat berbeda jalan cerita hidupnya. Ada yang memang disuruh Allah untuk menjadi orang yang diberi penyakit kulit, menjadi orang-orang yang sangat miskin, ada yang istrinya pembangkang, ada yang sangat kaya bahkan menjadi penguasa dari berbagai jenis makhluk hidup. Begitu juga manusia-manusia yang lain selain nabi. Sayangnya, yang terjadi sekarang adalah banyak manusia yang tidak mau menerima jika ia mempunyai jalan hidup yang cenderung seperti Ya’qub dan selalu memohon-mohon kepada Allah supaya ia menjadi seperti Sulaiman. Namun, beruntung juga keadaan seperti itu, karena bisa jadi dan sangat mungkin di dalamnya ada mutiara yang sangat indah jika ada yang mau memungutnya.

No comments:

Powered by Blogger.